Ramai Virus Corona, Ini Perdebatan Ulama tentang Penyakit Menular

3
3291

BincangSyariah.Com – Seluruh dunia saat ini sedang menyorot salah satu penyakit baru dan dinilai membahayakan nyawa: Novel Coronavirus 2019, atau sering dicatat sebagai nCov-2019 dan Wuhan Coronavirus. Penyakit ini adalah infeksi saluran pernapasan yang diakibatkan oleh virus dari famili Coronaviridae. Pada kondisi berat, virus ini memicu radang paru-paru (pneumonia).

WHO telah menyebutkan status Coronavirus sebagai global epidemic akibat kasus terkonfirmasi di berbagai negara, meningkat dari beberapa waktu lalu saat masih dinyatakan sebagai outbreak di daerah Cina. Beragam upaya dilakukan para ilmuwan dan pemerintah dengan mendorong penemuan vaksin maupun obat, serta memutus rantai penularan dengan isolasi daerah Wuhan dan pemulangan warga negara asing di daerah tersebut, termasuk pembatasan aktivitas ekonomi dengan Cina.

Penyakit nCov-2019 ini terhitung mudah menular, mengingat pesatnya angka pasien terkonfirmasi menderita infeksi Coronavirus ini. Di era sekarang, kita mengenal banyak sekali penyakit menular mulai dari penyakit kulit, seperti cacar, kudis, kurap akibat jamur, serta penyakit tuberkulosis, Hepatitis, dan flu Coronavirus ini.

Pada satu masa, perlu Anda tahu, para ulama berpoemik soal ada tidaknya penyakit menular ini dalam kehidupan. Salah satu sumber perdebatan ada atau tiadanya penyakit menular ini adalah hadits berikut:

لا عدوى ولا طيرة، ولا هامة ولا صفر، وفر من المجذوم كما تفر من الأسد

Tidak ada penyakit menular, tidak ada dampak dari thiyarah, tidak ada kesialan karena burung hammah, tidak ada kesialan para bulan Shafar. Dan larilah dari penyakit kusta sebagaimana engkau lari dari singa” (HR. al-Bukhari)

Mengenai pembahasan hadis di atas, ulama yang cukup baik mendokumentasikan perdebatan soal pemahaman hadis ini adalah Ibnu Hajar al-Asqalani, dalam karyanya Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari.

Secara literer hadits tersebut menyatakan bahwa tiada penyakit menular. Namun, di dalam satu redaksi matan juga, ada perintah nabi untuk menjauhi penderita kusta seperti riwayat Imam al-Bukhari di atas.

Hadis dengan redaksi demikian diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah. Satu pendapat menyebutkan bahwa sangat mungkin Abu Hurairah terlupa saat meriwayatkan hadis soal tiadanya penyakit menular ini. Namun setelah dilakukan takhrij, diketahui bahwa periwayat hadis tersebut bukan hanya Abu Hurairah, melainkan dari banyak sekali jalur sahabat. Dan semisal benar diakui benar bahwa Abu Hurairah sedang mengantuk atau lalai saat meriwayatkan hadis, hal ini akan menurunkan kredibilitas beliau sebagai kalangan sahabat yang sering bergaul dengan Nabi.

Baca Juga :  Jika Terkena Penyakit Menular, Apakah Boleh Tidak Shalat Jumat?

Selain itu, hadis tentang tiadanya penyakit menular (laa ‘adwa) berselisih dengan banyak hadis lain menyatakan bahwa orang atau hewan yang berpenyakit mesti dijauhkan dari yang sehat. Seperti contoh berikut,

لا يورد ممرض على مصح

“Jangan mengumpulkan (unta) yang sakit dengan yang sehat” (HR. at-Tirmidzi)

Atau hadis berikut,

لَا تُدِيمُوا النَّظَرَ إِلَى الْمَجْذُومِينَ

“Jangan terlalu berlama-lama memandang para penderita kusta.” (HR. Ibnu Majah)

