Salim A. Fillah Klarifikasi Pencatutan Nama Terkait Film “Jejak Khilafah” HTI

1
2291

BincangSyariah.Com – Film Jejak Khilafah di Nusantara diluncurkan pada Minggu, 2 Agustus 2020. Poster film yang dibuat oleh Nicko Pandawa, menyebutkan ada beberapa orang yang menjadi panelis. Ada Ismail Yusanto, mantan Ketua DPP HTI Rokhmat S. Labib, dan Felix Siauw.

Teuku Zulkarnaen, Mizuar Mahdi, Alwi Alatas, Moeflich Hasbullah, dan Peter Carey, sejarawan yang meneliti Perang Diponegoro dan guru besar emeritus Trinity College, Oxford, tercantum menjadi panelis tamu.

Peluncuran film tersebut tak lepas dari protes beberapa tokoh yang dicacut tanpa meminta izin terlebih dahulu. Protes datang dari Peter Carey. Ia merasa panitia tak pernah meminta izin—mekanisme standar yang semestinya tak perlu diingatkan lagi oleh penyelenggara acara apa pun. Peter hanya melakukan wawancara dan menjelaskan fakta sejarah tentang apa yang dilakukan dan tidak dilakukan oleh Pangeran Diponegoro sehubungan dengan Kerajaan Utsmaniyah.

Tirto.id mewartakan bahwa Peter mengaku kecewa. Ia merasa kepakarannya di dalam studi Diponegoro dimanfaatkan oleh si pembuat film untuk melegitimasi pandangannya tentang khilafah di Indonesia—kendati terkesan dipaksakan. Baginya, pencatutan nama dan ucapan untuk menguatkan suatu argumen yang sebenarnya tidak dilandasi oleh landasan yang kuat, salah satunya kearsipan.

Mantan juru bicara HTI yang juga salah satu panelis, Ismail Yusanto, mengatakan panitia memang tidak melakukan konfirmasi terlebih dulu. Oleh karena itu mereka akan segera menemui Peter dan meminta maaf.

Selain Peter Carey, Salim A Fillah juga sangat menyesalkan namanya dicatut untuk propaganda tersebut. Di akun Facebook pribadinya, ia menyatakan mendukung Prof. Peter Carey dan Ki Roni Sodewo dalam menyatakan ketidaksetujuannya pada framing dan isi keseluruhan film. Ia juga meminta agar wawancara dengan mereka dihilangkan dari film.

Baca Juga :  Kejayaan Islam Bukan karena Khilafah, Ini Penjelasannya

Ustadz Salim menilai pihak yang memproduksi film saat mewancarai dirinya tidak berlaku jujur karena maksud dan tujuan wawancara tidak diungkap secara terbuka di awal lalu dijadikan bagian dari suatu narasi yang tidak disetujui oleh narasumber.

Lebih lanjut, Salim A. Fillah menegaskan bahwa ia bukan dan tidak pernah menjadi anggota HTI. Ia tetap dalam keyakinannya bahwa Pancasila dan NKRI adalah rumusan para Bapak Bangsa bersama Ulama Pejuang yang layak dijunjungtinggi dan dijaga oleh seluruh Bangsa Indonesia.

Ia menambahkan, “dapat diduga ada ketidakterbukaan kepada narasumber dalam hal ini Ki Roni Sodewo dan Prof. Peter Carey akan maksud, tujuan, dan keperluan penggunaan hasil wawancara tersebut sehingga ketika hasil wawancara dirilis sebagai film ‘Jejak Khilafah’ maka kedua beliau menyatakan keberatan. Hal ini tentu sangat disesalkan.”

Di bawah ini adalah pernyataan Salim A. Fillah tentang pencatutan nama Prof. Peter Carey dalam film dokumenter Jejak Khilafah:

  1. Saya bukan merupakan bagian dari tim film dokumenter ‘Jejak Khilafah’ dan tidak terlibat sedikitpun dari awal hingga akhir sebagai apapun juga di dalam perencanaan, produksi, maupun peluncurannya.
  2. Saya memang mengenal sebagian anggota tim film dokumenter ‘Jejak Khilafah’ sebagai sesama pihak yang punya perhatian terhadap sejarah dan berbagi melalui media sosial. Tetapi saling kenal itupun dalam batas tenggangrasa sebab kamipun memiliki latar belakang afiliasi ideologi pergerakan yang berbeda. Saya bukan dan tidak pernah menjadi anggota HTI serta tetap dalam keyakinan bahwa Pancasila dan NKRI adalah rumusan para Bapak Bangsa bersama ‘Ulama Pejuang yang layak dijunjungtinggi dan dijaga oleh seluruh Bangsa Indonesia.
  3. Tim film dokumenter ‘Jejak Khilafah’ pernah menghubungi saya untuk melakukan wawancara kepada saya, akan tetapi saat itu saya dalam jadwal kesibukan yang padat dan sampai saat ini wawancara dengan saya tersebut tidak pernah terjadi.
  4. Dalam komunikasi awal, tim juga menyampaikan kepada saya bahwa akan mewawancarai Ki Roni Sodewo (Ketum Patrapadi) dan Prof. Peter Carey. Saya mengatakan silakan saja. Saya kurang tahu jika persilakan saya ini lalu diartikan sebagai rekomendasi yang dibawa tim untuk meminta wawancara kepada kedua beliau. Pada prinsipnya, karena saya bukan bagian dari tim, saya tidak punya kepentingan apapun untuk memberi rekomendasi.
  5. Dapat diduga ada ketidakterbukaan kepada narasumber dalam hal ini Ki Roni Sodewo dan Prof. Peter Carey akan maksud, tujuan, dan keperluan penggunaan hasil wawancara tersebut sehingga ketika hasil wawancara dirilis sebagai film ‘Jejak Khilafah’ maka kedua beliau menyatakan keberatan. Hal ini tentu sangat disesalkan.
  6. Saya menyatakan mendukung Prof. Peter Carey dan Ki Roni Sodewo dalam menyatakan ketidaksetujuannya pada framing dan isi keseluruhan film lalu meminta agar wawancara dengan mereka dihilangkan dari film. Merupakan sebuah ketidakjujuran jika maksud dan tujuan wawancara tidak diungkap secara terbuka di awal lalu dijadikan bagian dari suatu narasi yang tidak disetujui oleh narasumber.
  7. Segala langkah hukum adalah hak masing-masing pihak yang harus dihormati bersama.
Baca Juga :  Refleksi Asyura, HTI, PKI dan Perjuangan Kita Hari Ini

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here