Rasulullah Menulis Kalimat Tauhid di Bendera? Ini Bantahan untuk Felix Siauw

6
2524

BincangSyariah.com – Masih di video terkait protesnya soal pembakaran bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid, dai muda berlatarbelakang ormas HTI Felix Siauw menyatakan bahwa kalimat tauhid yang tertulis diatas bendera hitam ditulis langsung oleh Rasulullah Saw. Karena video tersebut beliau tampilkan di akun Instagram pribadinya, durasi tidak memungkinkan ia menjelaskan lebih jauh karena waktunya tidak lebih dari satu menit. Tapi pada intinya, video itu beliau sampaikan sebagai bentuk sanggahannya terhadap praktik pembakaran bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid.

Tapi, apa benar Rasulullah menulis sendiri kalimat tauhid di bendera, seperti yang ia sampaikan? Bukankah ada keterangan bahwa Rasulullah adalah al-nabiy al-ummiy, yang tafsiran mayoritas ulama adalah laa yaktubu (tidak bisa menulis?

Memang, persoalan Nabi Saw. al-Ummi adalah masalah yang sudah diperbincangkan para ulama sejak lama. Diantara ayat Alquran yang menjadi dasarnya adalah surah al-A’raf: 175,

 الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنْ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمْ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمْ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأَغْلالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنزِلَ مَعَهُ أُوْلَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ

(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung (157)

Saya fokus pada kata al-Nabiy al-Ummiy. Mengutip al-Qurthubi dalam karyanya al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an dengan mengutip perkataan Ibn ‘Abbas:

Baca Juga :  Dialog Dengan Anak Soal Makna Ziarah Makam Orang Saleh

كان نبيكم صلى الله عليه وسلم أميا لا يكتب ولا يقرأ ولا يحسب

“Nabi kalian adalah Nabi yang “Ummi”, tidak menulis, tidak membaca, dan tidak menghitung.”

Rata-rata, para ulama berpendapat demikian. Nabi Saw. adalah seorang Nabi yang tidak bisa menulis sejak awal. Pendapat ini juga diperkuat dalam surah al-‘Ankabut : 48,

وَمَا كُنتَ تَتْلُو مِن قَبْلِهِ مِن كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ ۖ إِذًا لَّارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ

 “Dan tidaklah engkau membicarakan Alquran itu sebelumnya, dan menulisnya dengan tanganmu. Jadilah orang-orang yang kafir kepadamu menjadi ragu (untuk mengingkarimu)”

Ayat ini, menurut para ulama menjadi penjelas bahwa yang dimaksud ummi adalah Nabi tidak bisa menulis. Menurut ayat 48 surah al-‘Ankabut tersebut, kalau Nabi bisa menulis, orang-orang yang mengingkari kenabian Nabi Muhammad dipastikan akan mudah mengingkari Alquran, karena mereka dengan mudah menyimpulkan kalau Nabi Saw. mengarang sendiri Alquran.

Pendapat ini juga didukung oleh para ahli bahasa bahwa ungkapan dalam Alquran kalau Nabi adalah seorang ummi adalah memang yang tidak bisa membaca dan menulis. Diantaranya yang berpendapat adalah Ibn Manzhur dan Raghib al-Ashfihani. Menurut Ibn Qutaibah, kata ummi itu dimaksud adalah ummatu al-‘arab, bangsa Arab. Menurut Ibn Qutaibah, memang mayoritas bangsa Arab dimasa itu tidak bisa menulis dan membaca. Tapi tidak berarti tidak ada. Termasuk yang tidak bisa menulis adalah Nabi Muhammad Saw.

Dari beberapa penjelasan di atas, saya kira jelas bahwa Nabi Saw. tidak bisa menulis, tapi ia adalah sosok yang memberikan perhatian serius terhadap soal penulisan. Sehingga, pernyataan Felix Siauw kalau Nabi pernah menuliskan la ilaaha illa Allah sendiri diatas bendera hitam, itu sejatinya keliru. Apalagi jika ditambah kalau informasi bendera hitam bertuliskan laa ilaaha Illa Allah tersebut setelah diteliti ternyata sangat lemah dari perspektif ilmu hadis. Semoga kita semua dapat terus dan saling belajar. Wallahu A’lam.

6 KOMENTAR

  1. Menurut pandangan saya, Allah mengajarkan semua pada nabi Muhammad Saw agar beliau berfungsi baik sebagai kalifah di muka bumi, mengingat dan menulis yang dibaca, sebagaimana Allah mengajar nabi Adam As. Tidak bisa menulis bermakna tidak bisa mengarang, membuat buat tulisan seperti kebanyakan penyair saat itu. Tidak bisa menambah nambah dan mengurang ngurang tulisan seperti bacaan yang diwahyukan, melebih lebihkan wahyu yang diterima.. itulah makna tidak “bisa menulis” lebih dan kurang dari yang diwahyukan.

  2. menurut pandangan saya, “tidak bisa menulis”, tidaklah mungkin Allah mengutus seseorang sebagai khalifah tidak mempersiapkan untuknya agar tugas yang diembannya itu berbuah baik… Seperti nabi Adam As. dipersiapkan Allah dengan berbagai macam nama nama benda untuk pengetahuannya yang tidak diajarkan pada malaikat dan jin. Jadi “Tidak Bisa Menulis” bermakna bahwa nabi Muhammad Saw tidak bisa menambah nambah dan mengurangi kalimah wahyu yang diterima dan ditulis Nya.. Tidak bisa menambah dan mengurangi kalimah wahyu menunjukkan bahwa kalimah wahyu itu tidak mengandung unsur rekayasa satu kata dan huruf pun., sebagaimana di zaman itu sejumlah orang yang mampu membuat tulisan syair yang dikarangnya.

  3. simak lagi video beliau akhi…adakah ust felix mengatakan : Rasulullah saw menulis “sendiri” kalimat tauhid di rayah liwa’?

    Atau ada yg mengatakan. Bung Masrur lah yg pertama kali membangun masjid di kampungnya. Apkah berarti antum mengangkut bata, mengaduk semen sendiri utk pembangunan masjid tsb? 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here