Relasi Antara Takwa dan Ilmu Pengetahuan Menurut Al-Ghazali

0
15

BincangSyariah.Com – Kata takwa tentu bukanlah sesuatu yang asing lagi kita dengar. Kata ini memang sangat ringan untuk diucapkan, akan tetapi untuk mengaplikasikannya tak semudah mengucapkankannya. Secara singkat takwa harus mencakup dua unsur yang sangat penting, sebagaimana definisi yang dirumuskan oleh Imam al-Ghazali didalam kitabnya Ihya’ ‘Ulumuddin bahwa takwa adalah:

إمتثال الأوامر واجتناب النواهي

“Melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan.”

Kedua unsur pokok itu adalah perintah dan larangan, yakni apa yang diperintah, dan apa yang menjadi larangan. Masing-masing keduanya bagi kita cukup jelas. Tetapi yang tidak cukup jelas bagi kita adalah kesanggupan untuk melakukannya.

Kenyataannya memang dapat kita rasakan bahwa melaksanakan perintah itu lebih mudah daripada meninggalkan larangan. Hal ini menunjukkan bahwa kecenderungan manusia untuk taat perintah memang iya, namun ada kecenderungan lain yaitu tak mudah untuk taat menjauhi yang dilarang. Maunya bebas tanpa batasan. Untuk itu kita harus mengetahui dasar-dasar takwa yang benar.

Takwa dan ilmu pengetahuan berkaitan erat. Tanpa ilmu tak mungkin seseorang mampu menjalani takwa. Al-Ghazali mengatakan bahwa takwa merupakan rangkaian dari ilmu, amal dan istikamah. Maka dari sinilah menuntut ilmu menjadi wajib bagi kita. Karena ilmu sebagai dasar takwa dan sebagai wujud penghambaan diri kita kepada Allah Swt.

Dengan ilmu, kita dapat mengetahui tentang apa saja perintah-perintah Allah yang harus dijalankan dan apa pula larangan-larangan Allah yang harus ditinggalkan, setelah itu kita dituntut untuk mengamalkan ilmu pengetahuan tersebut. Oleh karena itu, jika hanya sekedar mengetahui saja tentang perintah-perintah dan larangan Allah, akan tetapi tidak sanggup menjalankannya sebagai wujud pengamalan ilmu kita, maka hal ini belum bisa dikatakan takwa.

Baca Juga :  Cara Jitu Mendapatkan Buah Takwa yang Sempurna

Demikian pula orang yang berilmu dan mengamalkan ilmu pengetahuannya belum cukup dikatakan orang yang bertakwa, jika ia belum bisa mengamalkan ilmunya secara istikamah dan konsisten.

Kebanyakan yang sering kita jumpai adalah orang yang menjalankan perintah Allah, akan tetapi juga melanggar larangan-Nya. Kewajiban ditunaikan, tetapi kesenangan menjalani perbuatan dosa yang menjadi larangan agama juga tetap jalan terus. Kalau bahasa anak muda saat ini sih “STMJ” (Sholat Terus Maksiat Jalan).

Ini menjadi bukti kongkrit bahwa bahwa takwa memang betul-betul bukan perkara yang mudah. Takwa dan ilmu pengetahuan tidak dapat dipisahkan. Bila keduanya dijalankan dengan benar meskipun berat dan tidak mudah, Allah akan memberikan jaminan kebahagian di dunia dan akhirat, sebagaimana firmannya yang berbunyi:

الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (64)

“Orang-orang yang beriman dan bertkakwa, bagi mereka kebahagian di dalam hidupnya di dunia dan akhirat, tiada pernah ada perubahan bagi janji Allah. Demikian itu semua sebagai anugerah yang agung.” (Q.S. Yunus: 63-64)

Berdasarkan ayat ini, takwa sesungguhnya merupakan kebutuhan bagi kita yang menginginkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dalam kehidupan yang serba sulit dan penuh masalah ini, takwa juga dapat menjadi jalan keluar untuk mendapat pertolongan dan kemudahan dari Allah, sebagaimana firmannya dalam al-Quran:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا

“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (Q.S. At-Thalaq: 4)

Maka dari ini, selayaknya kita menyadari bahwa takwa sesungguhnya merupakan suatu tindakan dan amalan sebagai sarana untuk meraih kebahagiaan hidup kita. Tetapi sebaliknya, jika hidup ini dirasa repot dan tak mau teratur, ingin bebas sebebas-bebasnya, baik bebas dari kewajiban dan larangan, karena alasan ingin merdeka dan bebas untuk memenuhi hasratnya semata, tentu kelak kita akan mengetahui kerugian yang kita terima.

Baca Juga :  Yang Menjadi Ukuran Derajat Manusia adalah Takwa

Maka dari itu mari kita mencoba untuk berfikir dengan hati yang bersih agar tidak terjadi penyesalan dikemudian hari, bahwa segala amal yang kita perbuat tentu akan membawa akibat yang pastinya akan kita terima baik maupun buruknya. Nabi pernah memberi peringatan dalam hadisnya:

عش ماشئت فإنك ميت واعمل ماشئت فإنك مجزى به وأحبب من شئت فإنك مفارقه

 “Hiduplah sesukamu, tapi ketahuilah bahwa pasti kamu akan mati. Berbuatlah sesukamu, maka ketahuilah bahwa kamu pasti akan dibalas. Cintailah siapapun yang kamu suka, tetapi ingatlah semua pasti akan berpisah.” (HR. At-Thabrani)

Semoga kita senantiasa mendapat petunjuk dan pertolongan dari Allah, untuk dapat menjalankan kewajiban kita untuk beribadah menghambakan diri kepada Allah swt., serta menjauhkan diri dari segala yang dilarang-Nya. Sehingga kita mendapatkan rahmat dan ridla-Nya. Amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here