BincangSyariah.Com- Sering terjadi perbedaan di masyarakat Indonesia, soal penentuan masuknya bulan syawal. Hal ini cukup menjadi perdebatan metodologi yang memengaruhi penentuannya. Para ulama dalam penentuan awal syawwal mengacu kepada hadis Nabi Muhammad:

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته.

Artinya : “berpuasalah karena melihat bulan (hilal), dan berbuka jualah karena melihat hilal (HR. al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, an-Nasa’i, al-Tirmidzi)

Dalam memahami hadis di atas, ada yang menerjemahkan “melihat hilal” di sini adalah “ada, tampak” hilal. Dengan demikian, untuk memastikan ada dan tampaknya hilal yakni dengan menggunakan alat teknologi sehingga diketahui bahwa memang ada hilal. Hal ini ilmu falak menjadi landasan dalam memastikan telah masuknya bulan dan berakhirnya Bulan Ramadlan.

Sementara, kalangan kedua memahami bahwa ru’yah hilal dimaknai dengan melihat dengan kasat mata. Bukan “dengan menggunakan perhitungan falakiah”. Itu didasarkan pada kata “ru’yah”, diartikan dengan asbhar bi hasyatil basher. Artinya jika “melihat” dimaknai dengan melihat dengan kemampuan akal lewat perhitungan falakiah, maka tentunya Nabi Muhammad akan menggunakan kata “ra’yahu”, bukan “ru’yah”.

Bagi sebagian ulama, penggunaan ilmu falak berfungsi untuk memastikan awal dan akhir bulan Ramadlan. Akan tetapi, aturan penentuan tersebut didasarkan pada perhitungan tahun. Bukan menjadi pendasaran syariat untuk ketentuan puasa, idul fitri dan haji.

Pendapat ini dinyatakan oleh al-Margfur Lah KH. Ali Mustafa Yaqub dengan mengutip pendapat Ibnu Katsir dan al-Syawkani. Pendasaran ini juga ditegaskan lewat firman Allah bahwa Allah lah yang telah menjadikan matahari bercahaya dan rembulan bersinar, serta menetapkan jalurnya agar kamu mengetahui jumlah hitungan tahun dan hisab (perhitungannya dengan ilmu falak). (QS. Yunus: 5)

Akan tetapi, dalam menentukan awal Syawwal- begitu juga awal ramadhan- tidak serta merta menjadi sah dengan menggunakan perhitungan falakiah. karena terkait ibadah, maka diperlukan dalil syar’i untuk menentukannya.

Baca Juga :  Apakah Pahala Bacaan Alqur'an Sampai Kepada Orang yang Meninggal?

Dengan kata lain, Ru’yah hilal adalah bagian dari cara syariat dalam menentukan kewajiban puasa, haji. Artinya jika memang tidak terlihat hilal, pilihan selanjutnya adalah dengan menggenapkan hitungan menjadi sebulan penuh.

Sebagaimana hadis Nabi Muhammad Saw.:

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم، الشهر تسع وشهرة ليلة، فلا تصوموا حتى ترواه، فإن غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين

Artinya: jika kamu tidak melihatnya secara jelas (karena ditutupi oleh awan) maka sempurnakanlah hitungannya. (HR. al-Bukhari)

Bisa disimpulkan bahwa Ru’yah Hilal adalah pilihan pertama dalam menentukan awal puasa maupun berakhirnya yang juga menandakan awal bulan Syawwal. Akan tetapi jika memang tidak terlihat, maka pilihannya akan digenapi untuk jadi sebulan (30 hari). Wallahu ‘Alam.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here