Quraish Shihab di Narasi.tv: Rezeki itu Bukan Cuma Materi

0
1221

BincangSyariah.Com – Ada sebagian dari kita yang masih memaknai rezeki terbatas pada harta materi saja. Padahal, materi hanyalah salah satu bentuk dari sekian banyak anugrah dan rezeki dari Allah.

Pada Sabtu, 30 November lalu, Narasi.tv bekerjasama dengan Komunitas Tangga Masjid menyelenggarakan program kajian Shihab & Shihab di Masjid Agung Al Azhar Kebayoran Baru. Dalam kesempatan tersebut, diadakan kajian dengan dua sesi, yang mana pada sesi kedua membahas tema “menjemput rizki”.

Abi Quraish menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan rezeki adalah perolehan yang dapat dimanfaatkan. Jadi, apapun yang didapatkan dan diperoleh seseorang dan ia dapat manfaatkan, adalah bentuk rezeki. Selama perolehan tersebut belum dimanfaatkan, belum disebut sebagai rezeki.

Allah Swt. berfirman dalam surah Hud ayat 6:

وَمَا مِنْ دَآبَّةٍ فِيْ الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا

“dan tidak satupun makhluk bergerak di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya.”

dabbah itu artinya bergerak. Jadi kunci mendapatkan rezeki adalah bergerak, ujar beliau.

Lalu mengenai pemaknaan hadis yang diriwayatkan dalam Sunan Ibnu Majah:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ : لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ. تَغْدُو خِمَصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا

Rasulullah Saw. bersabda: “sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Ia pergi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.” H.R. Ibnu Majah

Ada yang berdalih dengan hadis ini bahwa rezeki itu tidak usah dicari, yang penting tawakkal kepada Allah. Padahal, dalam hadis ini jelas digambarkan bahwa burung itu bergerak, keluar dari sarangnya untuk mencari rezeki, terang Abi Quraish.

Beliau melanjutkan, bahwa setiap orang sudah ditentukan rezekinya. Namun cara yang ditempuh masing-masing orang untuk memperoleh rezeki berbeda-beda. Ada yang menempuh cara yang halal, ada juga yang menempuhnya dengan cara yang haram, karena mengikuti godaan setan. Kita harus menempuh cara-cara yang dibenarkan agama dalam usaha memperoleh rezeki.

Baca Juga :  Nikah Beda Harakah Menurut Quraish Shihab

Sesuai dengan judul artikel ini, Abi Quraish berpesan agar jangan mempersempit makna rezeki sebatas pada materi saja. Hal paling penting dari itu semua adalah keberkahan dari Allah. Harta yang sedikit tapi diberkahi adalah lebih baik daripada banyak tapi tidak diberkahi. Beliau mencontohkan, nasi satu piring yang normalnya adalah untuk porsi makan satu orang, bila nasi itu diberkahi, akan mencukupi untuk makan dua orang.

Begitupun dengan rezeki waktu. Bila waktu seseorang diberkahi, dalam durasi satu jam ia bisa melakukan banyak hal bermanfaat. Waktunya berkualitas. Karena itulah kita diajarkan berdoa ketika qunut: wa barik lana fima a’thait  “(ya Rabb, berkahilah apa yang Engkau berikan kepada kami).

Orang yang memahami rezeki hanyalah berupa harta, apalagi tidak merasa puas atas apa yang dimilikinya, pasti akan selalu merasa kekurangan. “saya sudah berusaha maksimal kok dikasihnya cuma segini”. Ucapan seperti ini muncul karena tidak melihat rezeki yang lain.

Padahal, tubuh yang sehat, ketenangan hati, lingkungan yang baik, teman-teman yang menyenangkan, guru yang baik, istri dan anak yang shalih, waktu yang berkualitas, nikmat Iman, Islam, ilmu pengetahuan, dan banyak hal baik lainnya, juga merupakan rezeki dari Allah.

Namun, terkadang sebagian kita lupa akan hal itu. Bila kita sudah memahami makna rezeki yang teramat luas ini, tentu tidak akan ada lagi rasa tidak puas atas apa yang dimiliki. Yang tersisa hanyalah rasa syukur tak terhingga kepada Sang Maha Pemberi Rezeki.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here