Quraish Shihab: Tanpa Toleransi, Hidup Akan Terganggu

1
119

BincangSyariah.Com – Saat menghadapi kata toleransi, akan selalu muncul beragam pengertian. Toleransi bisa diartikan sebagai sikap membiarkan, menenggang dan menghormati pendapat atau sikap pihak lain meskipun terjadi perbedaan pendapat dengannya.

Dalam buku Akhlak: Yang Hilang dari Kita (2020) Quraish Shihab menekankan satu hal: sikap toleransi tidak boleh mengorbankan prinsip-prinsip keyakinan agama. Hal ini selaras dengan keyakinan agama yang tidak boleh dikorbankan demi toleransi.

Ada sebuah kisah pada awal masa Islam saat tokoh-tokoh kaum musyrik Mekkah menawarkan kompromi tentang pelaksanaan tuntunan agama atau kepercayaan. Mereka mengusulkan agar Nabi dan umatnya mengikuti kepercayaan mereka, dengan begitu mereka pun akan mengikuti ajaran Islam.

Mereka berkata, “kami menyembah Tuhanmu, hai Muhammad, setahun dan kamu juga menyembah Tuhan kami setahun. Kalau agamamu benar, kami mendapatkan keuntungan karena kami juga menyembah Tuhanmu dan jika agama kami benar kamu juga tentu memperoleh keuntungan.” (Baca: Toleransi Merupakan Gerbang Kemenangan)

Usul kaum musyrik tersbeut ditolak oleh Rasulullah Saw. Sebab, tidak mungkin dan tidak logis terjadinya penyatuan agama-agama. Setiap agama berbeda dengan agama yang lain, baik dalam ajaran pokok dan banyak perinciannya. Maka dari itu, tidak mungkin bisa perbedaan-perbedaan tersebut digabungkan dalam jiwa seorang yang tulus terhadap agama atau keyakinannya.

Masing-masing penganut agama harus yakin sepenuhnya dengan ajaran agama yang dianut. Keyakinan tersebut akan membuat mereka mustahil membenarkan ajaran agama lain yang tidak sejalan dengan ajaran agama yang dianut.

Usul kaum musyrik tersebut menjadi penyebab turunnya Q.S. Al-Kafirun. Surat tersebut menegaskan: lakum dinukum wa liya din, bagimu agammu dan bagiku agamaku. Ini adalah pengakuan eksistensi timbal balik. Masing-masing orang bisa melaksanakan apa yang dianggapnya sebagai benar dan baik tanpa memutlakkan pendapat kepada pihak lain dan tanpa mengabaikan keyakinan masing-masing.

Baca Juga :  Sejak Lama Nabi Mencontohkan Toleransi, Ini Penjelasannya

Sikap toleransi yang begitu tinggi telah ditetapkan dan diterapkan oleh Rasulullah Saw. terhadap umat yang tidak seiman. Maka, sikap toleransi tentu wajib dilaksanakan kepada sesama kaum beriman.

Dalam ajaran Islam, ada yang harus dipercaya dan ada juga yang harus diamalkan. Akidah termasuk dalam ajaran yang harus dipercayai. Sebab, akidah berkaitan dengan kepercayaan yang sifatnya mengikat hati.

Umat Islam mesti bersatu dalam akidah, sebab tercermin dalam Rukun Iman yang keenam yakni percaya kepada Allah Swt., malaikat, kitab-kitabnya, rasul-rasulnya, hari kiamat, dan takdir-Nya yang baik dan buruk.

Umat Islam dituntut untuk bertoleransi antara sesama muslim, yakni membiarkan masing-masing menganut apa yang ia percaya dan pahami. Sikap toleransi ini meski diterapkan meskipun berbeda dengan paham dan kepercayaan orang yang bertoleransi.

Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Siapa yang berkata (menuduh saudaranya) wahai kafir, maka kekufuran itu telah jatuh terhadap salah seorang dari mereka kalau itu benar (maka jatuhlah kekufuran itu pada yang dituduh) dan kalau tidak, maka kekufuran menimpa yang menuduh” (H.R. Muslim).

Qurasih Shihab melanjutkan bahwa sikap toleransi sangat dibutuhkan dalam kehidupan. Sebab, keragaman dan perbedaan adalah keniscayaan. Tanpa toleransi, hidup akan terganggu. Bukankah manusia dianugerahi oleh Allah Swt dengan pikiran, kecenderungan, bahkan hawa nafsu yang dapat mengakibatkan aneka perbedaan dan pertentangan? Jika manusia tidak bisa mengelola dengan baik, maka anuegrah tersbeut justru akan menimbulkan bencana.

Dituliskan pula bahwa dalam Q.S. Hud ayat 117-118, Allah Swt. menegaskan bahwa manusia akan terus berbeda dan berselisih, kecuali yang dirahmati Allah Swt. Orang yang dirahmati oleh Allah Swt. adalah orang yang mampu mengelola perbedaan yang ada, antara lain dengan bersikap toleran terhadap pandangan dan sikap orang lain, baik dalam keberagaman ataupun yang lainnya.[]

Baca Juga :  Tiga Tips dalam Islam untuk Menyikapi Perbedaan

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here