Puasa yang Mengasah Kepekaan Ruhaniah

0
290

Allah Swt Berfirman, yang artinya:

Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. (QS Al-Baqarah [2]: 271)

Ada sebagian orang yang merasa berat menjalankan pe­­rintah ibadah puasa. Padahal, sesungguhnya, pe­rin­tah ibadah puasa—yang dari dimensi lahiriah ada­­lah latihan menahan diri dari makan, minum, dan ber­hubungan biologis—sama sekali bukanlah sebuah paksaan yang bertujuan menyakiti atau menyengsarakan manusia. Di balik perintah puasa itu justru ada sebuah target, yakni pro­­ses penye­hatan secara ruhaniah. Dan, yang demikian itu sangat penting bagi kelangsungan manusia itu sendiri.

Berkaitan dengan kasus ibadah puasa, terkadang ada ang­­­­gapan bahwa semakin menderita atau susah seseorang dalam melaksanakan suatu ritual atau ibadah—termasuk ibadah puasa—maka pahalanya lebih besar. Anggapan se­ma­cam itu bisa saja benar, tetapi tidak sela­manya demikian.

Sebagai contoh, anggapan yang mengatakan bahwa se­makin berat dan susah ibadah ini dijalankan—misalnya, de­ngan jalan mengakhiri berbuka atau tanpa sahur—maka iba­­dah itu akan lebih bernilai adalah tidak dibenarkan oleh sya­riat Islam. Suatu ibadah yang pahalanya akan lebih besar apa­bila lebih berat dan susah mengerjakannya identik de­ngan idiom atau peribahasa Arab yang berbunyi, “Sebesar ke­­su­sahan, sebesar itu pula balasannya.”

Perintah ibadah puasa, sekali lagi, tidak dimaksudkan se­ba­gai upaya penyengsaraan terhadap manusia, melainkan untuk kebai­kan manusia itu sendiri. Bukti-bukti tersebut da­­pat dilihat dari adanya anjuran atau perintah agar orang yang berpuasa segera mempercepat berbuka puasa, yang da­lam istilah bahasa Arab disebut ta’jî ’l-futhûr, dan agar meng­akhir­kan bersahur. Mempercepat berbuka puasa, oleh Rasulullah di­sunnahkan dengan minum atau makan ma­­­­ka­n­an yang me­­ng­andung zat gula seperti kurma, adalah bertujuan agar kondisi fisik segera dapat pulih kembali. Ber­kenaan dengan anjuran mengakhiri sahur, diharapkan be­ban ibadah puasa ti­dak akan memberat­kan kerja fisik kare­na ada persiapan atau bekal.

Dalam sebuah hadis qudsi, yakni firman Allah Swt. yang kalimatnya datang dari Nabi Muhammad saw. sendiri, dian­jur­kan agar mempercepat berbuka puasa apabila datang wak­­­tu Magrib atau waktu berbuka, “Hamba-hamba-Ku yang paling Aku cintai adalah mereka yang mempercepat berbuka puasa.”  

Sedangkan anjuran agar orang berpuasa mengakhir­kan bersahur, Rasulullah saw. bersabda, “Bersahurlah karena dalam sahur terda­pat keberkahan.”

Dari kedua bukti di atas dapat dipahami bahwa orang yang mempercepat berbuka dan mengakhirkan sahur justru mendapatkan pahala karena menjalankan sunnah ber­pua­sa. Dan, sebaliknya, orang yang melambat-lambatkan berbu­ka dan meninggalkan sahur, dengan anggapan agar pahala­nya lebih banyak, justru akan kehilangan pahala puasanya. Apalagi kalau berpuasa dimaksudkan untuk menyu­sahkan atau menyengsarakan dengan alasan agar mendapatkan pa­hala lebih besar, dengan jalan melakukan puasa terus-mene­rus, tanpa berbuka dan sahur, yang dalam bahasa Arab dise­but dengan puasa wishâl, atau dalam bahasa Jawa populer dengan istilah puasa pati geni. Puasa yang demikian itu justru hukumnya haram dalam Islam, sebagaimana dalam sabda Rasulullah disebutkan, “Rasulullah melar­ang puasa wishâl ….”

