Saat Perjalanan Lebih Baik Salat Sempurna atau “Jamak Qashar”?

0
4989

BincangSyariah.Com – Men-jamak dan meng-qashar salat adalah salah satu dispensasi yang diberikan Allah berikan kepada hambanya yang sedang berpergian. Tetapi tidak semua perjalanan mendapatkan dispensasi tersebut, hanya yang telah memenuhi syarat dan ketentuannya.

Di antara syaratnya adalah pertama, perjalanan itu telah mencapai jarak 81 km lebih.

Kedua, perjalanan itu memiliki tujuan yang jelas, maka tidak boleh men-jamak atau meng-qashar salat bagi orang yang tidak memiliki tujuan atau hanya mengikuti sopir yang tidak tahu ia mau pergi kemana.

Ketiga, perjalanannya itu bukan untuk maksiat, seperti untuk berjualan miras atau hendak mencopet. Karena men-jamak dan meng-qashar salat itu bagian dari rukhsah atau dispensasi yang tidak ada urusannya dengan maksiat.

Namun sebenarnya lebih baik mana salat sempurna atau jamak qashar salat ketika perjalanan?

Terkait hal ini, maka terdapat beberapa hukum sesuai dengan alasan atau dalil yang dijadikan landasan sebagaimana yang telah disebutkan di dalam kitab kitab fiqh berikut ini:

Pertama, wajib meng-qashar salat. Seandainya ia mengakhirkan salat dan waktu salat tinggal sedikit. Yakni waktu salat tidak mencukupi kecuali dengan di-qashar, maka wajib men-jamak plus meng-qashar salat dengan niat jamak ta’khir salat zuhur ke salat asar. Misal ia tidak bisa segera shalat karena kendaraan masih di tol sedang waktu salat asar tinggal sedikit serta tidak cukup waktu untuk dilakukan salat empat rakaat.

Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Albajuri karya imam Ibrahim al Bajuri:

قد يجب القصر كما لو أخر الصلاة الى أن بقي من وقتها ما لايسعها الا المقصور فانه يجب عليه حينئذ القصر لو أتمها لزوم اخراج بعض الصلاة عن وقتها مع تمكنه من ايقاعها في الوقت وقد يجب القصر والجمع معا كما لو أخر الظهر الى وقت العصر بنية الجمع ولم يصل حتى بقي من وقت العصر ما يسع اربع ركعات فانه يجبعليه حينئذ القصر والجمع.

Terkadang qashar hukumnya menjadi wajib ketika seseorang mengakhirkan waktu salat sehingga yang tersisa hanya waktu yang cukup untuk salat qashar saja, maka pada saat itu salat qashar karena jika dia salat sempurna pasti akan sebagian rakaat salat keluar dari waktu salat, sedangkan waktu itu dia mampu melaksanakan shalat di waktunya jika di-qashar. Maka pada kondisi itu wajib shalat jamaah qashar. Contohnya, jika niat menggabungkan shalat zuhur dan ashar di waktu ashar tapi kemudian dia tidak salat sehingga hanya tersisa waktu yang hanya cukup untuk melaksanakan shalat 4 rakaat saja, maka pada kondisi demikian wajib baginya meng-qashar shalat.”

Baca Juga :  Hukum Shalat Jumat bagi Musafir

Kedua, sunah meng-qashar salat dalam perjalanan yang sudah mencapai 3 marhalah (142 km).

Hal ini juga telah dijelaskan oleh imam Ibrahim al Bajuri di dalam kitabnya:

ان بلغ سفره ثلاث مراحل ولم يختلف في جواز قصره فالأفضل القصر لإتباع وخروجا من خلاف أبي حنيفةفانه يوجب القصر حينئذ

Jika jarak tempuh telah mencapai tiga marhalah dan tidak menyalahi aturan kebolehan meng-qadha salat, maka pada waktu itu lebih diutamakan qashar sebagai ittiba (mengikuti sunah) dan keluar dari ranah selisih pendapat Abu Hanifah yang mengatakan bahwa pada kondisi itu qashar wajib hukumnya

Ketiga, lebih baik tidak men-jamak salat (secara mutlak). Kecuali jika ia tidak men-jamak salat maka ia akan salat sendirian dan tidak berjamaah, maka men-jamak salat ini lebih baik daripada meninggalkan jamaah. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh imam Abu Bakar al Ahdali dalam nadzam

 وما يكون تركه هو الاتم# …,……………………………

……………………..#………………………….كالجمع

Keempat, makruh meng-qashar salat dalam perjalanan yang belum mencapai 3 marhalah dan tidak dibawah 2 marhalah. Jadi lebih baik menyempurnakan salat empat rakaat, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh imam Abu Bakar al Ahdali dalam Nadzam Qawaid Fiqhiyyah

كالجمع أومكروهة كالقصر في # دون ثلاثة مراحل تفي

Seperti jamak atau makruh seperti qashar # kurang dari tiga marhalah maka sempurnakan.”

Kelima, boleh meng-qashar salat tetapi lebih baik menyempurnakan bagi orang yang berpergian lewat jalur laut, dan ia disertai keluarganya di dalam perahu serta bagi orang yang melakukan berpergian terus menerus.

Berbeda dengan pendapat imam Ahmad yang mewajibkan meng-qashar shalat bagi orang tersebut. Sebagaimana keterangan imam Ibrahim al Bajuri berikut ini:

Baca Juga :  Tidak Ada Manusia Jomlo di Surga

وخرج بقولنا ولم يختلف في جواز قصره من اختلف في جواز قصره كملاح يسافر في البحر ومعه عياله في سفينة ومن يديم السفر مطلقا كالساعي فان الاتمام أفضل له خروجا من خلاف من أوجبه كالامام احمد.

Jadi, menurut para ulama, sejatinya meng-qashar salat itu sunah dilakukan dari pada menyempurnakan jika perjalanan sudah mencapai 3 marhalah atau 142 km. Jika kurang dari 3 marhalah atau kurang dari 2 marhalah, maka makruh meng-qashar shalat.

Sedangkan untuk men-jamak shalat menurut para ulama lebih baik tidak melakukannya. Kecuali jika dengan tidak men-jamak salat menyebabkan ia tertinggal jamaah, maka men-jamak salat lebih utama pada kondisi ini. Bahkan meng-qashar serta men-jamak salat bisa menjadi wajib jika waktu salat sempit, atau hampir habis.

Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here