Ngaji al-Hikam: Rezeki itu Datang Sesuai Kadar Kesiapan Kita

0
44

BincangSyariah.Com — Seringkali, pada saat-saat tertentu, lamunan kita akan jatuh pada pertanyaan “mengapa aku tidak bisa seperti yang lainnya? Memiliki harta yang melimpah, memiliki kemampuan menyelesaikan masalah dengan mudah, memiliki pekerjaan dengan jabatan yang layak, memiliki pendamping yang sempurna, dan lainnya sebagainya”.

Tentunya, pertanyaan-pertanyaan yang demikian tidak akan mampu terjawab jika hanya dengan menuruti hawa nafsu belaka. Sebab ketika pertanyaan-pertanyaan tersebut mengedepankan hawa nafsu untuk menjawabnya, maka akan muncul sebuah anggapan bahwa Allah Swt. itu tidak adil kepada setiap hamba-Nya.

Anggapan yang demikian tidak justru membawa kita kepada jawaban yang kita harapkan, justru akan membawa kita kepada sebuah keadaan kufur terhadap segala nikmat yang telah diberikan-Nya.

Pada dasarnya, sebagaimana nasihat yang diberikan Syekh Ibnu ‘Athaillah as-sakandari (w. 709 H)—Allah Yarham—dalam kitabnya al-Hikam, terdapat point penting yang perlu kita pahami untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang demikian. Ia memulai penjelasannya dengan menyatakan sebagai berikut:

وُرُوْدُالْإِمْدَادِبِحَسَبِ الْاِسْتِعْدَادِ وَشُرُوْقُ الْأَنْوَارِعَلَى حَسَبِ صَفَاءِ الْأَسْرَارِ

“Datangnya rezeki itu datang sesuai dengan kadar kesiapan. Terangnya cahaya sesuai dengan kadar kejernihan jiwa”

Setidaknya dengan mengikuti redaksi nasihat yang disampaikan oleh Syekh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari di atas, jelas kiranya pertanyaan yang demikian dapat terjawab.

Bahwa, rezeki yang diberikan Allah Swt. kepada setiap hamba-Nya tersebut pada dasarnya disesuaikan dengan kadar kemampuan setiap hamba-Nya dalam menerimanya. Dan kadar kesiapan tersebut, sebagaimana redaksi nasihat yang diberikan oleh Syekh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari di atas, yakni ketika kita telah mencapai kejernihan jiwa.

Lantas, bagaimana kita mengukur kadar kejernihan jiwa kita sehingga siap dalam menerima rezeki yang diberikan-Nya?

Dengan mengikuti nasihat di atas, kejernihan jiwa dapat kita peroleh dengan senantiasa mengikuti segala yang telah menjadi anjuran dan ketetapan-ketetapan-Nya dan menjauhi segala apa yang telah dilarang-Nya.

Rezeki itu sama  halnya dengan apa yang kemudian kita sebut dengan pahala. Ketika kita berusaha untuk mengerjakan amalan, meskipun sedikit, namun dilakukan dengan penuh rasa keikhlasan, maka akan jauh lebih banyak ganjaran yang akan kita dapatkan.

Sebaliknya, meskipun kita melakukan sebuah amalan yang terhitung banyak, namun tidak disertai dengan rasa keikhlasan, maka akan sangat sedikit sekali ganjaran yang akan kita dapatkan.

Hati yang penuh dengan corak hitam yang kelam oleh perbuatan maksiat tidak akan mampu untuk menerima cahaya-Nya. Sedangkan hati yang bersih, penuh dengan ketaatan akan segala anjuran dan ketetapan-Nya, akan senantiasa mudah dihinggapi oleh cahaya-Nya.

Maka, setelah memperhatikan nasihat Syekh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari di atas, kiranya kita dapat intropeksi diri. Sudahkah kita melakukan anjuran dan segala ketetapan-Nya agar mencapai kejernihan jiwa? Sehingga kita dapat siap dalam menerima rezeki yang diberikan-Nya? Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here