BincangSyariah.Com –Ada perbedaan pendapat tentang hukum pelaksanaan Salat Id (Idulfitri/adha). Namun umumnya mayoritas ulama mengatakan salat Id sangat dianjurkan untuk dilaksanakan secara berjamaah.

Sebagaimana salat berjamaah, biasanya akan ada adzan dan iqamat berkumandang. Sebagai pemberitahuan bahwa telah masuk waktu salat. Namun tidak dengan salat Id, sejak malam Ied takbir sudah dikumandangkan berulang-ulang, semua bersuka cita menyambut datangnya hari raya Idul Fitri.

Demikian juga yang dilakukan di masa Rasul, bahwa salat Id dapat dilaksanakan tanpa adzan dan iqamah. Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim berikut ini

وعن جابر بن سمرة ” شهدت مع النبي صلى الله عليه وسلم العيدين غير مرة ولا مرتين بغير أذان ولا إقامة ” رواه مسلم

Dari sahabat Jabir bin Samrah berkata, ‘Aku menyaksikan dua hari raya (Idulfitri&Adha) bersama Nabi Muhammad Saw, tidak hanya sekali atau dua kali, tanpa adzan dan iqamah’ (HR. Muslim)

Sementara dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari juga disebutkan hal yang sama dengan redaksi yang berbeda

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال : شهدت العيد مع رسول الله صلى الله عليه وسلم ومع أبي بكر وعمر وعثمان رضي الله عنهم فكلهم صلى قبل الخطبة بغير أذان ولا إقامة

Dari sahabat Ibnu Abbas berkata, ‘aku menyaksikan salat Id bersama Rasulullah Saw, Abu Bakar, Umar dan Ustman. Mereka semua salat sebelum melaksanakan khutbah tanpa adzan dan iqamah.

Ibnu Hajar mengatakan dalam Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, berdasarkan riwayat di atas dapat diketahui bahwa pada masa Nabi Muhammad Saw. salat Id dilakukan tanpa adzan dan iqamat. Adapun yang sunah adalah memanggil untuk jamaah salat Id dengan al-shalaatu jaami’atun sebab diriwayatkan dari Zuhri bahwa dia memanggil dengan kalimat demikian.

Baca Juga :  Antara Fitrah Manusia dan Jebakan-jebakan Iblis

Adapun riwayat dari Zuhri adalah hadis mursal yang diriwayatkan oleh Imam Syafi’i dalam kitab al-Umm dengan sanad yang lemah sebagaimana berikut

أخبرنا الثقة عن الزهري قال : ” { لم يكن يؤذن للنبي صلى الله عليه وسلم ولا أبي بكر ولا عمر ولا عثمان في العيدين } حتى أحدث ذلك معاوية بالشام وأحدثه الحجاج بالمدينة حين مر عليها قال الزهري : { وكان النبي صلى الله عليه وسلم يأمر في العيدين المؤذن فيقول : الصلاة جامعة

Meriwayatkan seorang yang jujur dari al-Zuhri, berkata, “Tidak ada adzan pada masa Nabi Saw., tidak juga Abu Bakar, tidak pula Umar, tidak pula Ustman pada hari raya Idulfitri dan adha. Hingga Muawiyah melakukannya di Syam dan Hajaj di Madinah, ketika Zuhri melewati mereka, ia berkata, ‘Nabi Saw menyuruh muadzin pada hari Id (idulfitri/adha) untuk berkata, “al-shalaatu Jaami’ah.”

Menurut Imam Syafi’i, panggilan “al-shalaatu Jaami’ah” pada hadis dhaif di atas dianalogikan dengan salat gerhana yang mana pada saat akan memulai salat gerhana Nabi Muhamad mengatakan al-Shalaatu Jaami’ah sebagai tanda salat akan didirikan sebagaimana terekam dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Berdasarkan hal tersebut menurut pendapat mayoritas ulama syafi’iyah mengatalan bahwa adzan adalah panggilan untuk shalat lima waktu sedangkan pada shalat Id umat islam menyambutnya tanpa perlu dipanggil, sebagai tanda suka cita akan datangnya hari raya idulfitri dengan memperbanyak membaca takbir sejak keluar dari rumah hingga sampai ke tempat salat Id. Dalam suatu riwayat disebutkan:

كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ فَيُكَبِّر حَتَّى يَأْتِيَ المُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْر

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar hendak shalat pada hari raya ‘Idul Fithri, lantas beliau bertakbir sampai di lapangan dan sampai shalat hendak dilaksanakan. Ketika shalat hendak dilaksanakan, beliau berhenti dari bertakbir.”

Wallahu’alam.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here