Renungan Peristiwa Christchurch: Relasi Muslim di Barat dan Ideologi Supremasi

0
249

BincangSyariah.Com – Dua minggu yang lalu, saya sedang berada di Christchurch sebagai bagian dari safari akademik di Selandia Baru untuk berbicara beberapa tema tentang landasan teoritis dialog antar agama dengan berdasar pada sumber-sumber tradisi keislaman, prinsip-prinsip penafsiran hingga konstruksi identitas masyarakat Muslim Barat. Saya termasuk di antara undangan bersama dengan Imam Masjid Lynwood, masjid yang kemarin juga diserang dan menewaskan sepuluh orang tak berdosa.

Saat saya mengetahui ada serangan teroris di Christchurch, saya tidak habis pikir dengan apa yang saya lihat. Tiba-tiba saya teringat orang-orang yang saya temui selama kuliah umum lalu. Kebanyakan mereka adalah Muslim, dan sangat memperhatikan betul terkait keselamatannya. Di hari Sabtu, saya mengetahui kalau sang Imam tidak terluka pada saat serangan tersebut namun istrinya terkena luka tembak di tangannya. Saya begitu sedih – bahkan geram – karena kota yang masih dalam proses pemilihan pasca rusak akibat gempa di tahun 2011, dipilih sebagai lokasi kejahatan seorang rasis.

Apa yang saya ingin tekankan di sini adalah pentingnya kritik yang multidimensional untuk menentang ideologi-ideologi inspirator serangan-serangan teroris, terlepas dari mana sumber ideologi tersebut.

Sebagai bagian dari manifesto mereka, kelompok supremasi kulit putih ingin kita mempercayai bahwa, inti Islam adalah ideologi kekerasan yang sedang mengarah kepada dominasi dunia; Imigran muslim – kebanyakan (seperti saya juga) adalah korban perang dan pindah untuk melarikan diri dari konflik yang menyedihkan di negara sendiri – dilihat hanya darai satu sisi, bahwa Muslim di wilayah Barat bukan untuk membangun kembali kehidupan mereka dan hidup damai bersama dengan masyarakat setempat, tetapi dianggap mentransformasi Barat kepada gagasan utopis wilayah ISIS.

Kelompok supremasi kulit putih menggunakan peristiwa-peristiwa penting dari hubungan Islam-Barat pra-modern – seperti penaklukkan kota Konstantinopel oleh Ottoman – sebagai bukti serangan yang tiada henti dari semua Muslim kepada peradaban barat.

Sementara, organisasi-organisasi teroris berjubah Islam seperti ISIS, ingin kita percaya beberapa hal,

Pertama, hanya adalah satu model Islam yang benar (model mereka sendiri).

Kedua, bahwa penafsiran mereka terhadap syariah – termasuk pemahaman mereka tentang institusi khilafah, yang bisa mengklaim legitimasinya dari karya-karya ulama fikih masa lalu – adalah satu-satunya pemahaman yang absah terhadap rujukan keislaman.

Ketiga, tugas semua orang Islam di Barat – baik dalam keadaan damai ataupun perang atau kondisi-kondisi konflik lainnnya – adalah mendukung pendirian kekhilafahan universal, layaknya yang dipahami para milisi Islamis tersebut.

Baca Juga :  Jangan Meremehkan Dukun dan Sihir

Keempat, bahwa loyalitas mereka (orang-orang Muslim) kepada kekhilafahan, melampaui hak-hak dan kewajiban mereka sebagai warga di negara demokrasi di Barat, yang nilai-nilai negaranya dinilai sebagai antitesa (lawan) dari prinsip-prinsip keislaman.

Tahun lalu, saya bersama rekan Halim Rane mempublikasikan sebuah buku. Kami mencoba memberikan tinjauan yang komprehensif terhadap riset-riset penting terkait aspek-aspek Islam dan masyarakat Muslim di Barat selama lebih dari tiga dekade terakhir, juga mencakup sejarah dan karakteristik hubungan antar peradaban Arab-Islam dan Latin-Kristiani; cara menjadi seorang Muslim di Barat dan bagaimana cara dan kebiasaan yang berbeda ini menjelaskan tradisi Islam, serta upaya-upaya sejumlah tokoh Muslim kontemporer di Barat untuk mengharmoni dengan masyarakat barat yang bebas (liberal), termasuk menyampaikan ciri khas konsep soal western Islam.

