Salah Paham Tafsir Ayat Hakimiyah, Muara Tindakan Radikalisme

0
778

BincangSyariah.Com – Tindakan radikal yang dilakukan oleh sebagian umat muslim, bukanlah tindakan yang sifatnya balas dendam semata. Namun, sebuah tindakan yang didorong oleh faham tertentu yang berkaitan dengan sebuah ayat al-Qur’an. Dimana ayat tersebut disalahtafsirkan dan digunakan untuk membenarkan tindakan keras yang sudah ada di alam bawah sadar mereka, bahkan sebelum mereka membaca ayat tersebut. Para pengkaji radikalisme menyebut faham dan ayat tersebut sebagai faham dan ayat Hakimiyah.

Usamah Sayyid, salah satu dosen di Universitas al-Azhar dalam bukunya berjudul Islam Radikal menyatakan, pemikiran utama yang menjadi landasan semua konsep kaum radikalis adalah Faham Hakimiyah. Usamah yang menyatakan bahwa bukunya tersebut adalah bentuk tanggung jawab sejarah dari Universitas al-Azhar terhadap gerakan radikal, mengatakan bahwa Faham Hakimiyah tumbuh dan berkembang dalam Tafsir Fi Dzilalil Qur’an, karya Sayyid Qutub; tokoh rujukan Kaum Radikalis.

Ayat Hakimiyah

Ayat Hakimiyah dapat diartikan sebagai ayat yang mendorong untuk ber-hakim atau mengambil hukum dengan al-Qur’an. Ayat tersebut terdapat dalam surat al-Maidah ayat 44, 45 dan 47. Berikut bunyi ayat-ayat tersebut:

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (Q.S. Al-Maidah [05]: 44)

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. (Q.S. Al-Maidah [05]: 45)

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (Q.S. Al-Maidah [05]: 47)

Baca Juga :  Hukum Menyita Barang Orang yang Tak Mampu Bayar Utang

Sekilas bila diperhatikan tindakan Kaum Radikalis sudah sesuai dengan ayat tersebut. Yaitu menindak tegas orang-orang yang tidak mau memakai hukum dari al-Qur’an. Menindak dengan tindakan yang pantas untuk kaum kafir. Yaitu tindakan-tindakan yang jauh dari akhlak seorang muslim kepada muslim lainnya. Lalu, apakah memang benar seperti itu kenyatannya?

Pemahaman-pemahaman menyimpang kaum radikalis terhadap Ayat Hakimiyah akan tampak saat menghadapi pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

Pertama, apabila ada orang yang tidak menerapkan ajaran al-Qur’an, tapi ia meyakini kebenaran al-Qur’an, apakah ia lantas menjadi kafir? Perlulah diingat bahwa jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan sikap kita terhadap orang muslim yang belum kuat imannya, dan masih melakukan beberapa larangan-larangan Allah. Seperti pekerja yang tak jarang masih sering meninggalkan salat fardhu, muslimah yang terjebak sebagai pekerja seks komersial, atau bahkan preman yang sedang proses menjadi muslim yang baik.

Kedua, kalau ada orang yang tidak mampu menerapkan ajaran al-Qur’an sebab suatu hal, apakah lantas ia dianggap menentang al-Qur’an dan lantas dianggap orang kafir? Perlulah diingat bahwa jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan sikap kita terhadap orang muslim yang tidak bisa menerapkan ajaran Islam, sebab terbentur dengan peraturan tempat kerja dan negara.

Pada dua pertanyaan tersebut, Kaum Radikalis menjawab “Ya”. Ini tercermin dari tindakan-tindakan mereka pada negara berpenduduk muslim atau individu muslim yang masih enggan atau belum mampu menerapkan Syariat Islam secara menyeluruh. Maka muncullah Faham Takfir (mengkafirkan) yang berujung penghalalan jiwa, harta dan kehormatan umat muslim.

Komentar Pakar Mengenai Tafsir Ayat Hakimiyah

Saat memeriksa berbagai kitab tafsir, maka akan ditemukan bahwa Faham Hakimiyah tidaklah sesuai dengan pendapat para pakar tafsir. Ini dapat diketahui salah satunya lewat komentar al-ImamAIbn Katsir dalam tafsirnya. Ibn Katsir menyatakan bahwa surat al-Maidah ayat 44, 45 dan 47 turun berkenaan dengan orang Yahudi atau orang non muslim (Tafsir Ibn Katsir/3/120). Imam ar-Razi dalam Tafsir Mafathul Ghaib menyatakan bahwa, surat al-Maidah ayat 44 berkenaan orang Yahudi yang hendak merubah hukum Allah terkait hukuman pezina yang memiliki pasangan yang sah (Tafsir Mafathul Ghaib/6/68).

Baca Juga :  Menyikapi COVID-19 dengan Optimis dan Waspada Ala Ulama

Imam Al-Alusi dalam Tafsir Ruhul Ma’ani juga mengatakan demikian. Bahkan beliau dan Imam ar-Razi menegaskan bahwa ayat tersebut disalah gunakan kaum Khawarij untuk mengkafirkan orang fasik yang dalam hatinya membenarkan al-Qur’an. Padahal ayat tersebut hanya berkaitan dengan keyakinan semata. Tidak berlaku pada orang fasik atau orang yang secara dhahir tidak menjalankan syariat Islam, tapi dalam hati masih membenarkannya (Tafsir Ruhul Ma’ani/4/500).

Ayat Hakimiyah berkaitan dengan keyakinan semata dibuktikan bahwa dalam berbagai riwayat, dinyatakan bahwa al-Maidah ayat 44, 45, dan 47 berkenaan dengan non muslim. Imam al-Alusi memaparkan bahwa berdasar riwayat Ibn Abbas ayat itu turun berkenaan orang Yahudi, dan dari riwayat Abi Shalih, Ad-Dhahak, serta ‘Ikrimah berkenaan orang kafir secara umum. Lagipula, kalau keyakinan dan tindakan kaum radikalis itu benar, apakah seperti itu cara dakwah yang dicontohkan Nabi Muhammad saat menghadapi muslim yang melakukan dosa? Coba simak dalam sejarah kenabian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here