Sahkah Jual-Beli Tanpa Akad?

0
2890

BincangSyariah.Com – Salah satu rukun jual beli adalah sighat atau ucapan timbal balik antara penjual dan pembeli yang menunjukkan kerelaan dari keduanya. Namun demikian, dalam praktek jual beli sehari-hari di tengah masyarakat jarang sighat akad jual beli ini diucapkan. Biasanya cukup pembeli memberi uang dan mengambil barang yang ingin dibelinya tanpa ijab dan qabul. Bagaimana hukum akad jual beli tanpa sighat, apakah sah?

Dalam fiqih, jual beli tanpa sighat ijab dan qabul disebut dengan jual beli mu’thah atau tanpa sighat. Menurut kebanyakan ulama Syafiiyah, jual beli mu’thah hukumnya tidak sah karena salah satu rukun jual beli tidak terpenuhi, yaitu sighat ijab dan qabul. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Fiqh ‘ala Mazahibil Arba’ah berikut;

الشافعية ــــ قالوا: لاينعقد البيع إلا بالصيغة الكلامية أو مايقوم مقامها من الكتاب والرسول، وإشارة الأخرس المعلومة، أما المعاطاة فإن البيع لاينعقد بها

“Ulama Syafiiyah berkata, ‘Tidak sah jual beli kecuali dengan sighat berupa ucapan atau sesuatu yang bisa menempati di posisinya seperti tulisan, utusan, dan isyarat yang diketahui bagi orang bisu. Adapun jual beli tanpa sighat, maka tidak sah.”

Dalam kitab al-Majmu, Imam Nawawi menjelaskan bahwa akad jual beli tanpa sighat masih diperselisihkan keabsahannya oleh para ulama. Sebagian menilai tidak sah, sebagian lagi menilai sah asal sudah diketahui kedua belah pihak sama-sama ridha.

صورة المعاطاة التي فيها الخلاف السابق: أن يعطيه درهماً أو غيره ويأخذ منه شيئاً في مقابلته، ولا يوجد لفظ أو يوجد لفظ من أحدهما دون الآخر، فإذا ظهر ـــ والقرينة وجود الرضى من الجانبين ـــ حصلت المعاطاة، وجرى فيها الخلاف

“Bentuk dari jual beli mu’athah yang terjadi perbedaan pendapat di atas ialah pembeli memberikan uang pada penjual dan pembeli mengambil barang dari penjual sedagai gantinya, dan tidak ada kalimat yang menyatakan ijab dan qabul. Maka jika secara zahir ada kerelaan di antara keduanya (pembeli dan penjual), maka itulah yang dinamakan jual beli mu’thah, dan dalam jual beli mu’athah terjadi perbedaan ulama terkait keabsahannya.”

Baca Juga :  Apakah Ijab Kabul Tanpa Berwudhu Sah?

Namun demikian, Imam Ghazali lebih cenderung membolehkan akad jual beli tanpa sighat ijab dan qabul terutama dalam benda-benda yang tidak terlalu berharga. Selain karena sulit untuk selalu mengucapkan ijab dan qabul, biasanya juga antara penjual dan pembeli sudah sama-sama ridha meskipun tanpa sighat,

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Fiqh ‘ala Mazahibil Arba’ah berikut;

وقد مال صاحب الإحياء إلى جواز البيع في الأشياء اليسيرة بالمعاطاة لأن الإيجاب والقبول يشق في مثلـها عادة

“Imam Ghazali dalam kitab Ihya condong kepada bolehnnya jual beli mu’athah (tanpa sighat) dalam benda-benda yang ringan, karena ijab dan qabul dalam jual beli benda-benda yang ringan biasanya sulit.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here