Tidak dipungkiri bahwa mayoritas sejarah hubungan antar perabadan Arab-Islam dan Barat-Kristen dahulu didominasi oleh relasi politik-militer, yang kebanyakan disatukan dalam kondisi konflik yang hampir permanen. Keduanya bersikukuh dalam prinsip yang saling bersitegang untuk meyakini dogma-dogma keagamaan yang mereka junjung tinggi. Satu fakta misalnya, tahun ini merupakan perayaan 800 tahun dari sebuah peristiwa – yaitu pertemuan antara St. Francis dan Sultan al-Kamil.

Yang terpenting, seperti diingatkan oleh Richard Bullet, warisan-warisan historis – semisal pertarungan panjang antara Barat-Kristen dan Islam-Arab, tidak boleh dipahami sebagai tujuan dalam Islam. Namun, membuatnya menjadi tujuan adalah tepatnya apa yang diingkan para teroris, membuat kita meyakininya.

Salah satu mitos terbesar tentang orang Islam – khususnya orang Islam di Barat – di kalangan kelompok supremasi kulit putih adalah mereka meyakini bahwa semua Muslim itu sama ketika mereka mempraktikkan apa yang mereka pahami tentang Islam. Bagaimanapun, ini jelas keliru.

Saya dan Halim Rane telah mengembangkan tipologi kelompok Muslim menjadi delapan macam terkait pemahaman dan pendekatan terhadap tradisi Islam Sunni: tradisionalis, Islam politik, Muslim “sekuler”/liberal, Islam sebagai salah satu perilaku sehari-hari/budaya, Muslim progresif, puritan teologis, ekstrimis militan, dan sufi. Penting untuk dicatat bahwa masing-masing kelompok ini memiliki sejumlah subkelompok, dan tipologi ini hanya berkaitan dengan tradisi Sunni. Seluruh tradisi intelektual Islam tersebut – tidak berbeda dengan tradisi agama besar dunia lainnya – telah menjadi medan pertempuran intelektual dan di saat yang sama konflik militer saat memahami makna dan karakteristik Islam itu.

Baca Juga :  Hukum Penetapan Nasab Anak dalam Agama Islam

Pengusung supremasi kulit putih juga menginginkan kita percaya bahwa orang Islam di Barat itu bersatu untuk bersama-sama mendirikan khilafah, mengimplementasikan “syariah”, dan menolak untuk berintegrasi di masyarakat. Sekali lagi, realitanya sangat berbeda.

Saya akan berikan satu contoh yaitu Piagam Muslim Eropa (The Muslim of Europe Charter) yang disusun oleh Federation of Islamic Organisations in Europe, dan telah disahkan oleh lebih dari 400 organisasi muslim di 28 negara Eropa pada tahun 2008. Salah satu gagasan yang paling fundamental disebutkan di piagam tersebut adalah Islam dan komunitas muslim menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat Eropa – dan selanjutnya komunitas muslim ini butuh pengakuan segera. Piagam itu juga menjelaskan bagaimana pemahaman yang proporsional tentang Islam dapat berharmoni dengan nilai-nilai kontemporer masyarakat Eropa seperti Hak Asasi Manusia dan Keadilan. Piagam itu juga menyerukan integrasi yang positif dari masyarakat Muslim Eropa ke dalam komunitas mereka masing-masing, termasuk partisipasi penuh sebagai warga negara.