Menyikapi hadis-hadis yang bertentangan, ulama ahlul hadits memberi solusi diantaranya dengan menggabungkan riwayat-riwayat yang ada (al-jam’u), atau menelaah kemungkinan nasikh mansukh hadits, serta melakukan perbandingan kualitas antar riwayat

Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Bari memilih mengunggulkan pendapat yang menggunakan metode al-jam’u

وَالصَّحِيحُ الَّذِي عَلَيْهِ الْأَكْثَرُ وَيَتَعَيَّنُ الْمَصِيرُ إِلَيْهِ أَنْ لَا نَسْخَ بَلْ يَجِبُ الْجَمْعُ بَيْنَ الْحَدِيثَيْنِ وَحَمْلُ الْأَمْرِ بِاجْتِنَابِهِ وَالْفِرَارُ مِنْهُ عَلَى الِاسْتِحْبَابِ وَالِاحْتِيَاطِ وَالْأَكْلُ مَعَهُ عَلَى بَيَانِ الْجَوَازِ

 “Pendapat yang shahih, diikuti lebih banyak ulama adalah tidak ada nasakh dalam riwayat hadits ini, melainkan kedua hadits ini mesti dipahami bersama: perintah menjauhi penderita adalah cara yang dianjurkan dan langkah hati-hati; serta makan bersama, menunjukkan kebolehannya.

Pilihan metode al-jam’u merupakan metode untuk memahami beberapa hadis shahih yang kerap lebih diunggulkan ahlul hadits, apalagi hadis-hadis yang bertentangan itu kualitasnya shahih dan bisa dijadikan dasar hukum. Hadis penyakit menular itu, berdasarkan hasil metode al-jam’u, dipahami sesuai konteks masing-masing sehingga keduanya tidak bertentangan.

Dampak pendapat al-jam’u ini berimbas pada masih adanya ulama yang belum meyakini bahwa penyakit menular itu benar adanya. Sekian di antara mereka masih berpegang pada makna literer teks hadis. Ada yang menyebutkan bahwa menjauhkan diri dari penderita kusta, adalah bentuk sikap agar penderita tersebut tidak semakin sedih dan jauh dari rasa syukur akibat melihat orang sehat – dan ketiadaan penyakit menular tetap dipegang.

Baca Juga :  Ramai Virus Corona, Ini Doa Agar Terhindar dari Penyakit Menular

Selain itu, ada pendapat bahwa hadits yang berselisih ini beda konteks: hadis laa ‘adwa, dituturkan Nabi kepada orang-orang yang kuat fisik, yakin dan beriman bahwa tidak ada penyakit yang dapat menular. Sedangkan hadis untuk menjauhi orang sakit, disampaikan kepada orang-orang yang kurang yakin dari fisik maupun imannya terhadap penyakit.

Pemahaman ini seperti terjadi dalam problem perselisihan hadis seputar ruqyah. Di sekian riwayat hadis, Nabi melarang ruqyah. Namun banyak sekali hadis lain yang menyatakan kebolehannya. Karena itulah larangan ruqyah berlaku adalah bagi kalangan khawwash atau kuat spiritual, sedang kebolehan ruqyah adalah untuk kebanyakan orang yang sudah menggunakan ruqyah dalam keseharian.

Lain lagi Syekh Abu Bakar Al Baqillani. Hadis tentang penyakit menular yang bertentangan tersebut, menurut beliau hanya untuk kasus kusta, kurap, barash serta ragam penyakit lain yang secara eksplisit dinyatakan dalam hadis. Selain yang disebutkan Al Quran atau hadis, tidak ada jenis penyakit menular lainnya.

Pendapat Imam Ibnu Qutaibah dalam Ta’wil Mukhtalaf al Hadits, sebagaimana dikutip Ibnu Hajar, transmisi penyakit dapat melalui perantara persentuhan, sering bergaul dengan penderita, serta mencium bau tubuh mereka. Para tabib zaman itu melarang berinteraksi dengan penderita kusta akibat risiko mencium bau badan mereka yang dipandang bisa menimbulkan penyakit serupa, demikian kurang lebih Ibnu Qutaibah.

