Rajin Beribadah tapi Menyembah Hawa Nafsunya Sendiri

0
3822

BincangSyariah.Com – Ketika seseorang rajin salat lima waktu, rajin membaca Alquran bahkan hafal di luar kepala, rajin puasa baik puasa wajib maupun sunnah, rajin salat tahajud, rajin ikut pengajian, bibirnya selalu berzikir menyebut  nama Allah.

Akan tetapi di dalam dirinya  ada sifat merasa paling suci, merasa paling benar. Orang lain yang tidak sepaham dan sama dengannya dianggap bid’ah dan sesat. Berarti selama ini orang itu  beribadah bukan menyembah kepada Allah melainkan menyembah hawa nafsunya sendiri.

Berarti selama ini ibadahnya hanya masih sebatas kulit, belum menembus hati dan jiwa. Sehingga jiwanya merasa paling ahli ibadah orang lain dianggap hina. Sehingga hawa nafsu menguasai dirinya dan menyatakan dirinyalah orang yang paling Islam, yang mempunyai kavling surga, sedangkan orang lain sesat masuk neraka.

Padahal semua tujuan beribadah itu untuk membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela dan mengalahkan hawa nafsu sehingga jiwa bercahaya dan  mendapatkan pencerahan rohani.

Dalam menjalankan ibadah harus waspada, Nafsu amarah sangat pintar sekali, sehingga orang yang rajin beribadah dibuai kalau dirinya adalah orang yang paling suci dan benar. Dengan begitu  muncul perasaan bangga dan merasa dirinya orang yang benar sedangkan orang lain adalah salah.

Iblis dahulunya begitu mereka adalah rajin ibadah sehingga derajatnya sampai selevel dengan malaikat. Akan tetapi karena di dalam hatinya masih terdapat sifat sombong merasa dirinya lebih tinggi asal penciptaannya dari Nabi Adam. Maka ketika diperintah Allah sujud kepada Adam dia menolak, akhirnya diusir dari surga dan menjadi makhluk yang terkutuk.

Iblis di setiap dalam diri manusia itu bernama nafsu amarah yang angkuh seenaknya sendiri dan sangat sombong. Jika nafsu amarah dalam diri kita tidak dikalahkan, maka jiwa kita menjadi gelap gulita.

Baca Juga :  Gila Jabatan Termasuk Penyakit Hati? Ini Kata Imam al-Ghazali

Dari Ali Bin Abi Thalib ra. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سَيَخْرُجُ فِى آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِى قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Akan muncul di akhir masa ini nanti sekelompok orang yang umurnya masih muda-muda dan lemah akalnya.

Apa yang mereka ucapkan adalah perkataan manusia yang terbaik.

Mereka suka membaca Alquran akan tetapi bacaan mereka tidak sampai melewati pangkal tenggorokan mereka. Mereka melesat (murtad) dari agama seperti halnya anak panah yang melesat dari sasaran bidiknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika zaman Nabi saw. kelompok di atas disebut dengan Khawarij, maka pada zaman sekarang ini walaupun nama Khawarij sudah tidak ada, tapi model dan kelakuan mereka masih ada dan sama dengan Khawarij, nama kelompoknya saja yang berbeda.

Ciri-ciri mereka adalah gampang menyesatkan orang lain, lalu mudah mengkafirkan orang lain. Dengan begitu mereka tanpa merasa bersalah membunuh orang lain. Paham inilah yang menjadi dasar para kelompok radikal.

Dengan menggunakan atribut Islam, mengklaim pembela agama Islam tapi justru mereka merusak agama Islam dan perbuatan mereka justru bertentangan dengan Islam. Itulah jiwa-jiwa yang gelap yang memperalat dan merusak nama baik agama Islam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here