Rukyah Hilal Menentukan Awal dan Akhir Ramadan Menurut Mazhab Syafi’i

0
1446

BincangSyariah.Com – Bulan Ramadhan berada diurutan ke sembilan dari jumlah hitungan bulan-bulan arabiyah atau hijriyah. Bulan ini menjadi bulan yang tidak bisa ditandingi keutamaannya. Bulan ini ikatakan Ramadhan, karena orang-orang arab disaat memberikan nama pada bulan-bulan tertentu  tentunya mencocokkan dengan situasi dan kondisi yang meliputinya sebagai ciri khas.

Ramadhan menjadi nama bulan disebabkan cuaca pada saat bulan ini tiba sangat panas. Kata Ramadhan sendiri berasal dari akar kata al-ramdha’ yang berarti sangat panas. Maka dari itu, mereka menamai bulan ini dengan bulan Ramadhan. Ada yang mengatakan bahwa penamaan Ramadhan sebagai nama bulan karena kata Ramadhan juga bermakna membakar. Maksudnya, bulan Ramadhan dikatakan demikian karena memang dosa-dosa didalamnya bisa terbakar dengan keistimewaannya. (Hasan bin Ahmad bin Muhammad al-Kaf, al-Taqrirat al-Sadidah fi Masai al-Mufidah, hal. 432)

Selanjutnya, kewajiban yang menjadi ciri khas bulan Ramadhan ini adalah berpuasa selama satu bulan penuh bagi orang-orang yang sudah cukup syarat. Akan tetapi awalnya puasa yang diwajibkan oleh Allah kepada hambanya tidaklah di bulan ramadhan. Ia pada awalnya jatuh pada bulan Sya’ban tepatnya pada tahun ke dua hijriyah. Namun seiring dengan perintah Allah maka kewajiban berpuasa digeser pada bulan Ramadhan.

Pertanyaanya sekarang adalah, kapan puasa yang diwajibkan selama satu bulan penuh dimulai dan kapan diakhiri? Mengingat, penentuan awal dan akhir bulan tidak dengan mudah diketahui. Oleh karena itu penulis menyampaikan pendapatnya Imam Nawawi terkait hal ini.

Beliau dalam bukunyanya Al-Majmu’ Ala Syarh al-Muhaddzab (j. 6 h. 270), menegaskan bahwa puasa Ramadhan tidak wajib melainkan setelah melihat hilal. Maka tidak diterima pendapat orang-orang yang memakai metode hisab dalam penentuan rukyat hilal.

Baca Juga :  Empat Keutamaan Berikan Barang Pinjaman pada Orang Lain

قال أصحابنا وغيرهم : ” لا يجب صوم رمضان إلا بدخوله ، ويعلم دخوله برؤية الهلال، فإن غم وجب استكمال شعبان ثلاثين، ثم يصومون سواء كانت السماء مصحية أو مغيمة

“Para ashhab kami dan selainnya berkata : Tidak wajib puasa ramadhan melainkan dengan masuknya bulan ramadhan. Masuknya bulan ramadhan diketahui dengan melihat hilal, namun jika hilal terhalang awan maka wajib menyempurnakan bulan sya’ban (30 Hari) dan kemudian berpuasa. Baik itu ketika langit sedang cerah ataupun terhalang awan.”

ومن قال بحساب المنازل فقوله مردود بقوله صلى الله عليه وسلم في الصحيحين ” إنا أمة أمية لا نحسب ولا نكتب الشهر هكذا وهكذ ” الحديث قالوا ولأن الناس لو كلفوا بذلك ضاق عليهم لأنه لا يعرف الحساب إلا أفراد من الناس في البلدان الكبار فالصواب ماقاله الجمهور وما سواه فاسد مردود

“Jumhur ulama berpendapat bahwa : dan barangsiapa yang pendapatnya berpegang kepada peredaran bulan maka pendapatnya tertolak dikarenakan sabda Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim : sesungguhnya kami adalah umat yang ummi, yang tidak menghitung bulan dan menulis seperti ini dan seperti ini. Jumhur ulama berkata : jika manusia dipaksa untuk mengikuti metode hisab maka mereka akan kesulitan dikarenakan pengetahuan tentang hisab hanyalah diketahui oleh segelintir orang saja yang berada di kota-kota besar. Dan yang benar adalah pendapat dari jumhur ulama, adapun selainnya adalah pendapat yang kurang tepat dan tidak diterima.”

Hal ini didasarkan pada firman Allah dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah: 185,

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Maka barangsiapa di antara kalian menyaksikan bulan maka hendaklah ia berpuasa (pada) nya.”

Nabi Muhammad  Saw bersabda:

Baca Juga :  Cara Menentukan Awal Ramadan dan Syawal Menurut Hadis Nabi

صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ

“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah kalian karena melihatnya. Jika kalian terhalang (dari melihatnya) maka sempurnakanlah bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.” (HR. Bukhari, hadits no. 1776).

Pada ayat dan hadits di atas, Allah dan Rasul-Nya mengkaitkan kewajiban berpuasa dengan melihat hilal. Artinya, kewajiban berpuasa hanya bisa ditetapkan dengan melihat hilal atau menyempurnakan bulan  menjadi tiga puluh hari jika memang sudah tidak memungkinkan melihat hilal. (Lihat: Muhammad Ali al-Shabuni, Rawa’i alBayan fi Tafsir Ayat alAhkam min alQur’an,  Juz 1, hal. 210)

Selanjutnya, Hasan bin Ahmad bin Muhammad al-Kaf, dalam bukunya al-Taqrirat al-Sadidah fi Masai al-Mufidah (h. 442) menyebutkan bahwa terlihatnya hilal bisa berlaku umum kepada seluruh masyrakat tidak hanya buat dirinya sendiri atau keluarganya saja. Jika orang yang melihat memenuhi kriteria adil. Namun jika orang yang melihat tergolong orang yang fasik maka kesaksiannya tidak berlaku umum yaitu hanya untuk kalangan diri-sendiri.

Dengan demikian jelaslah bahwa rukyah hilal menjadi satu-satunya cara yang harus ditempuh untuk menentukan awal dan akhir puasa. Pasalnya, cara ini menjadi cara yang disampaikan oleh Rasulullah dalam sabdanya diatas. Sementara hisab menjadi jalan alternatif jika sudah tidak bisa memungkinkan melakukan rukyah hilal.

Kemudian rukyah hilal yang dilakukan oleh orang-orang yang terpercaya dan memenuhi syarat hasilnya bisa berlaku umum. Sementara rukyah yang dilakukan oleh orang yang tidak memenuhi syarat maka hanya berlaku untuk dirinya dan kalangan terbatas yang mempercayainya.  Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here