Rahasia di Balik Perintah Mencelupkan Lalat yang Jatuh ke Minuman atau Makanan

0
1333

BincangSyariah.Com – Salah satu binatang yang sering hinggap ke makanan atau minuman manusia adalah lalat. Apalagi jelang musim hujan, jumlahnya tidak terhitung. Bahkan kita dibuat tak nyaman olehnya. Kadang cangkir atau piring sampai dipenuhi bintik-bintik hitam, bekas kaki lalat.

Lalat memang berbeda dengan lebah. Jika lebah tidak hinggap kecuali pada tempat atau sesuatu yang suci dan harum, maka sebaliknya lalat, ia suka hinggap pada kotoran. Tak heran bila hinggap pada wadah putih selalu meninggalkan bekas hitam. Namun, bukan berarti tahi lalat yang ada pada manusia adalah hasil lalat yang hinggap. (Lalat Mengeluarkan Kotoran, Apakah Najis?)

Mengenai lalat, Rasulullah Saw. pernah bersabda:

اذا وقع الذباب في شراب احدكم فليغتمسه ثم لينزعه فان في احد جناحيه داء وفي الاخر شفاء

Ketika lalat terjatuh di minuman kalian, maka tenggelamkanlah, lalu buanglah. Kerena di salah satu sayapnya terdapat penyakit dan di sayap lain terdapat penawarnya (obat). (Dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhori dan Abu Daud, Bulughul Marom hal. 14)

Dalam artian, lalat yang terjatuh ke minuman kita, maka jangan langsung dibuang, akan tetapi tenggelamkan dulu (tiru logat Ibu Susi, ketika ada kapal asing masuk perairan Indonesia tanpa izin, tenggelamkan!). Karena salah satu sayap lalat berpotensi mengandung penyakit dan sayap lain tersedia penawarnya.

Dalam Kitab Ibanatul Ahkam (juz 1/hal 49-50), dijelaskan tentang beberapa kandungan hadis di atas. Di antaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, hadis tersebut menunjukkan kebolehan membunuh lalat yang jatuh ke dalam minuman atau makanan kita dengan cara ditenggelamkan. Namun, perlu dipeehatikan terlebih dahulu, sayap mana yang sudah tenggelam lebih awal. Jika sayap kanannya, maka langsung dibuang saja, karena yang membawa bibit penyakit adalah sayap kiri.

Baca Juga :  Kisah Abu Bakar As-Shiddiq Tidak Dihisab di Akhirat

Kedua, lalat yang terjatuh ke dalam makanan atau minuman, bangkainya tidak menajiskan. Sebagai bukti, Rasulullah Saw. memerintahkan kita untuk menenggelamkan lalat pada makanan atau minuman. Lalu kita diperintah untuk membuang bangkai lalat tersebut, bukan minuman atau makanannya.

Artinya hewan yang tidak memiliki darah mengalir, maka bangkainya tidak memengaruhi sesuatu (makanan atau minuman) yang dihinggapi.

Ketiga, hadis ini menjadi salah satu bukti mukjizat nabi. Karena tanpa memiliki alat bantu (mikroskop), nabi bisa mengetahui bahwa di salah satu sayap lalat terdapat obat dan penyakit. Hal ini sudah dibuktikan oleh dunia kedokteran. Penyakit yang terdapat di sayap kiri lalat hanya bisa disembuhkam melalui obat yang ada di sayap kanannya.

Keempat, hadis ini menjadi pedoman bagi manusia. Siapa saja yang sakit, maka berobatlah. Kita tidak boleh langsung memasrahkan sepenuhnya (tawakkal) pada Allah Swt., tapi ia harus berusaha terlebih dahulu (ta’aqqol). Manusia tidak boleh berputus asa dari sakit yang menimpanya. Karena Allah Swt. tidak menurunkan penyakit ke muka bumi ini kecuali disertai dengan obatnya.

Simpulan terakhir, seberapa banyakpun lalat yang jatuh ke minuman kita, misal kopi, maka kopi tersebut tetap boleh diminum dan tidak berbahaya. Syaratnya, tenggelamkan semua lalat yang jatuh, lalu angkat. Kopi tersebut kembali seperti semua, seakan-akan tidak dihinggapi lalat sama sekali. Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here