Rahasia Dibalik Harakat Kasrah pada kata al-‘Ilmu (العلم)

0
1533

BincangSyariah.Com – Manusia lahir ke muka bumi ini dalam keadaan tidak tahu apa-apa. Manusia hanya bisa menangis saat keluar dari rahim seorang ibu. Semua terlahir bukan langsung menjadi anak yang pintar atau cerdas. Entah itu anak dari seorang ulama, umaro, konglomerat, orang melarat, sama-sama tidak tahu apa-apa. Allah Swt. berfirman dalam surah al-Nahl [16]: 78,

والله اخرجكم من بطون امهاتكم لا تعلمون شيئا وجعل لكم السمع والابصار والافئدة لعلكم تشكرون

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.

Oleh karena itu, manusia tidak boleh lepas dari yang namanya belajar atau mencari ilmu. Baik melalui pendidikan formal, informal, ataupun non formal. Karena ilmu didapat bukan dari nasab, tapi ia bisa diperoleh dengan kasab, yakni belajar. Di samping menjadi kebutuhan, belajar adalah kewajiban bagi setiap manusia, khususnya umat islam. Baik laki-laki ataupun perempuan. Rasulullah Saw. bersabda:

طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة

Tholabul ilmi faridotun ala kulli muslimin wamuslimatin.

Mencari ilmu adalah sebuah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah.

Mencari ilmu tidak mesti ke sekolahan. Di mana saja ada cahaya ilmu, di sanalah kita bisa menimbanya. Hanya saja salah satu tempat belajar yang baik, bahkan yang terbaik adalah pondok pesantren. Bukan berarti yang tidak mondok itu tidak baik, tapi pondok pesantren sebagai pendidikan tertua di Indonesia memiliki banyak keunggulan. Akan tetapi yang terpenting adalah bagaimana sikap seorang siswa atau santri dalam menuntut ilmu.

Bisa saja yang mondok lebih parah tingkah lakunya daripada yang tidak mondok disebabkan keliru dalam bersikap. Adapun sikap yang seharusnya dimiliki oleh seorang santri atau siswa adalah tawaduk. Tetap rendah hati dalam kesehariannya. Dalam artian tidak takabbur (tinggi hati) walaupun memiliki ilmu segunung.

Tawaduk atau rendah hati memang menjadi sarat utama seorang pelajar. Jangan harap ilmu didapat apabila bersifat takabur. Karena ibarat air, ilmu akan terus mengalir pada tempat (hati) yang lebih rendah (tawaduk). Dalam sebuah syi’ir disebutkan:

العلم حرب للفتى المتعالي # كالسيل حرب للمكان العالي

Al-‘ilmu harbun lilfata al-muta’ali # kassaili harbun lilmakan al-‘ali.

Dalam lafadz al-‘ilmu sendiri terdapat isyarat tentang keharusan tawaduk bagi pelajar. Huruf “ain” dalam lafadz Al-‘Ilmu berharkat kasroh. Harkat kasroh menunjukkan kerendahan hati. Maksudnya selalu merendahkan diri dihadapan orang lain. Utamanya di hadapan seorang guru. Syekh Nawawi Al-Bantani menyebutkan dalam kitab Tausyaikh ‘ala Ibn Qasim,

ومن لطائف الاشارة ان اول حرف من العلم والغنى والخصب مكسور اشارة الى ان صفات العلو الحسنة انما تنال بالانخفاض بخلاف اضدادها من الجهل والفقر والجدب فان اول حرف منها مفتوح اشارة الى ان الصفات القبيحة بنصب النفس.

Wamin lathoifil isyaroti anna awwala harfin minal ‘ilmi, walghina, walkhisbi maksurun isyarotun ila anna sifatil ‘uluwwil hasanati innama tunalu bilinkhifadi bikhilafi adhdadiha minal jahli, walfaqri, waljadbi fainna awwala harfin minha maftuhun isyarotun ila annash shifatil qobihati binasbin nafsi.

Salah satu isyarat yang tersirat dalam hal tersebut. Sesungguhnya harkat huruf pertama (arab) dari ilmu, kaya, dan subur adalah kasroh. Kasroh ini menunjukkan pada sifat agung dan baik hanya bisa didapatkan dari rendah hati.  Berbeda dengan antonim dari ketiga kata tersebut, yakni kebodohan, kemiskinan, dan kegersangan. Permulaan harkat dari yang tersebut adalah fathah. Fathah menjadi isyarat bahwa sifat-sifat tersebut lahir dari kecongkakan diri.

Oleh karena itu, hilangkan sikap takabbur dari hati sebisa mungkin. Gantilah ia dengan sifat tawaduk, yakni rendah hati. Karena ketika rendah hati maka kemuliaan ilmu dan akan didapat. Sebaliknya, jangan harap ilmu diperoleh apabila takabbur tetap bersarang di hati. Allah ta’ala a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here