Dalam sebuah hadis yang lain, Rasulullah juga mengha­ram­kan berpuasa terus-menerus dalam sabdanya yang ber­bu­nyi, “Tidaklah se­seorang itu dibolehkan berpuasa secara te­rus-menerus.”

Kalau saja mau dipahami dan direnungkan maksudnya dengan baik, justru di dalam hakikat perintah ibadah puasa terkandung kasih sayang Allah Swt. kepada manusia. Hal yang demikian itu dapat dipahami dari diperolehnya pahala atau ganjaran atas ama­lan-amalan yang dianjurkan Allah Swt. dan Rasul-Nya berkenaan dengan perintah puasa tadi.

Baca Juga :  Apakah Salat Jumat Menjadi Gugur Karena Bersamaan dengan Salat Id?

Adapun bukti yang menegaskan bahwa perintah puasa merupakan wujud cinta kasih Allah Swt. kepada hamba-Nya dan bukan dimaksud­kan untuk menyusahkan dan me­nyeng­sarakan adalah dengan ditemu­kannya ketentuan yang berupa dispensasi (rukhshah), yakni kerin­ganan tidak menja­lan­kan puasa karena ada halangan atau uzur. Dispensasi itu diberikan kepada orang yang sakit, melahirkan, mengan­dung, orang yang sudah tua, wanita menyusui atau orang yang sedang dalam perjalanan.

Sebagai gantinya kemudian dianjurkan berpuasa pada ha­ri-hari yang lain atau dengan membayar fidyah kepada orang miskin—khu­susnya orang yang sudah lanjut usia atau sakit, sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah Swt. yang berbunyi, (yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia ber­buka), maka (wajiblah) baginya berpuasa sebanyak hari-hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain … (QS Al-Ba­­qarah [2]: 184).

Makna ayat tersebut di atas adalah benar-benar me­rupa­kan hal yang sangat logis bahwa perintah puasa bukan­lah untuk menyeng­sarakan hamba-Nya melainkan wujud cin­ta kasih Allah Swt. kepada hamba-Nya.

Namun demikian, sejauh manakah alasan sakit diper­bo­leh­­kan untuk menunda perintah puasa. Dalam kasus se­ma­cam itu, ten­tunya yang menjadi ukuran bukanlah keya­kin­an diri masing-masing, me­lain­kan orang itu harus terlebih da­hulu berkonsultasi kepada ah­li­­­n­ya. Dalam hal ini, tentulah se­orang dokter yang akan mem­be­ri­­kan saran: apakah berpuasa itu dapat membahayakan atau, ma­lah sebaliknya, dapat menjadi sa­ra­na penyembuhan.

Dalam Islam, kita dinasihat­kan agar berkonsultasi apabila me­­nemukan kesulitan kepada se­­­­­orang ahli supaya kita tidak ter­­­­­­­jerumus ke dalam hal-hal yang berbahaya. Apalagi yang me­nyang­­­­­kut masalah agama, kita sangat dianjurkan. Dalam kitab su­­ci Al-Quran disebutkan, … ma­ka bertanya­lah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika ka­mu tidak mengetahui (QS Al-Nahl [16]: 43).

Berkenaan dengan orang yang sedang melakukan perja­lan­­an (musafir), dalam fiqih kla­sik dikatakan bahwa orang yang se­dang melakukan perjalanan se­­­jauh 80 km diperbolehkan berbuka puasa dan mengganti­kan puasa Ramadan tersebut pada hari-hari lain. Pendapat semacam itu tentunya juga sangat logis karena jarak tempuh 80 km pada zaman dahulu merupakan perjalanan yang sa­ngat berat.

