Rasulullah Marah pada Sahabat yang Tidak Jujur dalam Bekerja

0
1283

BincangSyariah.Com – Setiap orang membutuhkan harta benda untuk menyambung keberlangsungan hidup. Salah satu cara mendapatkan harta itu dengan bekerja sungguh-sungguh. Islam pun menekankan pada umatnya untuk memiliki etos kerja yang baik. Namun, Rasulullah marah ketika umatnya menghasilkan harta dengan bohong dan curang. (Baca: Mendiskusikan Hadis tentang Etos Kerja)

Ketika menerima risalah kerasulan, Rasulallah saw. tidak pernah memerintahkan kepada salah seorang pun shahabat-shahabatnya untuk meninggalkan pekerjaan yang sedang dijalani. Bahkan Rasulullah mendukung pekerjaan mereka dan memerintahkan agar mereka profesional dalam bekerja. Namun Rasulullah sangat marah ketika para sahabatnya berbuat curang dalam bekerja. Diriwayatkan dalam sebuah hadis:

عن أبى هريرة أن النبى صلى الله عليه وسلم مر فى السوق على صبرة طعام فأدخل يده فيها فنالت بللا، فقال : ما هذا يا صاحب الطعام؟ فقال يا رسول الله أصابته السماء، أفلا جعلته فوق الطعام حتى يراه الناس! ثم قال صلى الله عليه وسلم ، من غشنا فليس منا

Dari Abu Huriarah ra yang pernah menyaksikan Rasulullah berjalan di pasar melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalam makanan tersebut, lantas tangan beliau menyentuh sesuatu yang basah, maka beliau bertanya; ‘Apa ini wahai pemilik makanan?’ Pemiliknya menjawab; ‘Wahai Rasulallah, makanan tersebut terkena air hujan’. Beliau bersabda; ‘Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian atas makanan agar manusia dapat melihatnya. Barangsiapa menipu maka dia bukan dari golongan kami’”. (HR. Muslim.102) (Baca:

Ali Al-Khawwash ra berkata; “Menurutku orang yang makan dari hasil pekerjaannya sendiri walaupun pekerjaan yang tidak disenangi, seperti tukang bekam dan pembuat tombak, itu lebih baik daripada orang ahli ibadah yang makan dari hasil menjual agamanya dan dari pemberian orang-orang lantaran kebaikannya

Baca Juga :  Apakah Anak Kecil Wajib Disuruh Berwudhu Sebelum Menyentuh Al-Quran?

Setiap orang yang mengharapkan kebaikan dalam pekerjaannya dan tidak menggantungkan diri pada pekerjaannya, maka Allah Swt. akan memberkahi modal usahanya dari arah yang tidak ia sadari sehingga harta yang ia dapatkan itu berkah. Namun sebaliknya, barangsiapa yang curang dalam pekerjaannya, maka Allah akan membongkar kecurangannya, menghilangkan barakahnya dan dalam waktu dekat akan menjadi bahan cemoohan, karena sesungguhnya Allah Swt. menjadikan kefakiran dalam kecurangan dan menjadikan berkah dalam ketakwaan.

Syekh Abd al-Wahhab asy-Sya’rani dalam kitab Al-Minahus Saniyyah (juz 1, hlm 16) menegaskan: Sungguh Allah Swt. menjadikan manusia sebagai hamba yang dipercaya atas dirinya sendiri untuk memilih pekerjaan. Apabila curang, berarti ia telah mengkhianati agamanya, diri sendiri, dan seluruh ummat manusia.

Wallahu A’lam Bissawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here