Ramadan dan Perempuan Jawa: Sebuah Pandangan dari Luar

0
681

BincangSyariah.Com – Sekitar tahun 2011, saya menghadiri pameran buku yang diselenggarakan panitia hari ulang tahun madrasah dan Pondok Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. Kala itu, tidak sengaja saya berada di samping salah satu guru saya, beliau langsung menawarkan salah satu buku berwarna hijau tebal berjudul Ramadan di Jawa, Pandangan dari Luar karya Andre Moller dari Swedia.

Buku tersebut adalah terjemahan dari tesisnya dengan judul asli Ramadan in Java: The Joy and Jihad of Ritual Fasting. Karena buku ini ditulis dengan pengamatan yang tidak singkat dan ditulis dengan serius serta harganya hanya sepuluh ribu rupiah saya pun membeli buku apik dengan kota Jogjakarta dan Blora sebagai fokus penelitiannya. Salah satu topik yang menarik bagi saya adalah pendapatnya tentang Ramadan dan Perempuan, khususnya di tanah Jawa.

Menurut pengamatan Andre Moller, para perempuan Jawa merupakan bagian integral dari puasa Ramadan, hal itu dapat dilihat dari misalnya salat tarawih dan salat Id, di mana sebagian besar jamaah merupakan perempuan. Lebih lanjut, ia menganggap bahwa pemisahan antara laki-laki dan perempuan dalam salat bukanlah bentuk suatu penindasan perempuan sebagaimana yang selalu dipandang oleh dunia Barat.

Karena menurutnya, sejatinya bukan saja perempuan yang dipisahkan dari lelaki, lelaki pun dipisahkan dari perempuan dan hal ini pun sangat wajar karena pemisahan apa saja memerlukan setidaknya dua entitas. Lagi pula, pemisahan dalam peribadatan ini tidak menimbulkan masalah di Jawa. Sebaliknya, kebanyakan orang mengangap pemisahan seperti itu bakal membantu mereka dalam menunaikan ibadah-ibadah Ramadan, tanpa diganggu jenis kelamin lainnya.

Selain itu, hal yang disoroti Andre Moller adalah berkaitan dengan keadaan lelaki dan perempuan di Jawa selama Ramadan. Menurut pengamatannya perempuan Jawa tidak kalah seringnya dengan lelaki dalam nyekar selama bulan ini, dan Alquran pun dikaji baik perempuan maupun lelaki. Bahkan para perempuan di Jawa menurutnya lebih rajin membaca Alquran dibandingkan dengan para lelaki.

Baca Juga :  Meralat Berita Detik.Com: Khatib KUA harus dari NU, Selain NU Salah Semua

Adapun berhubungan dengan takbiran dan sesi rukyatul hilal, memang diperlukan lelaki (sebagaimana diharuskan madzhab Syafii). Mungkin saja keadaan ini mengagetkan sejumlah tokoh feminis di barat. Akan tetapi, Andre Moller tidak pernah mendengar keluhan dari para perempuan Jawa atas keadaan ini. Dan meski mereka bisa ikut takbiran atau sesi rukyatul hilal, mereka tidak bakal ada waktu untuk itu, sebab banyak makanan yang harus disiapkan pada dua malam ini. Seperti masak merupakan kegiatan yang dikhususkan kepada perempuan di Jawa.

Banyak perempuan ikut merasa bangga atas makanan yang mereka sediakan. Dengan menyediakan makanan yang bergizi dan enak, mereka memastikan bahwa anggota-angoota keluarga lain dapat menunaikan ibadah puasa dengan lancar. Bahwasanya para perempuan sibuk memasak ketika para lelaki takbiran atau rukyatul hilal hendaknya juga tidak mengagetkan dan menggangu para feminis di dunia Barat. Pembagian tugas demikian sebetulnya menurut Andre Moller mirip dengan pembagian tugas ketika Natal. Pembagian tugas seperti itu praktis dan diperlukan: para perempuan bergantung pada para lelaki, begitu sebaliknya.

Andre Moller juga menarik perhatian para pembaca bukunya dengan penelitiannya tentang peran para perempuan. Contohnya ketika acara selametan yang seringkali digambarkan sebagai ritus lelaki saja sebab merekalah yang mengikuti ritusnya sendiri, tapi anggapan demikian tidak sepenuhnya benar menurut Andre Moller. Selametan seperti ini tidak diawali dengan salam sang modin (pemuka agama) di ruang tamu, tapi dengan keputusan mengadakan ritus ini. Dan keputusan ini serta segala persiapannya biasanya di tangan perempuan.

Ketika para perempuan berkumpul di rumah penyelengggara untuk masak secara bersama-sama, maka hal tersebut merupakan sebuah bagian keperempuanan dalam ritus ini. Sebab acara masak ini juga mengakibatkan rasa selamet dan rukun. Berhubungan dengan makanan perlu dicatat pula bahwa terdapat banyak acara tv masak selama bulan puasa yang dikhususkan untuk para perempuan.

Baca Juga :  Allah Maha Pengampun Segala Dosa Kecuali Syirik

Namun, hal yang sangat disayangkan menurut Andre Moller adalah perempuan Jawa (dan Indonesia) masih jarang berkontribusi pada Ramadan melalui media masa. Pedoman puasa dan artikel puasa pada umumnya dikarang lelaki, khotbah disampaikan lelaki, dan lagu dilantunkan lelaki.

Sinetron Ramadan tentu melibatkan aktris (perempuan) tapi sutradara dan pemeran penting lainnya pada umumnya lelaki. Keadaan tidak seimbang ini patut disesalkan menurut catatan Andre Moller. Dan solusi yang ditawarkannya adalah dengan cara memaksimalkan peran mahasiswi di kampus-kampus Islam di Indonesia. Jika hal tersebut diperhatikan, maka ada kemungkinan keadaan ini akan berubah pada masa yang akan datang.

Terakhir, dalam penelitiannya tentang Ramadan dan Perempuan Jawa, Andre Moller   mengutip surah Alahzab ayat 35 yang sering dikutip oleh orang Jawa yang seolah-olah menurutnya ayat tersebut sebagai pendukung gagasan mereka bahwa lelaki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama dalam menunaikan ritus Islam baik pada bulan Ramadan dan pada bulan lainnya.

Adapun terjemahan ayat tersebut adalah“Sungguh laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatan, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya. Laki-laki dan perempuan yang banyaka menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan mereka ampunan dan pahala yang besar.” Demikianlah pandangan dari orang luar yakni Andre Moller dalam tesisnya tentang Ramadan dan perempuan Jawa.

Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here