Hukum Menyambut Tahun Baru Hijriyah dengan Puasa

0
1987

BincangSyariah.Com – Perdebatan di akhir kalender Hijriyah adalah isu puasa akhir tahun Hijriyah. Ada yang semangat menjalankan dan menyebarkan anjuran puasa ini. Akhirnya kita malah diserang tuduhan menyebarkan hadis palsu. Dalam tulisan ini, saya kutipkan beberapa pendapat ulama tentang hadis menyambut tahun baru Hijriyah dengan berpuasa akhir tahun dan solusinya, bagi yang berkenan mengamalkan.

Hadis Puasa Akhir Tahun

Hadis tentang anjuran puasa akhir tahun ini dimasukkan dalam daftar hadis palsu oleh Ibnu Al-Jauzi. Beliau mengarang kitab Al-Maudhu’at yang isinya kumpulan hadis palsu versi beliau. Lalu dicounter oleh Imam As-Suyuthi dengan mengeluarkan ratusan hadis yang dianggap palsu sehingga hanya berstatus daif. Sementara hadis puasa akhir Zulhijjah dikomentari oleh Imam As-Suyuthi dalam Al-Laali Al-Mashnuah:

ﺃﺧﺒﺮﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻧﺎﺻﺮ ﺃﻧﺒﺄﻧﺎ ﺃﺑﻮ ﻋﻠﻲ اﻟﺤﺴﻴﻦ ﺑﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﺣﺪﺛﻨﺎ اﺑﻦ ﺃﺑﻲ اﻟﻔﻮاﺭﺱ ﺃﻧﺒﺄﻧﺎ ﻋﻤﺮ ﺑﻦ ﺃﺣﻤﺪ ﺷﺎﻫﻴﻦ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﺷﺎﺫاﻥ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺃﺣﻤﺪ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ اﻟﻬﺮﻭﻱ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻭﻫﺐ ﺑﻦ ﻭﻫﺐ ﻋﻦ اﺑﻦ ﺟﺮﻳﺞ ﻋﻦ ﻋﻄﺎء ﻋﻦ اﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻣﺮﻓﻮﻋﺎ: ﻣﻦ ﺻﺎﻡ ﺁﺧﺮ ﻳﻮﻡ ﻣﻦ ﺫﻱ اﻟﺤﺠﺔ ﻭﺃﻭﻝ ﻳﻮﻡ ﻣﻦ اﻟﻤﺤﺮﻡ ﻓﻘﺪ ﺧﺘﻢ اﻟﺴﻨﺔ اﻟﻤﺎﺿﻴﺔ ﻭاﻓﺘﺘﺢ اﻟﺴﻨﺔ اﻟﻤﺴﺘﻘﺒﻠﻴﺔ ﺑﺼﻮﻡ ﺟﻌﻞ اﻟﻠﻪ ﻟﻪ ﻛﻔﺎﺭﺓ ﺧﻤﺴﻴﻦ ﺳﻨﺔ: اﻟﻬﺮﻭﻱ ﻫﻮ اﻟﺠﻮﻳﺒﺎﺭﻱ ﻭﻭﻫﺐ ﻛﺬاﺑﺎﻥ.

“Barang siapa puasa di akhir hari Zulhijjah dan hari pertama Muharram, maka sempurnalah setahun lalu dan dia memulai tahun yang akan datang dengan puasa, Allah menjadikan baginya tebusan 50 tahun”. Di dalam sanadnya terdapat Al-Harawi, dia adalah Al-Juwaibari, dan Wahb. Keduanya adalah pendusta.

