BincangSyariah.Com – Ibunda Ummu Salamah, istri Rasulullah Saw., pernah bercerita mengenai hubungan Rasulullah dan negara yang dipimpin Raja Habasyah yang beragama kristiani. Kata Rasul, “Ketika kami umat muslim hijrah ke negeri Habasyah (karena diintimidasi oleh kafir Quraisy), Raja Najasyi memperlakukan kami dengan sangat baik seperti tetangga sendiri, kami merasa aman dalam melaksanakan ibadah pada Allah, kami tidak pernah disakiti dan diintimidasi, dan kami tak pernah mendengarkan kata-kata kasar dari umat Kristiani yang ada di Habasyah” (HR Ahmad)

Bayangkan saudara, umat Muslim yang waktu itu menjadi minoritas sampai harus berhijrah ke negeri yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Namun, mereka orang Kristen di Habasyah memperlakukan umat Islam dengan penuh kasih sayang dan rasa hormat. Sudah seharusnya dan menjadi kewajiban bagi umat Muslim membuat rasa aman saudara non-Muslim di bumi Ibu Pertiwi ini, menghindari kata-kata kotor dan makian-makian terhadap pemeluk agama lain.

Betul, kita umat Muslim ini adalah umat mayoritas yang kebetulan ditakdirkan oleh Allah Swt. untuk tinggal di Indonesia. Namun ingat saudara, negara kita ini dibangun bukan hanya oleh umat Islam saja, negara ini dibangun bukan atas dasar agama atau ras tertentu. Para pendahulu kita ini membangun negara ini secara bersama-bersama.

Saya yakin, bila negara ini dibangun atas agama dan ras tertentu, maka negara ini akan seperti negara Israel yang mengkelasduakan yang bukan beragama Yahudi. Walaupun tidak semua pemeluk agama Yahudi setuju dan bahkan marah atas kebijakan-kebijakan Israel. Negara ini akan seperti Suriah dan negara Timur Tengah lainnya yang porak poranda dan cenderung menginginkan menjadi negara yang homogen.

Fenomena kaum Muslim yang menganggap dirinya wajib berhijrah ke Suriah sebagai basis yang disebut dengan Daulah Islamiyyah (ISIS) sungguh sangat keliru bila kita mendalami kisah di atas tersebut. Umat Muslim yang waktu itu masih menjadi minoritas justru diperintah oleh Rasulullah untuk pergi berhijrah ke negeri yang aman. Bukankah pergi berhijrah ke Suriah hanya setor nyawa saja? Padahal Islam itu mengharuskan pemeluknya untuk menjaga nyawanya agar tidak mati sia-sia.

Baca Juga :  Membantah Tuduhan PNS Adalah Thaghut

Karena itu, belajarlah dari kisah baik Raja Habasyah di atas itu, Raja Kristiani yang mau memberikan suaka terhadap umat Muslim Mekah yang diintimidasi oleh penduduknya sendiri. Jangan sampai, umat non-Muslim di negeri ini mengalami hal demikian, diusir dan diintimidasi oleh umat Muslim yang seharusnya mengayomi umat non-Muslim sebagai minoritas.

Interaksi yang begitu baik antara umat Kristiani dan umat Muslim di Habasyah membuat beberapa orang Habasyah tertarik mengikuti ajaran Muhammad yang penuh kasih sayang. Menurut catatan sejarah, ada tujuh puluh dua orang Habasyah yang pergi hijrah ke Madinah saat Islam sudah mulai berkembang. Bahkan di kemudian hari, keponakan Raja Habasyah itu menjadi perawi hadis-hadis Rasulullah, dan menjadi pelayan setia Rasulullah. Dia adalah Dzu Mikhmar (ada juga yang menyebut Dzu Mikhbar). Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here