Perlu diingat bahwa hukum fiqih merupakan hasil se­buah ijtihad sehingga pendapat ulama sering berubah sesuai dengan kondisi yang melingkupinya, seperti tempat dan wak­tu. Jarak 80 km adalah perjalanan yang sangat berat, apalagi kalau dilihat dari sarana jalan dan kendaraan yang berupa hewan tunggangan. Jadi, sangat logis untuk berbuka puasa pada saat itu.

Baca Juga :  Dalil Fadilah Puasa: Diangkatnya Derajat Orang-Orang yang Berpuasa (I)

Namun, pendapat semacam itu jelas mengandung hal yang sangat nisbi atau relatif untuk masa sekarang. Jarak 80 km untuk zaman sekarang, tentunya, sudah tidak lagi di­pandang sebagai penghalang bagi seseorang untuk terus men­jalankan perintah puasa. Ini karena kemajuan di bidang teknologi yang begitu pesat, khususnya dalam bidang trans­por­tasi, seperti adanya bus, kereta api, dan pesawat. Bahkan, barangkali dalam perjalanan berjarak 1.000 km pun untuk za­man sekarang seseorang masih bisa menjalankan perintah puasa karena nyaman dan enaknya pelayanan perjalanan.

Meski mereka yang melakukan perjalanan diberi keri­ngan­an atau dispensasi untuk tidak berpuasa, Al-Quran juga masih mengan­jurkan agar mereka tetap berpuasa. Dan di­ingat­kan, yang demikian itu tetap lebih baik jika kita menge­ta­hui dampak berpuasa itu.

Tentu saja dampak yang dimaksudkan tidak hanya pa­da hal-hal yang bersifat lahiriah atau jasmaniah, tetapi yang sangat penting adalah jika seseorang menjalankan perintah berpuasa dengan baik dan benar, maka yang terjadi adalah sebuah penyembuhan ruhaniah, spiritual treatment. Dan ini mahal nilainya demi kelestarian manusia itu sendiri. Dengan menjalankan perintah puasa secara benar, seseorang akan da­pat merasakan kehadiran Allah Swt. setiap saat, di mana sa­ja dan kapan saja. Dengan sendirinya, ia akan menjadi orang yang percaya diri, optimistik, dan selalu memiliki keta­bah­an dan kesabaran dalam menghadapi berbagai cobaan dan problem hidup. Sikap yang demikian itulah yang sangat dibutuhkan kapan saja dan di mana saja.

Selain dampak pelaksanaan perintah yang berdimensi ver­tikal tadi, yakni lahirnya keyakinan akan kehadiran Allah Swt. yang selalu menyertai dirinya, puasa juga memiliki di­men­si konsekuen­sial atau ikutan, seperti adanya anjuran ba­gi yang sakit untuk membayar ganti (fidyah) kepada fakir mis­­kin. Juga adanya perintah kepada setiap yang menjalan­kan puasa dan setiap pribadi Muslim untuk mengeluarkan za­kat fitrah atau zakat penyucian diri. Berkaitan dengan pe­­­­­rin­tah berpuasa yang memiliki kaitan yang tak dapat dipi­sah­kan dengan pesan-pesan kemanusiaan, zakat harta ben­da atau zakat fitrah, kalau saja mampu dikoordinasikan dan dikelola dengan baik, lewat pendirian sebuah badan atau lem­baga, maka akan dapat menjadi kekuatan yang sangat be­­sar. Dan yang demikian itu tetap sejalan dengan pesan perintah puasa, yakni menghilangkan kemiskinan, yang dalam bahasa sekarang lebih popu­ler dengan istilah kemis­kin­an struktural.

Dalam ajaran Islam, perintah zakat dapat dipahami se­bagai sebuah kegiatan penyucian harta benda atau keka­ya­­an dalam penger­tian yang positif. Tentunya, bukan penyu­ci­an seperti yang terjadi sekarang ini, yaitu orang-orang kaya melakukan money laundering—upaya pemutihan uang-uang ha­ram, baik hasil korupsi, kolusi, mafia, dan bahkan peram­pok­an—dengan menyimpannya di bank-bank luar negeri.

