Bolehkah Puasa Syawal Digabung dengan Puasa “Ayyamul Bidh”?

2
2346

BincangSyariah.Com – Puasa ayyamul bidh adalah puasa yang dilakukan pada hari purnama, yaitu pada tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriyah setiap bulannya. Puasa tersebut disunnahlkan berdasarkan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Nasa’i. Dari Abu Dzar, Rasulullah saw bersabda:

يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ

“Hai Abu Dzar, “Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulannya, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).” (HR Tirmidzi dan an Nasai).

Amalan tersebut merupakan kebiasaan Nabi yang diwasiatkan kepada umatnya, yang Nabi sendiri tak pernah meninggalkannya sekalipun. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

أَوْصَانِى خَلِيلِى بِثَلاَثٍ لاَ أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ، وَصَلاَةِ الضُّحَى ، وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ

“Kekasihku (yaitu Rasulullah saw) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati: 1). Berpuasa tiga hari setiap bulannya, 2) Mengerjakan salat Dhuha, 3). Mengerjakan salat Witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari ).

Seseorang bisa menggabungkan niat puasa ayyumul bidh dengan puasa sunnah lainnya. Misalkan ayyamul bidh jatuh pada hari Senin atau Kamis, atau bisa juga puasa ayyamul bidh dengan puasa Syawal.

Dalam kitab Jami Al-Umm wal Hikam dijelaskan, bahwa Nabi berniat salat sekaligus memberikan pelajaran kapada orang-orang bagaimana salat itu. Yang demikian itu karena niatan tersebut tidaklah perihal haram atau makruh. Layaknya seseorang yang menggabungkan niat wudu dan niat menghilangkan najis serta kotoran pada anggota badan.

Begitu pula dengan Syaikh Mahir bin Dhafir Al Qathani yang menjelaskan bolehnya penggabungan niat puasa ayyamul bidh dengan puasa Muharram. Alasan bolehnya penggabungan itu karena maksud dari syariat puasa ini telah tercapai. Para sahabat juga telah berfatwa dan tanpa ada perselisihan di antara mereka dalam hal ini. Aku sebutkan contoh hadits dari Abu Hurairah r.a dan selainnya bahwa Nabi saw bersabda:

Baca Juga :  Dalil Puasa Sunah Sembilan Hari Bulan Zulhijah

وَإِذَا جَاءَ وَالْإمَامُ رَاكِعٌ فَلْيُكَبِّرْ تَكْبِيْرَةً وَاحِدَةً وَيَرْكَعُ

“Jika seseorang (yang mau salat jamaah) baru datang sedang imam sudah rukuk, maka hendaknya dia bertakbir satu kali kemudian melakukan rukuk.”

Rasulullah tidak menambah sabda dengan kalimat setelah dia bertakbir dengan sabda: ‘hendaknya kemudian dia bertakbir intiqal (takbir pindah gerakan) untuk rukuk’. Artinya satu kali takbir sudah berlaku untuk takbiratul ihram dan takbir intiqal. Ini menunjukkan dibolehkannya menggabungkan niat.

Dari berbagai keterangan di atas disimpukan bahwa niat puasa ayyamul bidh boleh digabung dengan niat puasa Syawal. Dengan berniat puasa Syawal, maka tetap bisa mendapatkan keutamaan puasa ayyamul bidh. Layaknya orang yang berpuasa sunnah lainnya pada hari Senin atau Kamis, ia tetap mendapatkan keutamaan beramal. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.” (HR. Tirmidzi )

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here