Quraish Shihab: Cinta Tanah Air Adalah Fitrah Manusia

1
74

BincangSyariah.Com – Pertanyaan tentang cinta tanah air adalah fitrah atau bukan dijawab oleh Quraish Shihab dalam podcast yang berjudul “Jangan Pertentangkan Nasionalisme dengan Agama”. Dalam podcast tersebut, dijelaskan bahwa ada banyak sekali bukti-bukti yang menyatakan bahwa cinta tanah air adalah fitrah. (Baca: Cinta Tanah Air adalah Sunah Nabi Muhammad Saw)

Sebelum Nabi Muhammad Saw. hijrah ke Madinah, beliau berjalan ke perbatasan kota Mekkah, “Wahai Mekkah engkau adalah negeri yang paling kucintai. Seandainya pendudukmu tidak mengusir aku, aku tidak akan meninggalkan kamu.” (HR at-Turmudzi, No. 3925).

Penyair Abu Tamam mengatakan: “Hai anak muda, pindahkan cintamu dari satu gadis ke gadis yang lain tapi cinta yang asli adalah cinta pertama.” Ia melanjutkan, “sekian banyak kota yang dikenal oleh seseorang tetapi rasa rindunya hanya kembali kepada tanah tempat tumpah darah.”

Salah satu peristiwa yang lekat dengan rasa nasionalisme adalah pada saat Mata Najwa berkunjung ke Belanda, ada orang Indonesia yang sudah 40 tahun tidak kembali ke Indonesia dan ingin kembali serta meninggal dunia di Indonesia.

Quraish Shihab menambahkan, hal ini sesuai dengan peribahasa yang kita gunakan sehari-hari: “Daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri.” Peribahasa tersebut mempunyai arti bahwa bagaimanapun senangnya hidup di negeri orang, masih lebih senang hidup di negeri sendiri.

“Itu fitrah manusia. Kita cinta bumi ini. Kenapa kita cinta bumi ini? Kita terambi, terbuat dari tanah, mengalir di sekujur tubuh. Al-Qur’an mensejajarkan antara agama dan tanah air.” Lanjut Qurasih Shihab.

Tuhan tidak melarang manusia untuk berbuat baik, untuk berlaku adil, untuk membuat sebagian harta kepada orang-orang yang tidak memerangimu dari agama atau mengusir kamu dari tumpah darahmu. Alasan mengapa manusia cinta tanah air dan cinta bumi adalah agar manusia membangun bumi sebab manusia diperintahkan menjadi khalifah.

Baca Juga :  Cinta Tanah Air Itu Akhlak Islam yang Sangat Mulia: Jihad Melawan Terorisme

Lantasm bagaimana jika dikaitkan dengan persoalan nasionalisme?

Quraish Shihab menjawab dengan sebuah cerita. “Jika Anda ada di tengah hutan, tidak ada manusia, tidak bertemu orang. Apa yang terjadi? Jika Anda ada di luar negeri, ada banyak orang. Di suatu tempat, Anda bertemu dengan dua orang asing, satu dari Amerika Serikat dan satu dari Indonesia. Yang mana lebih disenangi untuk mengobrol? Tentu aja orang Indonesia.”

Cinta kepada tempat kelahiran sudah meresap di dalam hati setiap orang. Nasionalisme sudah ada dalam diri masing-masing manusia. Negara-negara sudah terbagi-bagi, meksipun asal-usul bangsa atau rasnya satu, tapi orang pasti lebih dikenal dengan asal negaranya masing-masing.

Misalkan ada orang Arab. Satu dari Yaman, satu dari Syiria. Jika bertemu dengan negara yang sama pasti akan lebih akrab. Kebangsaan sudah sangat meresap. Orang tidak akan melihat suku, ras, dan budaya seseorang lagi.

Dalam konteks membangun negara dan tumpah darah, manusia harus bekerja sama sebab manusia adalah khalifah. Tidak perlu memandang perbedaan agama selama tujuan menjadi bangsa sama. Fitrah ini mesti dijaga. Jangan sampai ada kegiatan yang merusak nasionalisme.

Ada orang yang berkata bahwa tidak pernah ada nasionalisme di zaman Nabi Muhammad Saw. Sebab Nabi tidak pernah menyatakan “ya qaumi” tapi selalu “yā ayyuhan-nās”. Quraish Shihab sempat melakukan penelitian dan hasil penelitiannya adalah Nabi pernah berkata “ya qaumi” dalam Q.S. Al-Mu’min: 39.

 يَٰقَوْمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا مَتَٰعٌ وَإِنَّ ٱلْءَاخِرَةَ هِىَ دَارُ ٱلْقَرَارِ

Yā qaumi innamā hāżihil-ḥayātud-dun-yā matā’uw wa innal-ākhirata hiya dārul-qarār

Artinya: “Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.”

Baca Juga :  Hikmah Pagi: Manusia Diuji oleh Allah Sesuai dengan Kedudukannya

Sebagai penutup, Quraish Shihab menambahkan bahwa Piagam Madinah adalah piagam yang menggambarkan kesatuan berbagai anggota masyarakat dengan berbagai suku dan agama. Umat Islam jangan sampai merusak fitrah manusianya. Jangan mengorbankan agama demi nasionalisme dan jangan mengorbankan nasionalisme dengan agama sebab keduanya menyatu sebagai fitrah manusia.[]

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here