Rahmat Sebagai Prinsip Beragama: Muslim Sejati Tidak Menyakiti Orang Lain (2-Habis)

0
118

BincangSyariah.Com – Abu Zakariyya Muhyiddin Yahya bin Syaraf an-Nawawi, ulama terkemuka abad ke-7 H sekaligus Mujtahid Tarjīḥ mazhab Syafi’i, dalam Al-Arba’in mengutip hadis yang diriwayatkan Imam Al-Tirmidzī:

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Takutlah kepada Allah dalam keadaan apapun, susulilah perbuatan buruk dengan amal saleh niscaya akan menghapusnya, dan gaulilah manusia dengan baik.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini, seperti pernah diungkapkan oleh Ibn Ḥajar Al-Haitami, mengindikasikan pokok-pokok ajaran agama Islam, yakni manifestasi dasar makna Islam, Iman dan Ihsan. Hadis ini juga menjelaskan dua konsep relasi manusia dalam kehidupannya. Dua konsep itu adalah, pertama, relasi manusia dan Tuhannya, yakni perintah untuk bertakwa kepada Allah di mana pun berada dan seruan untuk menghapus (dosa) amal buruk dengan amal baik. Kedua, relasi antar sesama manusia, yakni seruan untuk berlaku baik kepada siapa pun.

Maka konsekuensi logis dari menjadi seorang muslim sejati adalah menjaga dirinya untuk tidak menyakiti orang lain, siapa pun orang itu. Hal ini sendiri sudah dijelaskan oleh hadis-hadis yang sudah masyhur:

المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَ يَدِهِ

Muslim sejati adalah Muslim yang (membuat) orang lain merasa aman dari (bahaya) lisan dan tangannya.” (HR. Ahmad)

الْمُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ

Mukmin sejati adalah mereka yang membuat orang lain merasa aman atas keselamatan diri dan hartanya.” (HR. Ibnu Majah)

Kata “Al-Nās” yang digunakan Nabi Saw dalam tiga hadis di atas menunjukkan bahwa kewajiban berperilaku santun berlaku tanpa membeda-bedakan ras atau pun suku, bahkan perbedaan agama pun bukan sebuah halangan untuk berperilaku baik Sebagaimana ditegaskan oleh Allah Swt dalam firman-Nya:

Baca Juga :  Lebih Utama Mana, Membantu Kerabat yang Susah atau Naik Haji?

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.” (QS. Al-Mumtahanah : 8)

Bahkan Ibn Rajab berpendapat bahwa nonmuslim termasuk orang yang dimaksud dalam hadis:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Tidak sempurna iman kalian jika belum mencintai saudaranya sebagaimana mencintai diri sendiri

Beliau mengatakan bahwa ‘saudara’ yang dimaksud dalam hadis tersebut juga mencakup persaudaraan antar sesama manusia (Ukhuwwah fi al-Insāniyyah) termasuk dengan nonmuslim, maka konsekuensinya adalah iman seorang muslim belum sempurna jika tidak berperilaku baik terhadap nonmuslim, tentu dengan aturan syariat yang berlaku. Dalam menegaskan perintah berbuat baik pada nonmuslim tersebut, sekaligus menjelaskan prinsip hubungan antara muslim dengan nonmuslim, Imam Al-Qarāfī dalam Anwār al-Burūq fī anwā’ al-Furūq mengatakan:

وَأَمَّا مَا أُمِرَ بِهِ مِنْ بِرِّهِمْ وَمِنْ غَيْرِ مَوَدَّةٍ بَاطِنِيَّةٍ فَالرِّفْقُ بِضَعِيْفِهِمْ وَسَدُّ خَلَّةِ فَقِيْرِهِمْ وَإِطْعَامُ جَائِعِهِمْ وَإِكْسَاءُ عَارِيْهِمْ وَلَيِّنُ الْقَوْلِ لَهُمْ عَلَى سَبِيْلِ اللُّطْفِ لَهُمْ وَالرَّحْمَةِ لَا عَلَى سَبِيْلِ الخَوْفِ وَالذُّلَّةِ وَاحْتِمَالُ إِذَايَتِهِمْ فِي الجِوَارِ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى إِزَالَتِهِ لُطْفًا مِنَّا بِهِمْ

Berperilaku baik kepada orang nonmuslim tanpa merelakan kekufuran mereka dalam hati adalah sebuah kewajiban bagi umat Muslim, seperti membantu mereka yang kurang mampu, lembut dalam ucapan yang mentolerir kesalahan mereka dan tidak membalas perbuatan mereka walau dirinya tersakiti, semua itu dilakukan atas dasar rahmat dan kelembutan sikap, bukan karena merendah dan takut

Baca Juga :  Lupa Membaca Basmalah, Apa Solusi Agar Tetap Dapat Kesunahan?

Beberapa dalil di atas membuktikan bahwa dalam hubungan sosial, Islam menghargai dan melindungi hak-hak manusia, entah muslim maupun nonmuslim, seperti yang pernah disampaikan Syaikh Dr. Mushtofa Abu Shawi dalam pidatonya pada acara “Konferensi Internasional Bela Negara” di Pekalongan pada akhir bulan Juli 2016. Beliau menyampaikan:

وَ أَمَّا فِيْ الحَيَاةِ الدُّنْيَا فَإِنَّ الإِسْلَامَ جَاءَ بِنِظَامٍ رَائِعٍ يَحْكُمُ العَلَاقَاتِ بَيْنَ المُسْلِمِيْنَ وَغَيْرِهِمْ وَهُوَ نِظَامٍ يَتَضَمَّنُ احْتِرَامَ المُسْلِمِ وَغَيْرِ المُسْلِمِ لِلْقَوَانِيْنِ العَامَّةِ وَهُوَ قَائِمٌ عَلَى الرَّحْمَةِ فِي الأَسَاسِ وَكُلِّ مَا يُعَبَّرُ عَنْهَا مِنْ رِعَايَةٍ لِلضُّعَفَاءِ مِنْ غَيْرِ المُسْلِمِيْنَ

Mengenai hubungan di dunia, Islam memiliki aturan-aturan dan hukum yang indah, yang mengatur hubungan antara umat Islam dan umat lain, aturan yang menjunjung harkat dan martabat umat Islam dan umat lainnya, aturan-aturan yang berasaskan rahmat (kasih sayang) juga melindungi orang-orang lemah dari selain umat Islam”.

Demikianlah seharusnya seorang muslim memeluk agamanya, paham akan ajaran beserta prinsip-prinsip dasarnya, karena prinsip itulah yang menjiwai Islam sendiri.Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here