Ritual Nishfu Sya’ban, antara Tradisi dan Pemurnian Islam

0
516

BincangSyariah.Com – Bagi sebagian kalangan Islam “modernis”, bentuk tradisi apapun yang dianggap tidak berasal dari ajaran Islam, disebut sebagai “budaya luar” yang diada-adakan bahkan tak jarang dicap sebagai bentuk bid’ah dan khurafat yang menyimpang dari ajaran agama Islam. Pandangan ini, tak jauh berbeda dengan kalangan misionaris Belanda yang sangat simplistik memandang orang Islam di Indonesia, sebagaimana dikatakan Poensen (1886), “yang mereka ketahui tentang Islam tidak lebih dari sunatan, puasa, daging babi itu haram dimakan, adanya grebeg besar dan grebeg mulud, dan beberapa hari raya lainnya”.

Cara pandang yang terlampau simplistik ini tentu saja mengabaikan aspek-aspek yang lebih “fundamental” dalam melihat konstruksi peradaban Islam, yang dirajut oleh berbagai tradisi, dialektika dengan budaya lokal, dan unsur-unsur lain yang menopangnya. Maka, dalam bahasa yang lebih teoritis, Marshall G.S Hudgson menyebutnya sebagai “kesinambungan kultural” sebagai wujud dialektika agama dan peradaban.

Islam sebagai “agama” tentu saja memiliki tradisi religius dengan segala keanekaragamannya. Bahkan, Islam telah mempertahankan suatu integritas tertentu yang lebih nyata, katakanlah dibanding dengan agama Kristen dan Budha. Itulah sebabnya, Islam di Indonesia memiliki akar-akar kesejarahan atau “kesatuan religius” yang lebih jauh melampaui tidak saja dalam bentuk keyakinan agamanya namun dalam tindakan kehidupan mereka sehari-hari.

Tradisi religius nishfu sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban) dan banyak juga tradisi-tradisi semacamnya, memiliki akar keagamaan yang cukup kuat menginduk suasana historis perkembangan mistisisme Islam di Indonesia bahkan sejak abad ke tujuh belas. Suatu kumpulan risalah pendek (Majmu’ah), kemunginan ditulis oleh ulama sufi kenamaan, Abd Al-Ra’uf Singkel (ulama besar dari Aceh pada abad ke-17), memuat persoalan-persoalan tradisi mistik dari mulai teks sufi dan teks ilmu ghaib; tentang nama-nama Allah dan khasiat magisnya; tentang hari-hari keberuntungan dan hari-hari nahas; tentang ilmu nujum dan alkimia, dan tentang “nishfu sya’ban” (tentang hal ini, Martin Van Bruinessen telah melakukan penelitiannya melalui disiplin filologis, “Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia”, tahun 1992).

Baca Juga :  Prinsip-prinsip Bertetangga yang Diajarkan Nabi

Memang, harus diakui, terdapat banyak kritik dari kalangan “modernis” atau “fundamentalis” yang kemudian melakukan suatu gerakan pembaruan Islam di awal abad kedua puluh yang secara terbuka menyerang berbagai tradisi religius di kalangan masyarakat Indonesia, akibat pengaruh politik Timur Tengah, terutama setelah melemahnya kekuasaan Turki Utsmani. Sekalipun, tradisi-tradisi semacam ini—yang kemudian membudaya dalam masyarakat muslim Indonesia—juga diperkenalkan oleh para haji Nusantara yang lama bermukim di Timur Tengah. Kemungkinan besar, tradisi seperti “nishfu sya’ban”, muludan (mengadakan acara maulid Nabi), atau hari-hari besar keagamaan lainnya diperkenalkan oleh para pegiat tarekat yang banyak berjasa dalam mengubah praktik pagan masyarakat Nusantara.

Tidak hanya itu, istilah nishfu sya’ban kemungkinan mulai dipopulerkan oleh salah seorang sahabat Nabi Muhammad yang juga banyak meriwayatkan hadis, bernama ‘Ikrimah bin Abu Jahl. ‘Ikrimah menjadi muslim ketika peristiwa Fathu Makkah dan wafat ketika berjihad di masa khalifah Abu Bakar Sidiq.

