Sabda Nabi Saw. Tentang Mencegah Budaya Korupsi

0
970

 BincangSyariah.Com – Salah satu hadis yang sering digunakan sebagai dalil diharamkan sogok menyogok atau tindakan yang berkaitan dengan korupsi adalah,

لعن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – الراشي والمرتشي

Rasulullah Saw. melaknat mereka yang menyogok dan yang menerima sogokan

Hadis ini diriwayatkan diantaranya oleh Imam Abu Dawud dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi menilai hadis ini shahih. Dalam riwayat Ahmad, ada kalimat tambahan fi al-hukmi sebagai kata terakhir pada kalimat hadis tersebut.

Hadis ini adalah diantara dalil tentang larangan memakan harta yang menjadi hak orang lain sebenarnya, dengan cara yang batil. Budaya korupsi dan mendapatkan harta dengan cara yang tidak baik ini sudah dikritik Nabi Saw. Selain disebutkan dalam ayat-ayat yang berbicara tentang larangan memakan harta orang lain dengan cara yang batil.

Beliau misalnya mengkritik para pekerja yang meminta imbalan atas pekerjaan yang sudah menjadi kewajibannya. Kira-kira, narasi cerita dalam hadis tersebut, mirip dengan apa yang hari kita kenal sebagai gratifikasi yaitu pemberian imbalan kepada pejabat publik terkait dengan jabatannya. Atau model lain yang hari ini dikelompokkan sebagai korupsi, misalnya pungutan liar (pungli), uang pelicin, dan sejenisnya.

Kisah ini bahkan dialami oleh Nabi Saw. sendiri, dan direkam dalam hadis riwayat al-Bukhari dari Abu Humaid as-Saa’idi,

 استعمل رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا على صدقات بنى سليم يدعى ابن اللُّتْبِيَّة, فلما جاء حاسبه, قال: هذا مالكم, وهذا هدية, فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: فهلَّا جلستَ في بيت أبيك وأمك حتى تأتيك هديتك إن كُنْتَ صادقا؟! ثم خطبنا فحمد الله وأثنى عليه ثم قال: أما بعد فإني أستعمل الرجل منكم على العمل مما ولاني الله, فيأتي فيقول: هذا مالكم, وهذا هدية أهديت لي! أفلا جلس في بيت أبيه وأمه حتى تأتيه هديته؟! والله لا يأخذ أحد منكم شيئاً بغير حقه إلا لقِيَ الله يحمله يوم القيامة, فلَأعرِفَنَّ أحداً منكم لقي الله يحمل بعيراً له رُغاء، أو بقرة لها خُوار, أو شاة تيعر, ثم رفع يديه حتى رؤى بياض إبطيه يقول: اللهم هل بلغت

Baca Juga :  Siapakah Orang Paling Lemah Menurut Rasulullah?

Rasulullah Saw. mempekerjakan seseorang untuk menarik sedekah Bani Salim, namanya Ibn al-Latbiyyah. Ketika ia datang untuk menghitung hartanya, ia kemudian mengatakan “ini harta kalian dan ini hadiah buat saya (mengambil bagian)”. (Mendengar hal itu) Rasulullah Saw. bersabda, “Maka tidakkah lebih baik engkau duduk saja di rumah ayah dan ibumu sambil menunggu hadiah itu diberikan, jika engkau memang jujur!” Kemudian beliau berpidato di hadapan kami, dimulai dengan memuji Allah lalu berkata, “Sesungguhnya aku mempekerjakan seseorang untuk pekerjaan yang Allah perintahkan kepadaku, kemudian orang tadi berkata, “ini harta kalian dan ini (bagian) untuk dihadiahkan kepadaku”. Bukankah duduk di rumah orang tua dan diberikan hadiah? Demi Allah, siapapun yang mengambil sesuatu dari harta orang lain dengan cara yang tidak benar, ia akan menemui Allah di akhirat dengan membawa harta (yang dianggapnya hadiah) itu. Lalu aku sungguh bakal tahu karena ada yang membawa unta namun masih terus bersuara, atau sapi, atau kambing yang terus mengembik. Kemudian Rasulullah mengangkat kedua tangannya sampai kelihatan putih kedua ketiaknya lalu berkata, “Ya Allah, Aku telah sampaikan dengan sejelas-jelasnya!” 

Begitu jelas karena dari hadis ini, dapat dipahami bahwa Nabi Saw. melakukan pencegahan terhadap perilaku yang mengarah kepada yangd dikenal hari ini sebagai korupsi atau mengambil hak orang lain dengan cara yang zalim. Ini misalnya terbukti dari perdebatan ulama soal bolehkah memberikan uang pelicin untuk perkara yang kita sebenarnya berhak terhadapnya? Atau uang pelicin ini berguna untuk membebaskan orang yang tidak bersalah? Sebagian mengatakan boleh dilakukan bagi pemberinya, tapi bagi penerimanya, baik penegak hukum atau apapun, tetap haram. Ini yang dimaksud dalam pengecualian di dalam kaidah fikih,

Baca Juga :  Benarkah Zara Zettira Menghina Pesantren terkait Tradisi Bisyarah?

ما حرم أخذه، حرم إعطائه

Apa yang haram diterima/dipungut, haram juga diberikan.

Kembali kepada pembahasan hadis diatas, Imam an-Nawawi mengomentari hadis diatas sebagai berikut,

وفي هذا الحديث بيان أن هدايا العمال حرام وغلول لأنه خان في ولايته وأمانته، ولهذا ذكر في الحديث في عقوبته وحمله ما أهدي إليه يوم القيامة كما ذكر مثله في الغال، وقد بين صلى الله عليه وسلم في نفس الحديث السبب في تحريم الهدية عليه وأنها بسبب الولاية بخلاف الهدية لغير العامل فإنها مستحبة

Di dalam hadis ini ada penjelasan bahwa hadiah kepada pegawai (yang sudah ditugaskan) itu haram dan bentuk penipuan. Karena yang menerimanya telah berkhianat atas amanah dan kekuasaannya. Karena inilah dalam hadis itu disebutkan hukumannya berupa membawa apa yang diterimanya sebagai hadiah (yang haram tadi) di hari kiamat. Dan, Rasulullah juga sudah menjelaskan di dalam hadis itu sebab haramnya menerima hadiah bagi pegawai, yaitu karena jabatannya. Ini berbeda dengan hadiah yang diberikan kepada yang selain pegawai. Kalau hadiah seperti itu dianjurkan.

Semoga kita terhindar dari perilaku mengambil hak orang lain secara semena-mena, apalagi merasa benar saat melakukannya. Na’udzu Billah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here