Terkait gagasan bahwa orang Islam di Barat memikirkan tugas mereka mendirikan kekhilafan (dalam pengertian pemerintahan yang universal) ini juga sebuah kekeliruan. Faktanya, bahkan sejak akhir 1980-an hingga awal 1990-an, para intelektual malah telah mengembangkan sebuah sudut pandang teoritis baru di bidang hukum Islam yang dikenal sebagai Fiqh al-Aqalliyat al-Muslimah (Fikih Minoritas Muslim). Fikih model ini yang mengandaikan, di antaranya, kondisi minoritas yang permanen bagi Muslim di barat; dan kondisi minoritas seperti itu membutuhkan sejumlah pendekatan (baru) terhadap hukum Islam yang berdasarkan pada fleksibilitas namun tetap mengadaptasi warisan pemahaman hukum Islam yang sudah ada.

Beberapa intelektual Muslim bahkan telah melangkah lebih jauh dengan menyarankan, bahwa selama dua atau tiga dekade terakhir telah muncul sejumlah faktor yang mengarah pada pentingnya menghadirkan konsep identitas yang khas dari Western Islam. Yaitu, sebuah konsep untuk masyarakat yang secara kultural memang berdasar pada nilai-nilai barat – dalam arti masyarakat yang nyaman dengan nilai-nilai modernitas budaya seperti digagas oleh – misalnya – Jurgen Habermas, atau masyarakat yang mengakomodasi konsep John Rawls soal overlapping consensus di mana penduduk, betapapun beragamnya pandangan dunia (worldview) mereka yang berbeda, namun semua sepakat untuk mendukung dan mematuhi hukum-hukum pokok untuk sejumlah alasan-alasan yang hanya bisa dijelaskan dengan keluasan doktrin yang mereka yakini sendiri.

Baca Juga :  Asal Usul Ideologi Jabariyyah

Keragaman penafsiran terhadap Islam dan realitas Muslim Barat bukan hanya meruntuhkan ideologi supremasi kaum putih, tapi juga gagasan para islamis yang menjadi pelaku terorisme. Ini bukan berarti menunjukkan bahwa teologi suprematis dan gagasan membangkitkan Khilafah – seperti yang dipahami pada masa lalu – hanya ditemukan di kelompok teroris. Selama lebih dari dua abad, dengan keberhasilan yang beragam, banyak akademisi Muslim yang berpikiran liberal dan progresif – termasuk saya sendiri – telah secara konsisten memperdebatkan tentang,

  1. perlunya teologi Muslim untuk berevolusi dari hanya “teologi resmi negara”, dan kebutuhan untuk mengembangkan teori pemerintahan yang membedakan antara politik dan agama;
  2. perlunya norma-norma dan prinsip hukum Islam untuk memperbarui diri secara epistemologis, serta mena menanggalkan dan melepaskan selubung patriarkis yang masih tersisa.

Meski banyak pekerjaan yang perlu diselesaikan, namun sejumlah terobosan penting telah dibuat selama perjuangan panjang berabad oleh para akademisi Muslim yang progresif, juga para pemimpin dan aktivis yang berada di garis terdepan perubahan ini – dan banyak di antara mereka adalah perempuan.

Muslim dan non-Muslim, sebagai anggota dari kelompok masyarakat yang beragam dan di era saling terkoneksi satu sama lain – suatu kondisi yang baru pertama terjadi – harus dengan terbuka menyampaikan bentuk-bentuk ideologinya, terlepas dari akar dan kedalaman ideologi tersebut berdasarkan juga pada sikap suprematif atau merendahkan yang lain, dan kemudian kita mencoba memperbaiki hal-hal yang kurang tepat dalam bentuk ideologi tersebut.

Di masa-masa sulit ini, umat Muslim di Barat, penting sekali untuk mewujudkan aspek-aspek terbaik dalam tradisi Islam – yaitu, kemanusiaan dan karakternya yang kosmopolitan – dan menghindari penggunaan pernyataan-pernyataan dogmatis. Karena kata-kata yang kita pilih untuk diucapkan, dan gagasan yang kita pegang teguh, membentuk dunia yang akan didiami oleh orang lain, termasuk Muslim.

Tulisan ini diterjemahkan dari artikel aslinya berjudul “Dismantling Supremacist Ideologies after the Christchurch Massacre” , diterbitkan di situs abc.net.au pada 18 Maret 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here