Sahkah Zakat Fitrah Tanpa Ijab Kabul?

0
8278

BincangSyariah.Com – Memasuki akhir-akhir ramadan umat Islam diwajibkan untuk mengeluarkan zakat fitrah. Walaupun ada yang membolehkan pelaksanaanya saat memasuki bulan ramadan. Pada dasarnya, zakat fitrah tersebut berguna untuk menyucikan harta. Karena setiap harta manusia ada sebagian hak orang lain. Tidak ada alasan apapun bagi seorang hamba Allah yang beriman untuk tidak menunaikan zakat fitrah. Perintah tersebut telah diwajibkan bagi setiap muslim, laki-laki maupun perempuan, orang merdeka atau budak, anak kecil atau orang dewasa. Ini perkara yang telah disepakati oleh para ulama.

Di era kemajuan teknologi saat ini, seseorang yang akan menunaikan kewajiban membayar zakat fitrah telah diberi kemudahan. Orang yang akan memberikan zakat (muzakki) tidak perlu bertatap muka, atau melakukan ijab kabul dengan yang menerima zakat (mustahik). Hal itu bisa melalui pesan singkat (SMS, Whatapps) bahkan ditranfer melalui Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Lalu, bagaimana hukumnya membayar zakat fitrah tanpa ijab kabul? Apakah zakat tersebut tetap sah?

As-Suyuthi (ulama syafi’iyah) dalam karyanya tentang kaidah fikih, Al-Asybah wa An-Nadzair, membagi beberapa akad muamalah berdasarkan ada tidaknya ijab kabul menjadi lima bagian. Beliau mengatakan,

تقسيم ثالث من العقود ما لا يفتقر إلى الإيجاب ، والقبول لفظا . ومنها : ما يفتقر إلى الإيجاب والقبول لفظا . ومنها : ما يفتقر إلى الإيجاب لفظا ، ولا يفتقر إلى القبول لفظا . بل يكفي الفعل . ومنها : ما لا يفتقر إليه أصلا ، بل شرطه : عدم الرد ومنها : ما لا يرتد بالرد . فهذه خمسة أقسا

“Pembagian yang ketiga dalam akad; akad yang tidak membutuhkan ijab kabul dengan dilafalkan. Akad yang membutuhkan ijab kabul dengan dilafalkan. Akad yang membutuhkan ijab dengan dilafalkan dan tidak membutuhkan kabul dengan dilafalkan, namun cukup tindakan. Akad yang tidak membutuhkan ijab kabul sama sekali, bahkan syaratnya, tidak bisa dibatalkan. Akad yang tidak bisa kembali, meskipun dibatalkan. Itulah lima pembagian akad”

Baca Juga :  Benarkah Bersiul dan Tepuk Tangan Diharamkan Dalam Islam?

Kemudian beliau menyebutkan contohnya masing-masing. Diantara contoh yang beliau sebutkan,

فالأول منه : الهدية ، فالصحيح أنه لا يشترط فيها الإيجاب والقبول لفظا ، بل يكفي البعث من المهدي ، والقبض من المهدى إليه… ومنه : الصدقة قال الرافعي : وهي كالهدية ، بلا فرق

“Contoh yang pertama, hadiah. Pendapat yang benar, tidak disyaratkan adanya ijab kabul dengan dilafalkan. Namun cukup memberikan hadiah dari si pemberi, dan diterima oleh orang yang mendapatkannya… termasuk juga; sedekah. Ar-Rafii mengatakan, ‘Sedekah seperti hadiah, tidak ada perbedaan.” (Al-Asybah wa An-Nadzair, 1/468)

Prinsip dalam ijab kabul adalah perbuatan atau pernyataan untuk menunjukkan suatu keridaan dalam berakad di antara dua orang atau lebih. Berdasarkan pengertiaan di atas, dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan ijab kabul adalah suatu yang sengaja dilakukan oleh kedua belah pihak berdasarkan persetujuan masing-masing dan menunjukan kehendak kedua belah pihak.

Mengingat kecanggihan teknologi hari ini, ijab kabul antara muzakki dengan mustahik memang sudah tidak dibutuhkan lagi. Bahkan dalam jual beli yang memperhatikan masalah ijab kabul tetap bisa dilakukan secara online atau telepon. Bahkan, kemudahan transaksi keuangan yang didukung perbankan orang seseorang tidak lagi susah payah membayar zakat. Bisa melalui ATM, SMS banking atau internet banking.

Menurut Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili dalam bukunya Al-Fiqh al-Islam wa adillatuhu, bahwa menunaikan zakat harus terdapat akad penyerahan dan penerimaan zakat (wajib adanya ijab kabul). Jika tidak, maka zakatnya dianggap sebagai sedekah atau sunah saja. Ijab kabul zakat hendaknya disebutkan secara jelas yaitu dengan menyatakan: “Aajaraka Allahu fi maa a’thaita wa baraka fi maa abqaita” (mudah-mudahan Allah memberikan pahala pada harta yang telah engkau berikan dan mudah-mudahan pula Allah memberikan keberkahan pada harta anda yang lainnya). Baik itu ditunaikan secara langsung kepada mustahik atau melalui wakilnya atau petugas BAZ/LAZ.

Baca Juga :  Hukum Puasa bagi Musafir

Ada juga ulama yang menjelaskan bahwa ijab kabul di dalam penyerahan harta zakat sesungguhnya bukan hal yang mutlak menjadi syarat. Sehingga, bila tidak ada ijab kabul dalam zakat, maka zakat itu menjadi sah. Banyak pakar dan pegiat zakat menjelaskan bahwa pembayaran zakat di masa datang, tak akan dikenali lagi ijab kabul. Jadi, orang tak lagi membaca doa pemberi zakat dan si penerima zakat tak perlu lagi mengucapkan doa penerima zakat sambil bersalaman.

Ada juga ulama fikih menegaskan sah atau tidaknya zakat semuanya tergantung niatnya. Oleh karena itu, orang yang membayarkan zakatnya harus dengan niat membayar zakat, baik diucapkan maupun tidak diucapkan secara langsung. Adapun pelaksanaan niat itu ialah pada waktu melaksanakan zakat apakah hamba Allah memberikannya langsung kepada mustahik atau melalui lembaga zakat seperti BAZ/LAZ.

Zakat itu dilaksanakan karena diperintahkan diwajibkan oleh Allah, berharap semoga zakatnya diterima oleh Allah yang dengan sendirinya ia akan mendapat pahala balasan dan penuh keyakinan. Hal itu didasarkan kepada alquran surat al-bayyinah (98:5):

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

”Mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.”

Hematnya, inti ijab kabul yaitu yang menunjukkan keridaan dan keikhlasan dalam hati saat menyerahkan zakat. Artinya, tanpa ijab kabulpun zakat yang ditunaikan itu tetap sah. Apalagi di zaman kemajuan teknologi saat ini sangat mudah dipergunakan untuk berzakat. Oleh karena itu, jika menyerahkan zakat secara langsung berarti sudah ada ijab kabul, namun perlu dipertegas niat dalam berzakat (secara jelas melafalkannya atau di dalam hati). Menurut ulama fikih memberikan zakat langsung ke mustahik juga dinilai sah. Namun, tidak ada salahnya jika pembayaran zakat itu melalui amil zakat, karena akan lebih banyak manfaatnya di samping sebagai syiar Islam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here