Pulang Haji, Ini Pesan-Pesan Haji Menurut Ulama Mazhab Hanbali

0
357

BincangSyariah.Com – Setelah melaksanakan lempar jumrah, sejumlah jamaah haji terutama yang berangkat di kloter-kloter awal atau yang hajinya disebut haji tamattu’, telah menyelesaikan prosesi ibadah hajinya. Sebagian sudah dan sedang mempersiapkan kepulangannya ke negara masing-masing, salah satunya tentu Indonesia.

Sambil menanti kepulangan para jamaah haji ke tanah air dan juga menjadi pelajaran kita semua, mari kita menengok sedikit penjelasan tentang hikmah atau pesan-pesan haji menurut ulama mazhab Hanbali. Ia adalah Ibn Qudamah al-Maqdisi al-Hanbali. Salah satu karya terbesarnya adalah al-Mughni, kitab fikih mazhab Hanbali.

Dalam penjelasannya di kitab Minhaj al-Qashidin, sebuah ringkasan dari kitab Ihya’ ‘Ulumuddin karya Imam Abu Hamid al-Ghazali, beliau mengatakan bahwa di setiap prosesi ibadah haji, ada banyak hikmah atau pesan-pesan haji yang bisa diambil, diantaranya:

Pertama, bahwa perjalanan haji mengingatkan kita bahwa kita tidak membawa bekal apa-apa selain bekal amal untuk bekal di akhirat. Karena itu, jangan campuradukkan amal kita dengan amal-amal yang merusak amal akhirat. Misalnya, dicampur dengan sifat riya’, sum’ah (ingin didengar). Bahkan, sangat baik jika seseorang sudah meninggalkan tanah airnya, ia merasakan perjalanan haji seolah sebagai perjalanan meninggalkan dunia.

Kedua, saat memakai kain ihram, ingatlah seolah kita di masa ketika kita hanya mengenakan kain kafan. Dan kain yang kita kenakan itulah yang hanya akan menjadi busana menghadap Tuhan. Tidak dengan busana yang biasa digunakan saat kita di dunia.

Ketiga, saat membaca talbiyah, maka hadirkanlah di dalam hati ketika mengucapkannya sedang memenuhi panggilan Tuhan. Sertailah dengan harapan diterima amal dan takutlah jika tidak diterima. Ketika sudah tiba di tanah Haram, berharaplah jangan sampai digolongkan sebagai orang yang tidak dekat dengan Allah.

Baca Juga :  Hukum Tidur dengan Kaki Menjulur ke Arah Kiblat

Keempat, ketika melihat Ka’bah, hadirkahlah dalam hati sedang menyaksikan kebesaran Tuhan. Bersyukur kepada Allah karena diberi kesempatan menjadi tamu-Nya. Rasakanlah keagungan ibadah thawaf, karena itu adalah sebuah bentuk ibadah. Yakinkan dalam hati ketika berkesempatan mencium hajar aswad sebagai bentuk baiat setia kepada Allah untuk taat kepada-Nya. Dan hendaklah terus mengingat-Nya ketika memegang kain dinding Ka’bah layaknya orang yang berdosa atau dekatnya orang yang mencinta.

Kelima, saat melakukan ibadah sa’i, resapilah sedang diantara beban timbangan hari akhir. Bolak baliknya kita antara shafa dan marwah sebagai gambaran kebingungan kita menunggu keputusan dari Allah di hari akhir, dan harapan kita agar mendapatkan rahmat-Nya.

Keenam, ketika wukuf di Arafah, ingatlah ketika kita sedang berada di keramaian seluruh makhluk, saling berbicaranya mereka dengan bahasa berbeda nanti di hari akhir. Sementara, mereka tumpah ruah ke dalam satu tempat.

Ketujuh, ketika melempar jumrah, niatkan untuk taat perintah-Nya dan menunjukkan kelemahannya sebagai hamba.

Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here