Perintah untuk lari dari penyakit kusta, ini sebagai bentuk sadd adz dzari’ah (menghindari kemungkinan buruk). Bisa jadi ketika seseorang tidak menjauhi penyakit yang dinilai bisa menular, takdir Allah ia akan terkena penyakit yang sama. Timbullah keyakinan penyakit bisa menular meski tanpa peran Allah di situ. Dalam koridor tauhid maupun tasawuf, meniadakan peran Allah dalam tiap jengkal kehidupan adalah bentuk kesyirikan. Karena itu: menjauhi penderita penyakit yang dianggap menular adalah usaha melindungi iman.

Imam Al-Baihaqi berpendapat bahwa dahulu orang Arab pra-Islam meyakini bahwa penyakit bisa menular dengan sendirinya, tanpa peranan Allah di situ. Nabi pun mencontohkan bahwa tertular atau tidak tertular penyakit adalah soal kehendak Allah – dan demikianlah beliau membaiat, bersalaman hingga makan bersama penderita kusta. Hadis tentang menjauhi penderita penyakit atau menjauhi daerah terdampak adalah suatu usaha – yang bagaimanapun mesti disandarkan semata-mata pada kehendak Allah.

Baca Juga :  Hukum Transaksi Menggunakan Go-Pay dan Ovo, Benarkah Mengandung Riba?

Segala spektrum pendapat ulama soal ada atau tidaknya penyakit menular ini, kiranya didasari oleh beberapa hal. Pertama, keterbatasan pengetahuan soal penyakit. Alih-alih memiliki cukup informasi soal vektor dan cara penularan penyakit maupun wabah, suatu penyakit dipandang menular akibat kontak kulit semata.

Kedua, kecenderungan kalangan ahlul hadits untuk tetap mengamalkan dan merujuk hadis-hadis yang telah dinilai shahih, sehingga metode mencari titik temu pemahaman hadis yang bertentangan menjadi prioritas mereka. Ketiga, adanya diskusi dalam koridor ilmu kalam soal konsep kehendak Tuhan di kalangan ulama. Ragam pendapat di atas menunjukkan bahwa kepercayaan akan penyakit menular sangat erat kaitannya dengan konsep tawakkal maupun takdir.

Percaya atau tidak percaya akan penyakit menular, kepasrahan untuk terdampak wabah penyakit masih populer dinilai lebih mulia karena hadis ini: mati akibat wabah penyakit adalah meninggal secara syahid – dalam penjelasan Ibnu Hajar, syahid akhirat.

الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ الْمَطْعُونُ وَالْمَبْطُونُ وَالْغَرِقُ وَصَاحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Orang yang mati syahid ada lima, yakni orang yang mati karena tho’un (wabah), orang yang mati karena menderita sakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang mati karena tertimpa reruntuhan dan orang yang mati syahid di jalan Allah.” (HR. Bukhari)

Di masa-masa kemudian, Manfred Ullmann mencatat dalam Islamic Medicine, sementara intelektual dan dokter muslim gerah dengan sekian ulama yang masih gamang dalam memercayai adanya penyakit infeksi di masyarakat luas. Wabah pes telah membunuh banyak orang di kurun abad 11-13 Masehi, dan hal ini menunjukkan penyakit menular memang benar adanya. Dalam hadits pun, para intelektual ini mempertanyakan posisi ulama pada hadis-hadis tentang penularan penyakit. Wallahu a’lam.

3 KOMENTAR

  1. […] Bincangsyariah.Com – Jumlah pengidap virus Corona (Covid-19) di Indonesia semakin bertambah. Juru bicara pemerintah penanganan Corona, Ahmad Yurianto, menuturkan bahwa sejak 2 Maret hingga hari ini (22/03), jumlah pengidap Corona telah mencapai angka 450 kasus. Bahkan berdasarkan laman pemerintah, covid19.go.id, virus Corona telah menyebar ke 50% provinsi di Indonesia. Tentu ini merupakan angka yang sangat mengkhawatirkan. (Baca: Ramai Virus Corona, Ini Perdebatan Ulama tentang Penyakit Menular) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here