Sahkah Shalat Berjamaah dengan Jin?

0
472

BincangSyariah.Com – Seorang ulama kharismatik, pakar hadis asal India, Syaikh Muhammad Abdul Hayy al-Luknawi (w. 1304 H) menulis sebuah karya berjudul Tadwir al-Falak fi Husul al-Jama’ah bi al-Jinn wa al-Malak. Dari judulnya, karya ini mencoba mengulas tentang keabsahan hukum berjamaah dengan jin dan malaikat. Sebuah tema yang mungkin di masa yang serba modern ini, sulit dibayangkan. Tapi, buku yang ditulis kira-kira 100 sekian tahun yang lalu itu, menunjukkan persoalan ini masih populer di masanya.

Salah satu riwayat yang dijadikan dasar tentang keabsahan berjamaah dengan jin adalah kisah Abdullah bin Mas’ud Ra. seperti diabadikan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya. Suatu ketika, Abdullah bin Mas’ud Ra. pernah diajak Rasulullah Saw. untuk terjaga sepanjang malam. Rasulullah Saw. waktu itu berujar, “ayo dua orang ikut saya. Tapi mereka berdua hatinya harus bersih tidak ada keburukan”. Ikutlah Ibn Mas’ud dan ia membawa wadah yang ia perkirakan isinya air. Saat mereka keluar sampai daerah tertinggi di Mekkah, Ibn Mas’ud melihat gumpalan hitam mengumpul. Rasulullah lalu membuat garis untuk Ibn Mas’ud. Kata beliau, “berdisi saja disini sampai saya kembali.”

Saya (Ibn Mas’ud) berdiri saja. Rasulullah Saw. pun pergi ke gumpalan hitam tadi sampai saya lihat mereka bermusyawarah dengan Nabi Saw. Rasulullah Saw. sepanjang malam berada di sana sampai menemui saya lagi saat fajar. Nabi Saw. berkata, “kamu tetap berdiri disitu Ibn Mas’ud !” Aku bilang, “engkau sendiri yang memerintahkanku untuk berdiri disini sampai engkau datang”. Kemudian Rasul bertanya, « kamu punya air untuk berwudhu (wadhu’) ? » Saya bilang, « ada ! » Saat saya buka, ternyata isinya adalah perasan kurma. Rasulullah Saw. Hanya bersabda, « kurma yang bagus dan airnya suci ». Rasulullah Saw. Berwudhu saja dengan air perasan kurma itu. Saat beliau ingin melaksanakan shalat, datanglah dua orang menyalami beliau. Lalu mereka memohon, “Wahai Rasul, kami senang jika engkau mengimami kami dalam shalat. Rasulullah Saw. menyalami mereka berdua. Kami pun shalat bersama. Setelah itu, saya bertanya, “siapa mereka wahai Rasul ?” Rasulullah bersabda, “mereka itu jin nashib. Mereka datang untuk mengkonsultasikan masalahnya kepadaku. Mereka juga meminta aku menyediakan makan, aku lalu memberikannya” Ibn Mas’ud bertanya, “dengan apa Engkau berikan makan ?” Rasulullah Saw. menjawab: “aku beri mereka yang masih mentah. karena mereka tidak menemukan kotoran tapi adanya gandum. Mereka tidak menemukan tulang, adanya kulit.” Sejak saat itu, Rasulullah Saw. mengatakan bahwa kita dilarang memanfaatkan tulang dan kotoran.

Baca Juga :  Hukum Mengkhayal Shalat Berjamaah Bersama Istri

Meski tidak banyak, tapi para ulama punya perhatian yang cukup besar terhadap persoalan ini. Seorang ulama asal Damaskus, al-Qadhi Badruddin Muhammad bin ‘Abdullah al-Syibli al-Hanafi menulis kitab berjudul Aakaam al-Marjan fi Ahkam al-Jan. Kitab itu bisa dikategorikan sebagai kitab yang khusus membahas segala persoalan terkait jin. Ada juga karya Imam al-Suyuhi yang berjudul Luqath al-Marjan fi Akhbar al-Jan.

Intinya, para ulama umumnya sepakat bahwa jika seseorang berjamaah dengan imam yang dari kalangan jin, atau sebaliknya, maka shalat jamaahnya sah. Ini dikarenakan jin dan manusia sama-sama disyariatkan untuk beribadah kepada Allah. Karena itu, ada jin yang beriman dan ada yang ingkar terhadap syariat tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here