Solusi Bagi yang Akan Berpuasa di Akhir Bulan Zulhijjah dan Awal Muharam

عن ﻣﻌﺎﻭﻳﺔ ﻗﺎﻝ: ﺳﻤﻌﺖ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﻘﻮﻝ: ﺻﻮﻣﻮا اﻟﺸﻬﺮ ﻭﺳﺮﻩ

Baca Juga :  Khilafiyah Penegakkan Syariat Islam dan Ziarah Kubur

Muawiyah mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Berpuasa di awal bulan dan akhir bulan” (H.R. Abu Dawud dan Baihaqi)

Makna ‘sarra’ yang di dalam riwayat lain berbunyi ‘sarar’ memang banyak pendapat dari para ulama ahli hadis. Namun terjemahan saya di atas berdasarkan syarah hadis dari Syekh Syamsul Haq:

ﻭاﻟﻤﺮاﺩ ﺻﻮﻣﻮا ﺃﻭﻝ ﻛﻞ ﺷﻬﺮ ﻭﺁﺧﺮﻩ ﻭاﻟﻤﻘﺼﻮﺩ ﺑﻴﺎﻥ اﻹﺑﺎﺣﺔ اﻧﺘﻬﻰ

“Yang dimaksud hadis adalah ‘Berpuasalah di awal bulan dan akhir bulan’. Tujuannya adalah menjelaskan hukum boleh” (Aun Al-Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud 6/324)

Status hadis ini nyaris tidak disinggung oleh Abu Dawud. Namun bagi Syekh Albani saya temukan dua penilaian yang berbeda. Di kitab Sunan Abi Dawud beliau mengatakan daif. Dan dalam kitab Al-Jami’ Ash-Shaghirdinyatakan hadis hasan. Penilaian kontradiktif seperti akan sering anda jumpai dalam kitab-kitab Syekh Albani.

Jika ada yang mempermasalahkan kedaifannya, maka sampaikan kepada mereka hadis sahih yang membolehkan berpuasa sunah di awal dan akhir bulan, yaitu:

ﻋﻦ ﻣﻌﺎﺫﺓ ﻗﺎﻟﺖ: ﺳﺄﻟﺖ ﻋﺎﺋﺸﺔ: ﺃﻛﺎﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻳﺼﻮﻡ ﻣﻦ اﻟﺸﻬﺮ ﺃﻭ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺷﻬﺮ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ؟ ﻗﺎﻟﺖ: «ﻧﻌﻢ» ﻗﺎﻟﺖ: ﻣﻦ ﺃﻳﻪ؟ ﻗﺎﻟﺖ: ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻳﺒﺎﻟﻲ ﻣﻦ ﺃﻳﻪ ﺻﺎﻡ

Dari Muadzah bahwa ia bertanya kepada Aisyah: “Apakah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berpuasa 3 hari setiap bulan?” Aisyah menjawab: “Ya”. Ia bertanya: “Kapan puasa Nabi?” Aisyah menjawab: “Nabi tidak memperdulikan kapan saja beliau puasa” (H.R. Ibnu Hibban).

Hadis ini dijelaskan oleh Imam Ibnu Hibban dengan menulis tema bab di depan:

ﺑﺎﺏ ﺫﻛﺮ اﻟﺪﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﺻﻮﻡ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺷﻬﺮ ﻳﻘﻮﻡ ﻣﻘﺎﻡ ﺻﻴﺎﻡ اﻟﺪﻫﺮ، ﻛﺎﻥ ﺻﻮﻡ اﻟﺜﻼﺛﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻣﻦ ﺃﻭﻝ اﻟﺸﻬﺮ، ﺃﻭ ﻣﻦ ﻭﺳﻄﻪ، ﺃﻭ ﻣﻦ ﺁﺧﺮﻩ

Baca Juga :  Tafsir al-Maidah Ayat 51 dari Rashid Rida Hingga al-Tantawi

Bab tentang dalil bahwa puasa 3 hari tiap bulan seperti puasa setahun. Puasa 3 hari ini bisa di awal bulan, pertengahan bulan atau akhir bulan

Kesimpulan

Bagi umat Islam yang ingin menjalankan puasa sunnah di akhir Zulhijjah dan awal Muharam diperbolehkan dengan dalil-dalil riwayat Abu Dawud dan Ibnu Hibban. Namun jangan bertujuan mengamalkan hadis yang telah dinilai sebagai hadis palsu oleh Ibnu Al-Jauzi dan Imam As-Suyuthi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.