Puisi Rumi tentang Bertaubat Karya Rumi

0
4409

BincangSyariah.Com – Setiap manusia pasti pernah melakukan perbuatan dosa dan bermaksiat kepada-Nya. Namun sebaik-baik manusia adalah mereka yang mau bertaubat. Bertaubat disini memiliki maksud sebagai langkah awal  kembalinya seornag amba kepada dekapan Allah. Kesempatan untuk bertaubat ini merupakan salah satu kasih sayang Allah kepada manusia yang lemah.

Bahkan Allah menyukai setiap hamba-Nya yang terlanjur berbuat dosa dan amu kembali kepada-Nya dengan jalan taubat, serta beriktikad dengan sepenuh hati untuk tidak akan mengulangi kembali. Taubat bukan hanya sebatas usaha manusia untuk memohon ampunan-Nya, melainkan juga sebuah ibadah yang diperintahkan oleh-Nya.

Dengan puisi indahnya, Maulana Rumi mengajak kita untuk datang dan datang lagi kepada-Nya, walau kita sempat melanggar larangan-Nya.

Jika engkau belum mempunyai ilmu dan hanya persangkaan
maka milikilah persangkaan yang baik tentang Tuhan
begitulah caranya
jika engkau belum mampu bergerak
maka merangkaklah kepadanya
jika engkau belum mampu berdoa dengan khusyu
maka tetaplah persenbahkan doamu yang kering, munafik, dan tanpa keyakinan
karena Tuhan dalam rahmat-Nya tetap menerima mata uang kepalsuanmu

Jika engkau masih mempunyai seratus keraguan mengenai Tuhan
maka kurangilah menjadi Sembilan puluh Sembilan saja
begitulah caranya
wahai pelancong
biarpun telah seratus kali engkau ingkar janji
ayolah datang
dan datanglah lagi

Maulana Rumi mengisyaratkan bahwa berprasangka baik kepada Tuhan adalah modal utama untuk datang dan mendekat kepada-Nya. Kenapa demikian? Sebab Tuhan menciptakan manusia dengan cinta, dan bagaimana manusia bisa kembal kepada-Nya tanpa dengan cinta? Jika manusia berprasangka baik kepada-Nya dan memahami bahwa setiap peristiwa itu dipenuhi sejuta hikmah, maka derita hidup tiada rasa.

Sebab itulah, siapa saja yang belum bisa berlari atau berdiri tegak untuk menemui ampunan-Nya, maka merangkaklah untuk melakukan pertaubatan. Allah tidak melihat bagaimana ia berlari, atau berdiri tegak menuju kepada-Nya dan memohon ampunan-Nya, melainkan Allah melihat bagaimana ia membangun komitmen untuk menemui-Nya dan kembali kepada-Nya.

Misal saja seseorang bisa melakukan salat lima waktu dengan tepat waktu, namun tidak mengerti makna apa yang ia kerjakan, kerjakan saja terus. Jika istighfar yang dibaca rutin tidak membawanya pada perubahan yang lebih baik, baca saja terus dengan rendah hati. Sebab doa yang datang bersamaan dengan kebohongan dan kefasikan akan tetap diterima sebab rahmat-Nya. Begitupun dengan taubat yang kita kerjakan, meskipun belum istiqamah, lanjutkan pertaubatan itu. Sebab Allah selalu membuka pintu ampunan bagi hambanya yang mau bertaubat.

Ajakan puisi Maulana Rumi tersebut senada dengan hadis yang ditulis dalam dalam kitab Riyadus Shalihin. Hadis yang diriwatakan dari Abu Musa Abdullah bin Qais Al Asy’ari, Rasululah bersabda:

إِن الله تَعَالَى يبْسُطُ يدهُ بِاللَّيْلِ ليتُوب مُسيءُ النَّهَارِ، وَيبْسُطُ يَدهُ بالنَّهَارِ ليَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِن مغْرِبِها

Sesungguhnya Allah membeberkan tangan-Nya di waktu malam untuk menerima taubatnya oran yang bermaksiat di siang hari dan juga membeberkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubatnya orang-orang yang bermksiat di waktu malam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here