Melihat Isu Rasialisme atas Tewasnya George Floyd dari Sudut Pandang Hadis Nabi

0
126

BincangSyariah.com- Akhir-akhir ini, isu mengenai rasialisme atau rasisme terangkat lagi ke publik Amerika Serikat. Tak pelik sebagian besar warga AS turut dalam aksi demonstransi yang dilakukan di berbagai kota. Aksi perlawanan ini tak lain adalah karena sebab tewasnya George Floyd, seorang petugas keamanan di sebuah restoran di kota Minneapolis.

George Floyd (46 tahun) tewas tidak bisa bernafas karena diinjak lehernya dengan lutut salah seorang aparat kepolisian di sana yang bernama Derek Chauvin. Tewasnya Floyd dilatarbelakangi oleh dugaan penipuan dengan modus membeli barang di sebuah toko kelontong dengan uang palsu pada 25 Mei 2020 malam waktu setempat. (Baca: Islam Menentang Rasisme dan Diskriminasi)

Ia dilaporkan oleh salah satu pegawai toko. Tak lama aparat kepolisian kemudian mendatangi dan langsung bertindak terhadap Floyd. Namun sangat disayangkan, pria berperawakan dengan tinggi dua meter tersebut tewas dengan berulangkali mengerang kesakitan sembari mengatakan dengan lirih, “saya tak bisa bernafas”, sebelum prosedur hukum mengusut kasus yang menimpa dirinya.

Dilansir dari Kompas.com pada hari Sabtu (30/5), bahwa aksi demonstransi dilakukan di berbagai wilayah di Amerika Serikat, diantaranya Atalanta, Minneapolis, Detroit, Denver, Houston, Louisville, New York dan San Jose. Tuntutan yang bertajuk “I Can’t Breathe” tersebut juga merupakan bentuk protes terhadap berbagai kasus kekerasan yang dilakukan aparat keamanan kepada warga sipil yang sebabnya ditengarai oleh tendensi emosional semata.

Menurut beberapa sumber, kasus kekerasan yang berujung tewasnya rakyat sipil di atas, kebanyakan menimpa warga kulit hitam. Hal ini terbukti mulai dari kasus kematian Trayvon Martin (pelajar kulit hitam yang ditembak mati) pada 26 Februari 2012, hingga tertembaknya Breonna Taylor (seorang petugas medis) pada pertengahan maret tahun 2020. Pelbagai peristiwa ini, kian menggugah kembali kepedulian dan gerakan anti rasialis yang sangat rawan di sana dengan tajuk #BlackLivesMatter.

Rasulullah SAW. Memberantas Bentuk Rasialisme

Baca Juga :  Hari Ini Malam 17 Ramadan, Mari Memaknai Peristiwa Nuzulul Quran

Peristiwa rasialisme mengenai berbagai perbedaan seperti warna kulit, agama hingga kesukuan, sebenarnya tidak pada akhir-akhir ini saja. Islam pun memandang bahwa praktik distorsi pluralitas seperti ini harus dihilangkan dan tidak boleh menjadi dogma yang mendarah daging dalam sejarah manusia.

Rasulullah SAW. datang salah satunya juga dalam rangka menghapus dan menenggelamkan superioritas suku dan kaum tertentu. Bagaimana tidak? hal ini terlihat dari fakta historis yang mengungkap bahwa aspek kesukuan pada masa itu masih sangat kental.

Dalam hadis riwayat Tirmidzi no. 3891, Rasulullah SAW. menekankan bahwa perbedaan manusia di mata Tuhan hanyalah seputar tentang yang bertakwa dan melawan syariat-Nya. Redaksi lengkap hadis tersebut berbunyi sebagai berikut,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَدْ أَذْهَبَ اللَّهُ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَفَخْرَهَا بِالْآبَاءِ مُؤْمِنٌ تَقِيٌّ وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ وَالنَّاسُ بَنُو آدَمَ وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ

Artinya:

dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari diri kalian seruan-seruan Jahiliyah dan berbangga-bangga dengan nenek moyang, (yang ada hanyalah) seorang mukmin yang bertakwa atau seorang fajir (pendosa) yang celaka, semua manusia adalah anak Adam, dan Adam tercipta dari tanah

