Quraish Shihab: Pilihlah Ustadz yang Tidak Memaki-maki!

5
1274

BincangSyariah.Com – Quraish Shihab menjelaskan hal yang menarik ketika ditanya seseorang terkait kriteria ustadz yang tepat untuk dijadikan panutan atau sebagai penceramah.

“Abi, Bagaimana memilih ustadz yang tepat,” tanya seorang perempuan dalam acara Shihab & Shihab di Masjid Al-Azhar Kebayoran yang diselenggarakan oleh Narasi TV dan Komunitas Tangga Masjid.

Mantan rektor IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini menjelaskan dengan penuh kasih ibarat seorang bapak menasehati anaknya.

“Pilihlah ustadz yang menganut faham wasathiyah (moderat) anda tidak akan mendengar makian,” tutur mantan Mentri Agama ke-16 masa Presiden Soeharto ini.

Quraish Shihab menjelaskan bahwa ustadz yang wasathiyah akan terbuka untuk dikritik dan tidak fanatik dengan satu pandangan dan menilai pandangan orang lain salah.

Ustadz yang wasathiyah memahami bahwa jalan menuju agama (sirath) itu besar dan memiliki jalan-jalan kecil (sabil) untuk menuju jalan besar itu.

“Karena dalam rincian ajaran agama, yang Tuhan tanyakan adalah hasilnya, misalnya 5 tambah 5 10 tapi bisa juga 7 tambah 3,” lanjutnya.

Salah satu ciri ustadz yang wasathiyah, menurut ayah Najwa Shihab ini adalah berpengetahuan luas. Ustadz yang berpengetahuan luas, akan mampu menilai dan menghargai suatu pendapat, sedangkan ustadz yang sempit pengetahuannya akan mudah menyalahkan.

“Semakin luas pengetahuan seseorang, semakin besar toleransinya, semakin sempit semakin bodoh,” tandasnya.

Selengkapnya di Islami.co

Baca Juga :  Renungan Peristiwa Christchurch: Relasi Muslim di Barat dan Ideologi Supremasi

5 KOMENTAR

  1. […] Selain itu ada beberapa hal terkait dampak perdamaian ini, salah satunya adalah ketenangan dan keamanan situasi. Sehingga hal ini difungsikan Rasulullah Saw. untuk berdakwah kepada para raja, beberapa di antaranya, Kaisar Romawi, yaitu Raja Heraklius, Kisra (Persia), Raja Najasi (Habasyah) dan beberapa raja yang lain. Hal ini disebutkan oleh Quraish Shihab, Membaca Sirah Nabi Muhammad Saw dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-Hadis Shahih. (Quraish Shihab: Pilihlah Ustaz yang Tidak Memaki-maki) […]

  2. Wasathiyah ( moderat/ toleran) tidak ekstrim ke kiri tdk eksrem ke kanan , itulah paham dienul islam, islam itu wasathiyah ( moderat/ toleran) , tidak memaki maki, tapi juga boleh melaknat, tidak boleh balas dendam dg berlebihan, dianjurkan memberi maaf, tapi juga boleh membalas secara adil, tidak mudah mengkafir kafirkan orang, tetapi harus/wajib, tidak ragu ragu mengkafirkan orang yang nyata nyata kafir setelah ditegakkan Hujjah dan dia/ mereka menolak Hujjah ( Kebenaran), mengutamakan perdamaian, tetapi juga tidak lari dari peperangan manakala memang harus berperang, islam itu ramah,sopan, penuh cinta kasih, tetapi juga menegakkan hukum dg tegas dn ada hukuman potong tangan, ada hukuman rajam, ada hukuman mati, qisos,tetapi juga ada hukuman diyat/kafaroh, ada syurga penuh kenikmatan dn kasih sayang dan ada neraka yang penuh siksaan,kepedihan dan penderitaan, ajaran islam kepada yang muda sayang,kepada yang tua hormat, yg kaya ( Berlebih) wajib zakat, yang miskin wajib diberi ( berhak menerima zakat), yang kuat menolong yang lemah, dlm hidup bermasyarakat bisa hidup damai bertetangga dg baik,bermuamalah jujur,adil,tolong menolong,bermusyawaroh,menegakkan kebenaran dan keadilan,toleran dan hidup damai dg kafir dzimmi, dan berani berperang dg kafir Harbi ….singkatnya ajaran dienul islam itu wasathiyah, jalan tengah, jalan kebenaran jalan pemahaman islam yang menurut ajaran yang telah diaplikasikan dipraktekkan nabi muhammad Shollallohu alaihi wassalam,para khulafaur rosidin dan para shohabat rodhiyallohu anhum, dlm hidup di dunia ini baik sebagai pribadi, atau hidup berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat berbangsa bernegara maupun hidup berdampingan dlm hubungan antara bangsa bangsa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here