Baca Juga :  Puasa di Bulan Sya'ban, Dianjurkan atau Dilarang ?

Masalah zakat yang membutuhkan upaya pelembaga­an atau seba­gai dimensi konsekuensial zakat, dalam sejarah Islam pernah digambarkan oleh Khalifah Abu Bakar r.a. Pa­da saat Khalifah Abu Bakar r.a. pertama-tama menjabat kha­lifah, muncul berbagai pem­berontakan, di antaranya ada­­lah pemberontakan yang dipimpin oleh Musailamah Al-Kadz­dzâb, di wilayah Nejjed. Mereka memberontak kepada pe­­­­merintahan Abu Bakar dan pemberontakan itu diwujud­kan dalam bentuk penolakan membayar zakat. Untuk me­nye­lesaikan masa­lah tersebut, akhirnya Khalifah Abu Bakar harus mengutus dan mengerahkan sebuah kampanye mili­ter. Dan, kenyataannya, kampanye militer untuk menumpas pa­ra pembangkang tersebut menyebabkan banyak sahabat, khususnya para hâfizh Al-Quran gugur dalam medan per­tem­puran. Kemudian berdasarkan usulan ‘Umar bin Khath­thab dimulailah sejarah kegiatan penulisan kitab suci Al-Quran.

Kembali menyinggung sikap membayar zakat sebagai upa­ya pelembagaan, adalah mungkin juga untuk mendapat­kan ekspose atau peliputan oleh media massa atau media elek­tronik seperti televisi sebagai upaya dan gerakan agar se­tiap orang kaya dapat termotiva­si dan terdorong berlom­ba-lomba membayar zakat. Namun demikian, perlu juga dipahami bahwa membayar zakat merupakan kewajiban yang harus dijalankan oleh setiap mereka yang sudah meme­nuhi per­syaratan-persyaratan tertentu sesuai hukum fiqih. De­ngan sendirinya, di sini tidak perlu dipersoalkan masalah atau istilah ikhlas atau tidak ikhlas, sebagaimana diilustrasi­kan oleh sahabat Abu Bakar r.a., yang terpaksa mengguna­kan cara-cara paksaan atau kekerasan terhadap mereka yang enggan dan menolak membayar zakat.

Berkaitan dengan ekspose atau memamerkan dalam menge­luarkan zakat, dalam sebuah ayat dijelaskan, Jika ka­mu menampakkan sedekahmu, maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan mengha­pus dari kamu sebagian kesalahan-kesa­lah­anmu, dan Allah mengeta­hui apa yang kamu kerjakan (QS Al-Baqarah [2]: 271).

Dalam ayat tersebut, pengertian kata “menampakkan” (tubdû) haruslah dipahami dalam rangka mendapatkan dam­pak peniruan atau imitatif, bukan bermaksud riya atau ingin dilihat orang sebagai pamer. Dalam rangka menangkap pe­san-pesan kemanusiaan ibadah puasa, orang dianjurkan mem­­ba­yar zakat dan banyak-banyak melakukan infak dan berse­dekah karena Allah Swt. menjanjikan akan melipat­gan­da­kan pahalanya. Dan yang demikian itu khusus hanya terjadi sepanjang bulan puasa saat sedang berlangsung pro­ses pelatihan ruhaniah.

Berkaitan dengan dimensi kemanusiaan yang terkan­dung dalam perintah puasa, nyata bahwa dimensi kemanu­sia­an itu sangat pent­ing sebagai pelatihan ketajaman dan kepekaan ruhaniah—perlu diingat bahwa ruhani yang sehat ada­lah ruhani yang memiliki ketajaman dan kepekaan. Ma­ka dari itu, meskipun puasa orang tersebut dari sudut pan­dang fiqih sah karena mampu dan berhasil menahan dari segala hal yang dilarang dan membatalkan puasa, secara ru­haniah orang tersebut belum tentu dinilai berhasil.[]



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here