Rasulullah saw. Bukan Pelaknat, Tetapi Penebar Rahmat

0
19

BincangSyariah.Com – Dahulu orang-orang kafir pernah menyakiti dan melukai Rasulullah saw. ketika perang Uhud. Dalam hal ini, gigi Rasulullah saw. patah dan wajahnya terluka. Keadaan ini membuat para sahabat gelisah. Sehingga mereka meminta Rasulullah saw. mendoakan orang-orang kafir tersebut agar binasa. Namun, beliau menjawab: “sesungguhnya aku tidak diutus untuk melaknati, tetapi aku diutus untuk mengajak dan menjadi rahmat. Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui” (Imam al-Gazali, Ihya’ Ulum ad-Din, 2005: 847 & Syekh Yusuf bin Isma‘il an-Nabhani, Wasa’il al-Wushul ila Syama’il ar-Rasul saw., 2002: 212).

Sikap luhur inilah yang juga membekas di dalam sanubari Sayyidina Umar bin Khattab ra. Dalam hal ini, ketika mendengar Rasulullah saw. wafat, maka beliau menangis sembari mengadukan beberapa keutamaan dan kemuliaan Rasulullah saw., seperti akhlak mulia Nabi saw. yang tetap mendoakan baik kepada kaumnya yang durhaka. Padahal mereka telah menginjak punggung Rasulullah saw., melukai wajahnya sehingga meneteskan darah, dan bahkan mematahkan giginya. Namun, Rasulullah saw. malah berdoa: “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui” (Ihya’, hlm. 368).

Sementara Nabi Nuh as. mendoakan binasa semua kaumnya yang durhaka, sebagaimana diabadikan dalam al-Qur’an surat Nuh (71): 26, yaitu: “Ya Tuhan-ku, janganlah Engkau Biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.” Sehingga mereka binasa diterjang dan dilumat banjir bandang. Menurut Sayyidina Umar bin Khattab ra., jika Rasulullah saw. berkenan mendoakan kaumnya yang durhaka seperti doa Nabi Nuh as. tersebut, maka semua orang pasti sudah binasa (hlm. 368). (Baca: Habib Ahmad bin Jindan: Mencaci Maki Pemimpin Bukan Bagian dari Jihad)

 Rasulullah saw. Bukan Sosok Pencaci

Rasulullah saw. bukan sosok yang keji dan kasar (baik tutur katanya maupun sikapnya), tetapi beliau adalah sosok yang lemah lembut dan ramah. Oleh karena itu, beliau tidak pernah mengeluarkan kata-kata kotor dan juga tidak pernah mencaci orang-orang beriman (mukmin). Jika, misalnya, ada mukmin yang pernah dicaci oleh Rasulullah saw., maka cacian itu menjadi penebus dosa dan rahmat bagi mukmin tersebut (Syama’il ar-Rasul saw., hlm. 211 dan Ihya’, hlm. 847).

Bahkan Rasulullah saw. sama sekali tidak pernah mengutuk (melaknati) perempuan dan pembantu (Ihya’, hlm. 847). Sayyidina Anas bin Malik ra. pernah menjadi pembantu Rasulullah saw. selama sepuluh tahun. Dalam hal ini, Rasulullah saw. tidak pernah mengatakan “huh” kepada Sayyidina Anas. Beliau juga tidak pernah menegur Sayyidina Anas ketika membuat sesuatu ataupun ketika meninggalkan sesuatu (Syama’il ar-Rasul saw., hlm. 210).

Di sisi lain, Rasulullah saw. tidak pernah memukul perempuan dan pembantu. Bahkan beliau tidak pernah memukul siapapun, kecuali dalam peperangan (hlm. 212). Artinya, beliau hanya memukul orang-orang yang memeranginya dalam peperangan. Beberapa sifat dan sikap luhur Rasulullah saw. tersebut berdasarkan beberapa hadis yang disebutkan dalam kitab Ihya’ Ulum ad-Din dan Wasa’il al-Wushul ila Syama’il ar-Rasul saw.

 Mengutuk dan Mendoakan Orang Lain Celaka adalah Perbuatan Maksiat

Mengutuk (melaknati) makhluk Allah secara zatnya adalah bertentangan dengan ajaran Islam yang disebarkan di pesantren-pesantren Nusantara. Menurut Imam al-Gazali dalam Bidayah al-Hidayah (sebuah kitab tasawuf yang banyak dikaji di pesantren-pesantren Nusantara), mengutuk makhluk Allah termasuk maksiat lisan. Dalam hal ini, setiap Muslim haram mengutuk makhluk Allah secara zatnya, baik binatang, makanan, maupun manusia (meskipun kafir). Di sini disebutkan mengutuk makhluk Allah secara zatnya, bukan perilaku atau perbuatannya (hlm. 69 dan lihat juga Imam Nawawi al-Jawi, Maraqiyy al-‘Ubudiyyah, hlm. 69).

Oleh karena itu, Imam al-Gazali menekankan setiap Muslim harus menjaga lisannya dari perbuatan maksiat lisan tersebut. Apalagi kelak di hari kiamat Allah tidak akan mengurus dan menuntut sikap seorang Muslim yang tidak pernah mengutuk iblis dan orang lain (yang dianggap durhaka, kafir, atau jahat) selama hidupnya (hlm. 69).

Artinya, Allah tidak akan bertanya: “mengapa kamu diam saja dan tidak pernah mengutuk si fulan (yang dianggap durhaka, kafir, atau jahat) sewaktu masih hidup?” atau “mengapa kamu sama sekali tidak pernah mengutuk iblis dalam sepanjang hidupmu?” kepada setiap Muslim di akhirat kelak. Sebab, Allah memang tidak menghendaki setiap Muslim mengutuk orang lain ataupun iblis. Sebaliknya, kelak di akhirat Allah akan menuntut dan mengadili setiap Muslim yang pernah melaknati makhluk Allah sewaktu masih hidup (hlm. 69).

Selain itu, termasuk maksiat lisan adalah mendoakan orang lain celaka. Oleh karena itu, setiap Muslim haram mendoakan orang lain celaka meskipun orang itu jahat dan menzaliminya. Dalam hal ini, setiap Muslim harus memasrahkan urusan orang zalim tersebut sepenuhnya kepada Allah (hlm. 69). Sebab, segala urusan, hidup, dan mati orang-orang zalim berada dalam pengawasan dan genggaman Allah. Sehingga cukup Allah saja yang membuat perhitungan kepada setiap orang yang zalim. Wa Allah A‘lam wa A‘la wa Ahkam…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here