Ragam Pendapat tentang Poligami dalam Islam

1
2342

BincangSyariah.Com – Istilah poligami sontak ramai kembali menjadi tema perbincangan yang menyulut api perdebatan di ruang publik pasca pernyataan Komisioner Komnas Perempuan Imam Nakha’i. Beliau menjelaskan dalam keteranggannya bahwa poligami bukan bagian dari ajaran islam, mengingat, praktek poligami sendiri sudah ada sebelum Islam. Dan, pelakunya tidak hanya orang Islam tapi non muslim juga menjadi bagian dari pelaku.

Alquran dan teks-teks lainnya menurut beliau tidak menunjukkan bahwa poligami bagian dari ajaran islam tapi hanya mengatur praktek poligami. Disamping itu, kata beliau, islam hanya memperbolehkan atau meng-ibahah-kan poligami yang dalam dalam ushul fiqh, menjadi perdebatan apakah ibahah termasuk hukum atau tidak.

Sebetulnya, pernyataan Komisioner Komnas Perempuan tentang poligami merupakan bentuk penguatan terhadap pidato politik Ketua Umum PSI Grace Natalie yang bertemakan “Keadilan untuk Semua, Keadilan Untuk Perempuan Indonesia” pada acara Festival PSI di Jatim Expo, Jalan Ahmad Yani, Surabaya, pada hari selasa 11/12/2018.

Dalam pidatonya Ketum PSI, Menyampaikan bahwa salah satu target yang menjadi tekad perjuangan PSI adalah pelarangan poligami bagi pejabat publik dan aparatur sipil negara lainnya dengan merevisi undang-undang nomor 1 Tahun 1974 yang memperbolehkan poligami.

Menyikapi pernyataan yang kontradiktif tersebut Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang diwakili oleh Zainut Tauhid Sa’adi selaku Wakil Ketum MUI dan Anwar Abbas, selaku Sekjen MUI menjelaskan bahwa pernyataan Komnas Perempuan itu tak berdasar dan menyesatkan.

Pasalnya, menurut mereka hal itu akan berakibat pada statemen bahwa Nabi Muhammad dan para sahabat lainnya hingga sekarang yang telah melakukan praktek poligami dinyatakan telah keluar dari ketentuan ajaran islam. Padahal, telah jelas dan akurat berdasarkan Alquran dan Hadis poligami diperbolehkan dan menjadi bagian dari syariat islam.

Baca Juga :  Mengapa Islam Anjurkan Umatnya Memiliki Sifat Malu?

Sebagai bagian dari masyarakat akademis, penulis juga merasa perlu menyikapi pernyataan Komnas Perempuan tentang status hukum poligami dalam Islam dengan penjelasan dan narasi melalui tulisan ini. Tujuannya agar publik bisa membaca secara cerdas dan bijak atas opini yang digulirkan oleh tersebut. Sehingga klaim negatif antara yang pro dan yang kontra dapat diredam yang puncaknya tetap menjaga ketenangan Negara Kesatuan Repuklik Indonesia tercinta.

Praktek poligami dalam sejarahnya sudah tumpuh dan berkembang jauh sebelum datangnya islam. Hampir Seluruh bangsa di dunia sejak zaman dahulu kala sudah mengenal poligami. Mulai dari Hindu, bangsa Israil, Persia, Arab, Romawi, Babilonia, sampai di negara modern seperti Tunisia (yang melarang secara formal penduduknya berpoligami) dan lain-lain. Poligami merupakan sebuah praktik yang telah dikenal oleh bangsa-bangsa dipermukaan bumi ini sebagai masalah kemasyarakatan yang tidak dapat dipungkiri. (H.M.A. Tihami dan Sohari Sahrani, 2009)

Berdasarkan hal itu, mau tidak mau Islam sebagai agama yang baru pada saat itu harus akomodatif dan menyentuhnya sesuai dengan wajah dan pengaturan yang termuat dalam Alquran dan teks-teks lainnya. Pengaturan dimaksud demi untuk menjaga harkat dan martabat kaum perempuan yang selama itu tereduksi oleh euforia kebolehan poligami semata. Memang, pada awalnya poligami bukan merupakan bagian dari ajaran Islam.