Adapula dalam riwayat Bukhari no. 3257., seorang Muhajirin memukul pantat orang Anshor sehingga membuatnya marah. Seketika itu orang Anshor tersebut langsung menyeru kaumnya, “Wahai Kaum Anshor”. Tak lama kemudian, orang Muhajirin tersebut balik menyeru kaumnya dengan mengatakan, “Wahai Kaum Muhajirin”. Rasulullah SAW. kemudian mengetahui hal ini serta seakan bertanya,

مَا بَالُ دَعْوَى أَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ

Artinya:

Mengapa seruan-seruan kaum jahiliyah masih saja terus dipertahankan?”

Baca Juga :  Membaca Sejarah Lama: Pelajaran tentang Mengalah pada Kekuasaan dari Kisah Jaka Tingkir

Setelah mendengar penjelasan mereka saat itu, Rasulullah SAW. pun bersabda,

دَعُوهَا فَإِنَّهَا خَبِيثَةٌ

Tinggalkanlah seruan itu karena hal semacam itu tercela (buruk)“.

Deklarasi Kemanusiaan Dari Rasulullah SAW.

Nabi Muhammad SAW. telah menjadi sosok revolusioner sejati yang sangat mengedepankan konsep kemanusiaan yang universal. Beberapa ide pemikiran Beliau dalam meletakkan konsep ini salah satunya tertuang pada peristiwa Piagam Madinah. Di sana kita bisa melihat kebijakan politik Rasulullah SAW. sebagai seorang pimpinan negara, yang memberikan ruang perlindungan setara bagi seluruh warga dalam urusan agama yang dipeluknya.

Tidak hanya itu, ketika momentum sempurnanya risalah islam pada peristiwa haji wada’, Rasulullah SAW. masih gencar menyisipkan konsep kemanusiaan saat berkhutbah. Kisah ini diabadikan dalam riwayat Ahmad no. 22391 dengan sangat fenomenal yang berbunyi,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ وَاحِدٌ وَإِنَّ أَبَاكُمْ وَاحِدٌ أَلَا لَا فَضْلَ لِعَرَبِيٍّ عَلَى أَعْجَمِيٍّ وَلَا لِعَجَمِيٍّ عَلَى عَرَبِيٍّ وَلَا لِأَحْمَرَ عَلَى أَسْوَدَ وَلَا أَسْوَدَ عَلَى أَحْمَرَ إِلَّا بِالتَّقْوَى

Artinya:

Wahai sekalian manusia! Rabb kalian satu, dan ayah kalian (Nabi Adam a.s.) satu, ingat! Tidak ada kelebihan bagi orang arab atas orang ‘ajam dan bagi orang ‘ajam atas orang arab, tidak ada kelebihan bagi orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, bagi orang berkulit hitam atas orang berkulit merah kecuali dengan ketakwaan

Seruan Rasulullah Saw. tersebut memberikan kesimpulan yang komperehensif bahwa islam sangat menghargai segala perbedaan. Hal ini sudah digariskan lama sejak awal kemunculan islam. Pada masa sekarang, muncul banyak sekali bentuk reduksi perjuangan nilai-nilai kemanusiaan yang muatannya sama dengan pesan-pesan Rasulullah SAW di atas. Seperti halnya pada Deklarasi Wina (Vienna Declaration and Programme of Action) oleh PBB pada tahun 1993, yang menjadikan konsep kemanusiaan sebagai isu bahasan penting.

Baca Juga :  Puasa Menurut Syekh Abdul Qadir al-Jilani

Semoga aksi demonstransi beserta dengan kerusuhan yang dilatarbelakangi dari tewasnya George Floyd di Amerika Serikat tersebut segara usai. Selain itu peristiwa ini penulis harap dapat menjadi pelajaran bagi seluruh umat manusia, bahwa perbedaan dalam hal apapun tidak bisa dijadikan dalil untuk menciptakan kesenjangan dan permusuhan.

Wallahu a’lam bi as showaab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here