Reinterpretasi Riwayat Dengan Mempertimbangkan Konteks Adat dan Budaya, Mungkinkah?

0
270

BincangSyariah.Com –Hubungan antara hukum Islam dengan budaya sangat kompleks, khususnya budaya Arab yang memiliki pengaruh besar terhadap karya-karya para ulama pada masa awal, di mana karya-karya itu mempengaruhi semua karya ulama berikutnya. Ibn Asyur menyarankan sebuah pandangan baru mengenai peran fundamental budaya berdasarkan konsep maqashid syariah.

Padanan kata budaya dalam bahasa arab adalah Al-‘Uruf yang secara harfiyah berarti adat budaya yang disepakati bersama dalam sebuah masyarakat. Dalam karyanya Maqashid al-Syari’ah, Ibnu ‘Asyur mendudukkan pembahasan tentang ‘uruf dalam rangka pencapaian tujuan atau maksud universalitas hukum Islam (hukum Islam sebagai aturan agama yang mendunia atau memiliki solusi bagi segala masalah dalam segala konteks). Di samping itu, Ibn Asyur juga membahas pengaruh al-‘uruf terhadap teks-teks suci Alquran dan Hadis.

Berdasarkan maksud universalitas hukum Islam, Ibn Asyur menyarankan adanya interpretasi ulang terhadap riwayat yang mempertimbangkan konteks kebudayaan Arab ketimbang menjadikannya sebagai aturan yang mutlak dan final. Manakala hukum Islam dikehendaki menjadi universal, maka ia harus cocok dengan hikmah dan nalar yang dapat diterima oleh semua kalangan manusia yang tidak berubah-ubah seiring berjalannya waktu dan tempat.

Selain itu Ibn Asyur berupaya untuk memilah mana yang merupakan hukum Islam yang berlaku pada setiap waktu dan tempat dan mana yang merupakan hukum Islami yang terpengaruh oleh ‘uruf Arab. Kemudian ia menerapkan gagasan tersebut terhadap sejumlah narasi hadis untuk memilah hukum Islam yang lokal dari hukum Islam yang universal.

Ia menyoroti bahwa hadis-hadis yang menerangkan jenis pakaian, perumahan, kendaraan, larangan perempuan menyambung rambut, memisahkan antara gigi depan, bertato, anjuran berhijab dan lain-lain sebagai aturan-aturan Islam yang terkait dengan budaya lokal Arab yang dalam prakteknya tidak perlu dikuti dan dianggap sebagai bagian dari hukum Islam. Bahkan kebiasaan atau adat suatu masyarakat tidak boleh juga dipaksakan kepada anggotanya yang belum siap menerimanya.

Baca Juga :  Kedudukan Maqashid Syariah dalam Penetapan Syariat

Sehingga dapat disimpulkan bahwa Ibn Asyur memahami riwayat-riwayat di atas dalam rangka tujuan-tujuan moral dasar ketimbang norma yang diterapkan untuk dirinya sendiri. Pendekatan seperti ini memungkinkan fleksibilitas dalam penerapan hukum Islam pada budaya-budaya lokal, khususnya pada lingkungan non-Arab.

Wallahu’alam.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here