Resolusi Tahun 2019: Dunia Hanyalah Sementara, Akhirat Lebih Utama

0
1385

BincangSyariah.Com – Al-Qur’an surat al-Anbiyâ’ (21): 35 dan al-Ankabût (29): 57 menyebutkan bahwa semua yang bernyawa akan mati. Bahkan dalam surat al-A’râf (7): 34 ditegaskan bahwa semua umat mempunyai ajal (batas waktu) yang telah ditentukan oleh Allah. Ketika ajal tersebut sudah tiba, maka tidak bisa ditunda ataupun dipercepat barang sesaatpun.

Namun demikian, kematian bukanlah akhir dari segalanya. Mengingat dalam Islam terdapat keyakinan bahwa orang meninggal sejatinya berpindah tempat dari kehidupan alam dunia ke kehidupan alam kubur (barzakh), yang pada akhirnya akan sama-sama hidup di alam akhirat sebagai akhir dari kehidupan umat manusia.

Menurut Wahbah az-Zuḥailî dalam al-Fiqh al-Islâmiyyu wa Adillatuhû (1985, II: 445), kematian adalah jembatan antara dua kehidupan, yaitu kehidupan dunia yang fana dan kehidupan akhirat yang kekal. Oleh karena itu, mati kadang disebut sebagai akhir dari kehidupan dunia dan awal dari kehidupan akhirat.

Menghadapi kenyataan bahwa semua makhluk akan mati tanpa terkecuali manusia, maka cara yang paling baik menurut Wahbah az-Zuḥailî adalah menjadi hamba yang taat dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Hal ini karena semua perbuatan yang dilakukan selama hidup di dunia akan dibalas ketika hidup di alam akhirat (at-Tafsîr al-Munîr, 2009, XI: 26-27).

Dalam hadis disebutkan, ad-dunyâ mazra’ah al-âkhirah. Dunia adalah tempat untuk “bercocok tanam” (beramal) dan akhirat adalah tempat untuk “memanen” (menikmati hasil dari amal tersebut). Surat al-Ankabût (29): 54-55 dan 57-59, sebagaimana disebutkan oleh Wahbah az-Zuḥailî, menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal baik seperti melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya akan dibalas dengan sebaik-baik balasan dan ditempatkan di dalam surga.

Sebaliknya, orang-orang kafir akan dibalas dengan panasnya api neraka yang terus menyala-nyala (XI: 27). Begitu juga dengan orang-orang yang berbuat buruk dan jahat akan dibalas dengan panasnya api neraka, kecuali mereka yang diampuni oleh Allah (1985, II: 445).

Baca Juga :  Tengku Zulkarnain Sebarkan Hadis Palsu tentang Orang Zalim? Ini Uraiannya

Lukman al-Hakim ra. kepada putra-putranya, sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Muḥammad Nawâwî bin Umar al-Jâwî dalam Syarḥ Naṣâ’ih al-‘Ibâd (hlm. 15), menyampaikan wasiat bahwa tubuh manusia terbagi menjadi tiga bagian. Sepertiga pertama untuk Allah, yaitu ruhnya. Sepertiga berikutnya untuk dirinya, yaitu perbuatannya (baik maupun buruk) yang dilakukan ketika masih hidup di dunia. Sementara sepertiga terakhir untuk ulat, yaitu tubuhnya.

Namun, menurut Abdur Raḥîm bin Aḥmad al-Qâḍî dalam Daqâ’iq al-Akhbâr fî Zikr al-Jannah wa an-Nâr (hlm. 18), terdapat beberapa jasad (tubuh) yang selamanya tidak akan rusak “dimakan” bumi dan makhluk-makhluk yang hidup di dalamnya sampai hari kiamat seperti: jasad para nabi, ulama, syuhada yang mati dalam memperjuangkan agama Allah, orang yang istikamah membaca al-Qur’an, dan muazin yang dalam azannya hanya mengharap rida Allah.

Oleh karena itu, sayang sekali apabila dalam hidup ini kita hanya pandai mengurusi tubuh yang akan menjadi santapan ulat tanah dan abai terhadap urusan amal baik sebagai bekal hidup di akhirat dan ruh yang akan menghadap kehadirat Allah swt. kelak. Sungguh sayang apabila waktu kita di dunia ini dihabiskan hanya untuk memperindah tubuh semata dan tidak punya waktu luang barang sedetikpun untuk memperindah amal baik dan ruh.

Sayang seribu sayang apabila perhatian utama kita dalam menjalani hidup ini hanyalah persoalan perut dan tubuh yang bersifat sementara dan melupakan amal baik dan ruh yang akan menjadi “sahabat” sejati menuju keabadian.

Imam ‘Ali bin Abi Thalib as. merasa heran kepada orang-orang yang memakmurkan kehidupan dunia dan mengabaikan kehidupan akhirat (Tanyalah Aku Sebelum Kau Kehilangan Aku: Kata-kata Mutiara ‘Ali bin Abi Thalib, 2003: 44). Mengingat kehidupan dunia hanyalah sebentar dan fana. Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik (khairun) dan kekal (wa abqâ), sebagaimana disebutkan dalam surat al-A’lâ (87): 17.

Baca Juga :  Sunnah Melakukan Dua Hal Ini Ketika Melihat Setan

Menurut Sayyidunâ Abu Bakar as-Shiddiq ra., sebagaimana disebutkan dalam Syarḥ Naṣâ’ih al-‘Ibâd (hlm. 31), akhirat adalah kegelapan dan penerang(pelita)nya adalah amal baik. Selaras dengan hal ini, Imam Ali bin Abi Thalib as. berkata, kehidupan dunia memerlukan harta dan kehidupan akhirat memerlukan amal baik (2003: 45).

Dalam hal ini, makanya tidak heran apabila para sufi atau orang-orang saleh secara umum lebih memilih “menggemukkan” dan “memodiskan” amal baik dan ruhnya daripada tubuhnya. Meskipun tidak sedikit dari mereka yang memiliki tubuh tidak modis—bahkan kurus kering, tetapi insya Allah amal baik dan ruh mereka tidak akan mengecewakan untuk dipersembahkan kepada Allah Yang Maha Suci lagi Maha Indah.

Mungkin mereka termasuk bagian dari orang-orang cerdik sejati. Mengingat sabda Nabi Muhammad saw., sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Muhammad Abdurrahman as-Sakhâwî dalam al-Maqâṣid al-Ḥasanah (1985: 524-525), bahwa orang cerdik adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan berbuat baik untuk bekal setelah mati (al-kayyisu man dâna nafsahû wa ‘amila li mâ ba’da al-mawt). Sedangkan orang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berandai-andai akan ampunan Allah (wa al-‘âjizu man atba’a nafsahû hawâhâ wa tamannâ ‘alâ allâh ta’âlâ).

Akhirnya, selamat meninggalkan—atau minimal menyedikitkan sedikit demi sedikit—prilaku-prilaku yang kurang baik selama 2018 dan menyambut indahnya tahun baru 2019 Masehi dengan suka cita untuk beribadah, menebarkan cinta dan kasih sayang dan memperbanyak amal baik bagi kemaslahatan bangsa—sebagai bekal untuk kehidupan yang baka kelak, sebagaimana diajarkan dalam surat al-Balad (90): 10-18. Wa Allâh A’lam wa A’lâ wa Aḥkam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here