Sabar dan Menanti Berakhirnya Musibah Adalah Ibadah

1
27

BincangSyariah.Com – Sabar dan menanti berakhirnya musibah adalah ibadah. Mengapa demikian? Sebab, siklus hidup manusia selalu mengalami perubahan, senang-susah, sehat-sakit, cukup-kurang, dan seterusnya.

Bahkan, umat Islam akan selalu mengalami berbagai ujian dari Allah sampai ajal menjemput mereka. Rasulullah bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى  الله عليه وسلم- )مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِى نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ(

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Musibah akan selalu dialami mukminin dan mukminat, dalam diri, anaknya, dan hartanya, sampai dia bertemu Allah dan dirinya tidak lagi memiliki dosa sedikitpun”. (HR, Turmudzi)

Namun, manusia yang beriman tidak akan menyerah dengan ujian yang menimpanya, mereka akan selalu kembali bangkit, tegar, mengharapkan kemudahan dan kebahagiaan dari Allah SWT. Rasulullah bersabda:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ )مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ خَامَةِ الزَّرْعِ، يَفِىءُ وَرَقُهُ مِنْ حَيْثُ أَتَتْهَا الرِّيحُ تُكَفِّئُهَا، فَإِذَا سَكَنَتِ اعْتَدَلَتْ، وَكَذَلِكَ الْمُؤْمِنُ يُكَفَّأُ بِالْبَلاَءِ، وَمَثَلُ الْكَافِرِ كَمَثَلِ الأَرْزَةِ صَمَّاءَ مُعْتَدِلَةً حَتَّى يَقْصِمَهَا اللَّهُ إِذَا شَاءَ (

Dari Abu Hurairah RA. Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan orang mukmin adalah bagaikan benih tanaman yang mulai tumbuh, yang daunnya bergoyang ke mana saja arah angin membawanya. Ketika anginnya telah tenang, maka daun itu pun ikut tenang. Demikianlah orang-orang yang beriman dia akan digoyang dengan musibah. Perumpamaan orang kafir, seperti kayu besar, keras dan lurus. Allah akan merobohkan kayu tersebut jika menghendakinya”. (HR. Bukhari)

Dengan demikian, kaum mukminin diharapkan bisa menyikapi setiap musibah yang menimpanya dengan baik, sesuai dengan yang diajarkan oleh Islam. Perlu digarsibawahi bahwa sabar dan menanti berakhirnya musibah adalah ibadah.

Islam mengajarkan agar orang-orang yang berimana menghadapi musibah dengan cara rela, bersabar, selalu berusaha, dan optimis bahwa musibah tersebut akan segera berakhir, kemudian berganti menjadi kemudahan dan kejayaan.

Dalam sebuah hadis Qudsi Allah mengancam siapa saja yang tidak rela dan sabar atas musibah yang diturunkan kepadanya:

عَنْ أَبِي هِنْدٍ الدَّارِيِّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى:مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِي وَيَصْبِرْ عَلَى بَلائِي فَلْيَلْتَمِسْ رَبًّا سِوَايَ.

Dari Abu Hindin ad-Dari berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Allah Taabaaraka wa Ta’ala berfirman: Siapa saja yang tidak ridha dengan ketentuanKu dan tidak sabar atas musibahKu, hendaklah dia mencari tuhan selain Aku”. (HR. Thabrani)

Kerelaan dalam menghadapi musibah tercermin dalam perkataan Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab ar-Ridha anillah bi Qadhaaihi meriwayatkan dari hukama (orang-orang bijak), “Allah memiliki hamba-hamba yang bisa menghadapi musibah dengan gembira. Mereka adalah orang-orang yang hatinya telah jerih dari duniawi.”

Agar bisa bersabar, kita harus percaya, dunia ini adalah tempat ujian bagi orang-orang yang beriman, bukan tempat pembalasan amal. Kita juga harus yakin dengan janji ampunan dan derajat surga yang akan diberikan Allah untuk orang-orang yang bersabar.

