Taktik Lepas dari Resesi pada Sektor Keuangan Negara akibat Pandemi Covid-19

0
76

BincangSyariah.Com – Pandemi Covid-19 telah menyebar ke 200 negara di dunia, dan khususnya berbagai propinsi di Indonesa. Langkah penanganan yang efektif dengan tersedianya vaksin menjadi sebuah keharusan dan hingga saat ini masih diupayakan. Namun, dampak dari Pandemi secara sosial, ekonomi dan keuangan negara, tidak bisa diabaikan.

Secara sosial, kurva penyebaran Covid-19 masih baru menunjukkan tanda-tanda melandai di sejumlah daerah. Akibatnya masih diperlukan tindakan pembatasan. Namun, hal ini menumbuhkan optimisme bahwa perekonomian akan segera pulih.

Secara ekonomi, kebijakan pembatasan berakibat pada lambatnya laju pertumbuhan. Kerja ekonomi menjadi turun secara signifikan sehingga omset kerja juga ikut turun.

Secara keuangan negara, penurunan omset kerja ekonomi menyebabkan adanya nasabah yang mengajukan restrukturisasi. Imbasnya dari sisi perbankan, mereka harus menghadapi 2 risiko besar yang bisa mempengaruhi kinerja perbankan dalam rentang waktu yang belum pasti, yaitu 1) terjadinya perubahan pada angka kredit macet (NPL) dan 2) terjadinya perubahan pada sisi kebijakan liquiditas perbankan.

Dari sisi kredit  perbankan, karena iklim kerja ekonomi belum pasti, maka masyarakat menjadi merasa belum perlu untuk mengajukan kredit / pembiayaan pada perbankan. Akibatnya pendapatan perbankan yang diperoleh dari sektor bunga dan marjin keuntungan pembiayaan menjadi turun.

Bagi nasabah yang sudah terlanjur mengajukan kredit/pembiayaan, namun karena omset kerja ekonominya menurun, sehingga mempengaruhi kemampuannya untuk melunasi tanggungan kredit / pembiayaannya, mengakibatkan mereka berbondong-bondong mengajukan restrukturisasi utang. Terjadilah kasus kredit macet (NPL).

Kebijakan restrukrisasi kredit, secara tidak langsung mempengaruhi likuiditas perbankan. Penyebabnya, karena minimnya dana yang harus disirkulasikan kembali oleh bank.

Agar  aliran kas perbankan tetap bisa berjalan, perbankan merespon turunnya pemasukan dan kenaikan NPL ini dengan jalan melakukan siasat pengetatan liquiditas perbankan. Imbas yang  terasa, syarat pengajuan kredit / pembiayaan di perbankan menjadi diperketat.

Baca Juga :  Dua Tanggung Jawab Orang yang Berilmu

Ketika hal ini terjadi, maka untuk melakukan perbaikan ekonomi, bank membutuhkan stimulus dari pemerintah. Namun, keberhasilan penyaluran stimulus ini bergantung sepenuhnya pada kebijakan pemerintah dalam mengambil langkah penanganan terhadap Pandemi Covid-19. Sebab, keberhasilan langkah ini, hanya bisa dilakukan dengan menciptakan kondisi iklim usaha yang baik bagi negara.

Iklim usaha yang baik dan dinamis, akan menyebabkan tingkat kepercayaan pengusaha akan menjadi naik, sehingga mereka berani untuk mengambil spekulasi menempuh risiko dengan jalan membuka kembali ruang usaha yang mereka lakukan.

Contoh dari langkah keseriusan itu adalah pemerintah segera mengupayakan vaksin bagi masyarakat terdampak atau yang belum terdampak Covid-19, protokol kesehatan dijalankan dengan baik, pengetatan PSBB dalam jangka waktu terukur, dan melakukan penegakan hukum bagi masyarakat yang melanggar. Semua ini, terjadi saling berkaitan, mengingat faktor penyebabnya resesi adalah penyebaran covid-19. Alhasil, kata kuncinya terletak pada memutus mata rantai penyebarannya.

Indikator keberhasilan kebijakan pemerintah ini, akan ditandai dengan mulai terdongkraknya angka pengajuan kredit pada perbankan dan angka NPL berangsur menurun. Jika hal ini terjadi, maka perbankan akan meresponnya dengan melakukan pelonggaran terhadap liquiditas. Dampak yang akan sangat terasa bagi masyarakat, adalah mereka mudah memenuhi syarat pengajuan kredit. (Baca: Proyeksi Indonesia Keluar dari Jerat Resesi Dampak Pandemi Covid-19)

Dengan kembali pulihnya kinerja ekonomi, yang berawal dari naiknya tingkat  kepercayaan masyarakat terhadap penanganan Pandemi Covid-19, secara berangsur laju pertumbuhan ekonomi akan berangsur terdongkrak naik, pendapatan sektor perbankan meningkat,  dan ujungnya serapan GDP negara juga menjadi meningkat. Puncaknya, keuangan negara lepas dari jerat resesi dan kembali pulih seperti sediakala.

Wallahu a’lam bi al-shawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here