Ikrimah ketika menafsirkan kalimat, “Inna anzalnaahu fii lailatin mubaarokatin” (sesungguhnya Kami menurunkan (al-Quran) pada malam yang diberkahi) yang ada dalam surat ad-Dukhan ayat 3, dimana “lailatin mubarakatin” dimaknai sebagai “malam Nishfu Sya’ban”. Sekalipun pendapatnya melawan arus utama para penafsir lainnya—yang kebanyakan berpendapat Alquran turun pada malam bulan Ramadan—namun, pendapat Ikrimah tetap dikutip dalam berbagai kitab tafsir, sebagai bagian dari khazanah keilmuan dalam perbedaan tafsir.

Memang, tidak ada—atau mungkin saya belum menemukan—bahwa tradisi nishfu sya’ban yang kemudian menjadi semacam “ritual” yang dipraktikkan sebagian masyarakat muslim Tanah Air dengan “menghidupkan” malamnya melalui bacaan doa, dzikir, atau ritual tertentu yang merujuk pada praktik muslim awal di masa Nabi Muhammad. Namun, sebagai suatu peradaban, Islam tentu saja berkembang secara berbeda—bahkan mungkin tak ada yang sama—diantara berbagai belahan dunia sebagai bentuk penghayatan mereka terhadap agamanya. Kebudayaan yang lebih luas yang berkaitan dengan Islam, tentu saja beraneka ragam dan heterogen. Sehingga tradisi-tradisi kultural yang dibentuk oleh Indonesia, hendaklah dipandang sebagai bagian yang membentuk peradaban Islam di Nusantara tersendiri yang terpisah dari kebudayaan Islam secara global.

Baca Juga :  Ingin "Tajdidul Wudu"? Begini Cara yang Benar

Ketika suatu tradisi religius itu “menyatu” dalam konteks dialektika antara agama dan peradaban, maka sulit ketika kebiasaan tradisional itu diberangus atau dihilangkan. Tidak saja upaya gigih kaum modernis—bahkan seringkali tampak berlebihan—bahkan di masa-masa kolonial, tradisi keagamaan semacam ini kerapkali dinilai bentuk “fanatisme” oleh penguasa Hindia Belanda. Sekalipun saya meyakini, bahwa segala hal yang bermuatan “religius” disatu sisi yang menjadi praktik kebiasaan masyaratakat, pada akhirnya ia membentuk semacam kekuatan “spiritual” yang menggabungkan “kepasrahan pribadi” (muslim) dan penghargaan atas tradisi dan agama (“Islam”, dengan huruf besar). Bagi saya, tradisi nishfu sya’ban tidak saja merupakan warisan kekayaan budaya lokal yang diserap melalui ekspresi keberagamaan, namun sebagi bentuk penghormatan terhadap sahabat Nabi yang menyebut nishfu sya’ban terkait secara historis dengan peristiwa turunnya Alquran.

Saya justru beranggapan, bahwa diantara sekian banyak masyarakat yang kemudian bersikukuh menuduh mereka yang tetap menghidupkan tradisi “nishfu sya’ban”, justru lebih “fanatik” dengan tidak mengakui bahwa peradaban Islam dibangun oleh jaringan tradisi dan kultur yang secara lokal, menyerap ajaran-ajaran Islam secara lebih akomodatif.

Alih-alih mereka gigih melakukan apa yang mereka anggap sebagai “pemurnian” ajaran Islam, mereka justru terkadang terjerembab dalam suasana fundamentalisme, yang cenderung “kaku” dalam memandang suatu peradaban Islam yang besar. Keberadaan tradisi seperti nishfu sya’ban—bagi saya—justru erat dengan nuansa spiritual keagamaan yang mengambil bentuknya secara “fundamentalis” dari ajaran Islam paling awal.

Pada akhirnya, saya sendiri berkesimpulan, bahwa masyarakat Indonesia secara keseluruhan—terutama dominasi muslim-nya—adalah masyarakat “religius” sejak dari awal terbentuknya. Dimensi religiusitas ini tentu saja ditunjukkan oleh orientasi mereka yang kental terhadap komitmen-komitmen kosmiknya—bahwa manusia bagian dari alam raya dan harus seimbang dengan alamnya—dimana dalam pandangan Islam, hal ini berarti bahwa terdapat suatu perasaan—dalam bahasa Hudgson—transendensi kosmik yang dapat kita lihat secara lebih konkret pada bentuk praktik-praktik secara ritual maupun simbolis dalam perjuangan terhadap dunia “supranatural”. Itulah “manusia Indonesia” dengan beragam tradisi dan budayanya yang kemudian hidup secara damai dengan ajaran-ajaran Islam dan berkelindan membangun peradabannya tersendiri. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here