Allah telah bersabda:

… إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“…Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Dalam sabdanya, Rasululah menjanjikan derajat surga bagi orang-orang yang sabar:

حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم : إِنَّ الرَّجُلَ لِيَكُونُ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ الْمَنْزِلَةُ، فَمَا يَبْلُغُهَا بِعَمَلٍ فَمَلا يَزَالُ اللَّهُ يَبْتَلِيهِ بِمَا يَكْرَهُ، حَتَّى يُبَلِّغَهُ إِيَّاهَا

Abu Hurairah bercerita kepadaku, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seseorang kelak akan mendapatkan derajat surga di sisi Allah. Dia tidak mendapatkan derajat tersebut karena sebuah amal, namun Allah tidak henti-hentinya mengujinya dengan sesuatu yang tidak menyenangkan, sehingga Allah menghantarkan dirinya pada derajat tersebut”. (HR. Ibnu Hibban).

Rasulullah juga menjanjikan pengampunan dalam sabdanya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، وَأَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَا يُصِيبُ الْمَرْءَ المؤمن مِنْ نَصَبٍ، وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حَزَنٍ، وَلاَ غَمٍّ وَلاَ أَذًى حَتَّى الشَّوْكَةَ يُشَاكُهَا، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا خَطَايَاهُ.

dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id Al Khudri bahwa Nabi SAW Bersabda: “Tidaklah seorang mukmin tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kegundahan dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan dengannya Allah akan menghapus dosa-dosanya.” (HR. Ibnu Hibban)

Selain itu kita juga bisa belajar melalui nasehat para ulama terdahulu, salah satunya adalah Qadhi Syuraih yang diceritakan al-Baihaqi dalam Syuabul Iman.

Qadhi Syraih mengatakan, ketika aku tertimpa musibah, maka aku bersyukur kepada Allah atas empat hal. Pertama, aku tidak mengalami musibah yang lebih besar dari pada musibah yang sedang aku alami. Kedua, aku bersyuruh karena diberi kesabaran atas musibahku. Ketiga, aku bersyukur karena diberi pertolongan untuk membaca istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi rajiun) sehingga itu menjadi pahala bagiku. Keempat, aku bersyukur musibah tersebut tidak menimpa agamaku.

As-Samarqandi dalam Tanbihul Ghafilin mengutip perkatanaan Ibnu al-Mubarak, “Musibah itu sebenarnya hanya satu. Ketika orang yang tertimpa musibah mengeluh, maka musibah tersebut menjadi dua. Pertama, musibah itu sendiri. Kedua, hilangnya pahala musibah. Padahal, hilangnya pahala musibah lebih besar dari pada musibah itu sendiri.”

Sealain rela dan sabar, hal lain yang bisa dikerjakan untuk mendapatkan pahala musibah adalah dengan cara berdoa dan menunggu berakhirnya musibah tersebut. Rasulullah bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:سَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ، فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ أَنْ يُسْأَلَ، وَأَفْضَلُ الْعِبَادَةِ انْتِظَارُ الْفَرَجِ.

Dari Abdullah berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Mintalah anugerah Allah, sesungguhnya Allah azza wa jalla senang apabila dimintai, dan sebaik-baik ibadah adalah menantikan datangnya kebahagiaan”. (HR. Thabrani)

Dengan demikian, semoga kita bisa menyikapi setiap musibah dan bencana dengan benar, agar semuanya bernilai ibadah dan agar kita sadar bahwa kita adalah makhluk yang lemah dan selalu membutuhkan perlindungan dan pertolongan Allah.

Semoga, tulisan tentang sabar dan menanti berakhirnya musibah adalah ibadah bermanfaat bagi banyak orang. Wallahu A’alam.[]

(Baca: Ngaji al-Hikam: Cara Meringankan Pedihnya Musibah)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here