Qadarullah atau Qudratullah, Samakah Artinya ?

0
74325

BincangSyariah.Com – Dalam amatan penulis – bisa jadi keliru – belakangan ini masyarakat muslim di Indonesia ketika ingin mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspektasi, acapkali mengucapkan Qadarullah. Contoh ungkapannya misalnya, “Qadarullah pak, kita belum bisa bertemu”, dan ungkapan sejenis lainnya. Kalimat yang secara ringkas maksudnya adalah “takdir Allah” ini nampaknya setara penggunaannya dengan “mohon maaf”. Lantas, samakah ia dengan ungkapan “takdir Tuhan”, atau “takdir”, atau “kadar”, yang semuanya kalau dalam bahasa Arab sama-sama berasal dari kata qadara?

Baiklah, secara makna kebahasaan, kata qadara pada awalnya bermakna “kemampuan atau kadar atau kekuatan yang dimiliki”, atau dalam bahasa Arabnya tamakkana minhu; istathoo’a; qawiya ‘alayhi. Ketiga kalimat tadi memiliki satu kesamaan makna, yaitu kemampuan. Kemudian, dalam bahasa Arab dikenal kata dasar (al-fi’lu al-mujarrad) dan kata yang memiliki imbuhan (untuk menyebut al-fi’lu al-maziid). Maka bentuk kata berimbuhan dari qadara, diantara adalah qaddara, yang memiliki makna menentukan kemampuan atau keadaan. Dari kata qaddara inilah, nanti masuk ke dalam bahasa Indonesia kata takdir. Dari kata qaddara ini juga, muncul kata qudrah yang dalam bahasa Indonesia diserap menjadi kata kodrat. Walhasil, kata qudrah dan taqdir semuanya menunjukkan makna kadar atau kemampuan yang ditentukan. Maka sebutan qudratullah misalnya adalah kemampuan yang Allah tentukan.

Kata qadarullah rupanya juga dapat kita temukan dalam hadis Nabi Saw., diantara riwayatnya terdapat dalam Shahih Muslim; Sunan Ibn Majah; dan Musnad Ahmad, dari Abu Hurairah Ra.

عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم المؤمن القوي خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف وفي كل خير احرص على ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجز وإن أصابك شيء فلا تقل لو أني فعلت كان كذا وكذا ولكن قل قدر الله وما شاء فعل فإن لو تفتح عمل الشيطان

Baca Juga :  Buya Syafii Maarif: Islam, Keindonesiaan dan Kemanusiaan Harus Satu Napas

Dari Abu Hurairah Ra. beliau berkata: Rasulullah Saw bersabda, “orang beriman yang kuat lebih baik dan lebih Allah cinta daripada orang beriman yang lemah. Dan (betapapun orang beriman itu keadaannya) di dalam semua kebaikan, semangatlah untuk sesuatu yang bermanfaat bagimu, bermohonlah pertolongan Allah dan jangan patah arang. Dan jika orang beriman ditimpa sesuatu (yang tidak sesuai), maka jangan berkata, “andaikan aku berbuat itu, kejadian akan begitu dan begitu. Tetapi, katakanlah, “takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki, telah terjad”. (Jangan berandai-andai) karena sesungguhnya “andaikan” itu membukakan pekerjaan bagi setan.  

Dalam hadis ini, ditemukan redaksi qadarullah. Di dalam riwayat Sunan Ibn Majah dan Musnad Ahmad, redaksinya adalah qaddarallah. Jika kita menggunakan pendekatan kebahasaan, sebenarnya baik qaddarallah dan qadarullah memiliki makna yang sama, yaitu ungkapan untuk menyatakan takdir Allah. Bedanya adalah jika redaksi qadarullah bentuknya adalah dua nomina, yaitu kata qadar yang dinisbatkan kepada Allah, sehingga secara harfiah maknanya adalah “takdirnya Allah”. Sementara kata yang kedua kata qaddara Allah adalah kata kerja (fi’il) yaitu qaddara dengan identitas zamannya adalah lampau (madhi) dan subjek (fa’il) yaitu Allah. Sehingga makna harfiahnya adalah “Allah telah mentakdirkan”.

Perkara ini sebenarnya adalah perkara kebahasaan yang spiritnya adalah sama-sama ungkapan untuk menegaskan bahwa itu hal yang kita hadapi, baik atau buruk, adalah takdir Allah. Bahkan, dari hadis tersebut, faidah yang juga dapat diambil adalah kita harus menerima kalau menghadapi sesuatu yang kurang sesuai dengan keinginan kita, jangan berandai-andai, tapi cukup katakan bahwa memang sudah ketentuan Allah. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here