Sa’ad bin ‘Ubadah: Kaya Raya, Loyalis Nabi Muhammad, Menolak Baiat pada Abu Bakar

1
2740

BincangSyariah.Com – Ketika Rasulullah saw wafat di tahun ke-8 H, para sahabat sempat berdebat tentang siapa yang pantas menggantikan baginda Nabi saw untuk memegang estafet kepemimpinan umat. Bertempat di Tsaqifah Bani Sa’idah, orang-orang dari kaum Anshor telah bersepakat untuk menunjuk Sa’ad bin ‘Ubadah sebagai pengganti Nabi Muhammad saw.

Namun, setelah para sahabat dari Muhajirin untuk ikut berunding, singkat cerita akhirnya diputuskanlah Abu Bakar As-Shiddiq sebagai khalifah pertama pengganti Rasulullah saw. Lalu siapa sebenarnya Sa’ad bin ‘Ubadah hingga dipercaya kaum Anshar untuk menjadi pemimpin umat? Pada tulisan kali ini, sedikit banyak akan mengulas tentang sosok sahabat yang satu ini.

Pemimpin Suku Khazraj, Sempat Disiksa Kaum Musyrikin Mekkah

Sa’ad bin ‘Ubadah bin Dulaim bin Haritsah bin Abi Hazimah bin Tharif bin al-Khazraj adalah tokoh yang terhormat di Yatsrib, sebelum berganti nama menjadi Madinah. Ia adalah pemimpin suku Khazraj yang ikut serta dalam Baiat ‘Aqabah II beserta tujuh puluhan rombongan dari Yatsrib untuk menyatakan masuk Islam.

Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyyah menjelaskan bahwa saat rombongan Yatsrib hendak pulang, Sa’ad bin Ubadah tertinggal rombongan. Tidak berpikir panjang, orang-orang Mekah yang telah mengincar rombongan ini menculik Sa’ad. Ia dipukuli sampai dipenuhi bercak darah pertanda babak belur. Setelah puas dipukuli Sa’ad ditinggalkan begitu saja. Bisa jadi Sa’ad bin ‘Ubadah adalah satu-satunya orang Anshor yang mengalami siksaan dari musyrik Mekah.

Kaya, Dermawan, dan Mencintai Ibu

Menurut Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat al-Kubra, Sa’ad bin ‘Ubadah adalah sosok kaya raya yang terkenal amat dermawan. Kakeknya Dulaim, bahkan lebih dikenal sebagai orang yang suka membagi-bagikan daging dan roti. Dan, tradisi keluarga untuk membagikan makanan ini terus dilanjutkan oleh Sa’ad. Terkait hal ini, Hisyam bin ‘Urwah sebagaimana dikutip Ibnu Sa’ad mengatakan bahwa barang siapa yang ingin mendapatkan roti dan daging, maka datangilah Sa’ad bin ‘Ubadah.

Baca Juga :  Abdullah bin Rawahah; Petugas Pajak Rasulullah yang Enggan Terima Suap

Kekayaan sekaligus kedermawanan Sa’ad bin ‘Ubadah hingga digambarkan bahwa ketika orang-orang Anshor menolong satu sampai dua orang dari sahabat Muhajirin, Sa’ad bin ‘Ubadah mendermakan hartanya untuk delapan puluh orang. Sa’ad selalu menyimpan banyak mangkuk bersisi sup daging, susu unta dan lain-lain di rumah istri-istri Rasulullah saw.

Selain dermawan, sosok Sa’ad juga amat mencintai sosok ibu. Ibu Sa’ad bin ‘Ubadah yang bernama ‘Amrah binti Mas’ud bin Qais adalah termasuk muslimah dari kalangan Anshor yang berbaiat kepada Rasulullah saw dan menyatakan diri masuk Islam. Ketika terjadi perang Daumat al-Jandal pada tahun ke-5 H, ibunda Sa’ad bin ‘Ubadah berpulang. Padahal Sa’ad sedang menyertai Rasulullah saw sehingga tidak mendampingi ibunya ketika sakaratul maut. Setibanya Sa’ad ke Madinah, ia diantar Rasulullah langsung menuju kuburan sang ibunda.

Suatu ketika karena merasa masih ingin berbakti kepada Ibu, Sa’ad bin ‘Ubadah bertanya kepada Rasulullah saw. “Wahai Rasululah, ibuku telah wafat sedang aku tidak berada di sisinya ketika ia menghembuskan nafat terakhir, apakah aku dapat bersedekah atas namanya?”, tanya Sa’ad. Rasulullah saw menjawab, “Ya.”

Menolak Berbaiat pada Abu Bakar

Ia sempat ditunjuk sebagai Khalifah oleh kaum Anshar. Namun, ketika bertemu dengan kaum Muhajirin dan terpilihlah Abu Bakar As-Shiddiq sebagai Khalifatu Rasulillah, Sa’ad menolak berbaiat. Ini disebutkan dalam kitab Siyar A’lam al-Nubala, menurut riwayat Basyir bin Sa’ad. Kala itu Basyir bin Sa’ad diutus Abu Bakar as-Shiddiq untuk meminta bai’at dari Sa’ad, namun ditolak mentah-mentah. Sepulangnya Basyir dari kediaman Sa’ad, Basyir menginformasikan kepada Abu bakar bahwa Sa’ad menolak berbaiat, seraya menasihati Abu Bakar agar Sa’ad dibiarkan, tidak perlu dipaksa. Saran dari Basyir pun diterima.

Baca Juga :  PM Selandia Baru: Penembakan Masjid adalah Serangan Terorisme

Ketika Abu Bakar telah digantikan Umar bin Khattab, Umar menghampiri Sa’ad. Sa’ad pun berkata, “Urusan telah berada di tanganmu, sungguh sahabatmu (Abu Bakar), lebih aku cintai ketimbang kamu, aku tidak suka menjadi tetanggamu (wa qad afdha ilaika al-amr, wa kaana shahibuka ahabbu ilaina minka, wa qad ashbahtu karihan lijiwarik)!” Umar pun menimpali, “orang yang tidak senang terhadap sesuatu, akan menjauhinya.”

Tidak lama kemudian, diceritakan bahwa Sa’ad bin ‘Ubadah pun pindah dari Madinah ke Syam tepatnya di wilayah bernama Hauran. Ia menghabiskan sisa hidupnya disana dan meninggal di tahun ke-15 H atau dalam hitungan Ahmad Rofi’ Usmani bertepatan dengan tahun 636 M. Wallahu A’lam.

 

Dapatkan tulisan-tulisan SAHABAT NABI dari Wildan Imaduddin lainnya di BincangSyariah.Com

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here