Tapi, kemudian pilogami diakui sebagai menjadi bagian dari ajaran islam. Sekalipun bentuk kebolehannya dibatasi dengan beberapa kriteria dan belum final sehingga tak heran jika para ulama memiliki ragam takwil dan pendapat didalam meyikapinya. (KARSA, Vol. 23 No. 1, Juni 2015)

Pertama, ulama yang membolehkan poligami dengan batas maksimal sembilan istri sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad Saw. Hadis yang melarang sejumlah sahabat Nabi untuk menikah lebih dari empat istri harus dilihat dalam satu konteks. Mungkin karena hubungan nasab, hubungan susuan, dan sebab syar`i lain, maka Nabi meminta sejumlah sahabat yang menikahi banyak perempuan itu untuk menceraikan hingga tersisa empat istri. Ulama yang berpendapat demikian, di antaranya, adalah Zhahiriyah, Ibn al-Shabbâgh, al-`Umrânî, al-Qâsim ibn Ibrâ-hîm, dan sebagian kelompok Syiah.

Baca Juga :  Meneladani Ibadah Sunah yang Dilakukan Nabi di Hari Raya Idulfitri

Kedua, ulama yang menoleransi praktik poligami dalam kondisi darurat. Darurat yang dimaksud, di antaranya, adalah: istri mandul sehingga tidak bisa melahirkan keturunan, istri mengidap penyakit permanen yang menyebabkan istri tidak bisa menjalankan kewajibannya sebagai istri.

Menurut Abduh dan Qâsim Amîn, dua darurat itu bisa menjadi alasan suami untuk berpoligami. Sementara al-Marâghî dan Shihab menambahkan daftar darurat tersebut, seperti libido suami tinggi sementara libido istri rendah, istri menopause sementara suami masih “segar”, jumlah perempuan lebih banyak dari jumlah laki-laki. Namun, untuk pendapat ini “seolah” ulama tidak berpikir jika kondisi sebaliknya yang terjadi; suami mandul, suami mengidap sakit permanen, suami mengalami andropause, jumlah laki-laki lebih banyak dari jumlah perempuan.

Ketiga, para pemikir Islam yang hanya menoleransi poligami pada zaman Nabi. Toleransi ini diberikan bukan karena kondisi saat itu adalah darurat melainkan karena ketidakmungkinan Alquran untuk menghapuskan praktik poligami secara sekaligus. Poligami telah menjadi tradisi di berbagai belahan dunia. Yang paling strategis dilakukan Alquran melalui Nabi bukan menghapus poligami sampai tuntas melainkan membatasi jumlah poligami dengan syarat-syarat yang sulit untuk dijalankan.

Menurut kelompok ketiga ini, yang dituju dari syariat pernikahan adalah monogami bukan poligami. Yang masuk dalam kelompok ketiga ini adalah Fazlur Rahman, Husein Muhammad, dan Abdul Kodir.

Benang merah yang dapat ditangkap melalui paparan diatas menyajikan bahwa poligami bagaimanapun bentuk status hukumnya juga menjadi perhatian islam yang puncaknya menjadi sebuah ajaran di dalamnya. Bagaimana mungkin sesuatu yang sudah diperhatikan, dibicarakan serta dilegalkan dengan jelas dalam Alquran untuk diperaktekkan walaupun bersyarat tidak dikatakan sebagai ajaran islam, baru jika dikatakan bukan murni ajaran islam  memang betul, karena sebagaimana disinggung diatas poligami ini sudah menjadi fenomena sosial jauh sebelum hadirnya Islam.

Baca Juga :  Benarkah Aisyah Memerintahkan untuk Membunuh Uthman bin Affan?

Disamping itu, hal lain yang dapat ditangkap, bahwa kebolehan poligami dalam islam tidak bersifat final dan bebas nilai. Ada kondisi dimana poligami boleh dipraktekkan. Ada nilai yang harus dipenuhi sebelum melakukan praktek poligami. Karena prinsipnya poligami itu tidak boleh berdasarkan nafsu birahi belaka, tidak boleh menghinakan perempuan apalagi menyiksanya. Wallahu A’lam



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

1 KOMENTAR

  1. Referensi tentang ragam pendapat poligami di atas mohon ditampilkan, syukur² teks ta’bir.nya jg dilampirkn, agar semua bisa memahaminya. Terima kasih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here