Puasa sebagai Pelatihan Ruhaniah

0
154

Dan orang-orang kafir itu, amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatangi air itu, dia tidak mendapati sesuatu apa pun …. (QS Al-Nûr [24]: 39)

BincangSyariah.com – Ibadah puasa, sebagaimana ibadah-ibadah lain dalam aga­ma Islam, sama-sama memil­iki dimensi sosial yang kuat. Meski demikian, diakui pula bahwa ibadah puasa memiliki segi-segi yang sangat pribadi dan personal, antara lain disebutkan bahwa ibadah ini menjadi kepentingan (inte­rest) Khaliknya. Namun begitu, di sisi lain, ibadah puasa ter­nya­ta juga tidak bisa dilepaskan begitu saja dari dimensi amal saleh, seba­gai perwujudan lahiriah makna dan pesan iba­d­ah itu sendiri.

Hal tersebut konsisten dengan sabda Rasulullah saw., “Ba­rang siapa tidak bisa meninggalkan perkataan kotor, dan te­rus menger­jakannya, maka sesungguhnya Allah tidak memiliki kepentingan dengan amalan puasanya.”

Berkaitan dengan kasus serupa, amat menarik kiranya di­ung­kapkan sebuah cerita Rasulullah saw. Dikisahkan, be­liau sering melambat-lambatkan ceramahnya padahal para sa­­habat sudah berkum­pul. Dan kejadian semacam itu dila­ku­kan Rasulullah saw. berkali-kali sehingga akhirnya para sa­habat pun tidak sabar lagi ingin mengetahui ada apa di ba­lik perbuatan Rasulullah saw tersebut.

Dan setelah diamat-amati, ternyata Rasulullah saw. se­dang menunggu kedatangan seseorang yang, menurut ka­lang­an sahabat, tidak populer. Orang yang dinantikan Rasu­lul­lah saw. itu kemudian datang dengan menenteng sandal dan masuk ke dalam masjid, duduk bersama para sahabat yang sedang menunggu.

Ketika ditanya para sahabat, mengapa ceramahnya di­mulai setelah menunggu orang tadi, Rasulullah saw. pun men­­ja­wab bahwa orang yang baru datang itu adalah dari go­longan ahli surga. Tentu saja jawaban Rasulullah saw. ter­sebut membuat penasaran para sahabat.

Salah seorang sahabat yang cerdik, karena didorong oleh rasa penasaran, mencoba mengetahui amalan macam apa saja yang diper­buat orang itu hingga dikatakan oleh Ra­su­lullah saw. sebagai ahli surga. Akhirnya, sahabat tadi ha­rus mengikuti orang tersebut secara diam-diam dan se­te­lah mengetahui rumahnya, ia datang dan mengaku sebagai seorang tamu yang kemalaman. Sahabat itu pun meminta agar diizinkan bermalam di rumah itu.

Selama bermalam di rumah orang tersebut, sahabat itu selalu mengawasi dan memperhatikan amal­an keseharian orang terse­but yang menurut penilaiannya, amalan orang itu sesungguhnya tidak ada yang istimewa, kecuali bah­wa setiap kali bangun atau membetulkan posisi tidurnya, ia selalu menyebut nama Allah Swt. atau dzikr-u ’l-­lâh, seperti yang di­firmankan dalam Al-Quran, (ya­itu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang pen­cip­taan langit dan bumi (seraya ber­kata), “Ya Tuhan Kami, tiadalah Eng­kau ciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka pelihara­lah kami dari siksa neraka” (QS âli ‘Imrân [3]: 191).

Baca Juga :  Hikmah Diciptakannya Setan

Setelah dirasa cukup, akhir­nya sahabat tadi dengan jujur mem­­buka rahasianya bahwa ia sebenarnya hanya ingin menge­tahui amalan apa saja yang dilaku­kan orang tersebut karena Rasulullah saw. menyebut dia dari golongan ahli surga. Orang itu pun mengin­gat-ingat se­mua amalan keseharian yang biasanya dikerjakan. Dan ia pun mengetahui, tidak ada yang istimewa. Kemudian, ia ha­nya mengatakan menurut dugaan dan perkiraan bahwa diri­nya barangkali termasuk orang yang tidak pernah me­laku­kan qaulu zûr, berkata keji, kotor, dan dengki, al-hasad, de­ngan siapa pun.

Perlu disadari bahwa perbuatan dengki, yang kelihatan­nya sepele, sebenarnya justru merupakan perbuatan yang sa­ngat berba­haya. Dengki merupakan gejala permusuhan psikologis secara sepi­hak dan sangat berbahaya, karena orang yang didengki tidak menge­tahui dan dapat berakibat fatal. Dalam Al-Quran, perbuatan dengki dinyatakan seba­gai perbuatan yang diwanti-wantikan agar dijau­hi. Orang ber­­­­iman pun dianjurkan meminta perlindungan dari seran­gan dengki sebagaimana difirmankan, Dan dari kejahatan orang-orang yang dengki apabila ia dengki (QS Al-Falaq [113]: 5).

Bahaya dengki dalam sebuah hadis diilustrasikan oleh api yang membakar kayu kering, seperti, “Waspadalah dari sikap dengki karena dengki menghilangkan amal kebajikan, iba­rat api yang memakan kayu bakar.” Artinya, perbuatan deng­ki juga sangat membahayakan dirinya, namun ke­ba­nyak­an orang tidak menyadarinya, yakni akan menghi­lang­kan atau membangkrutkan nilai amalan baik atau ibadah­nya secara tidak dirasakan dan disadari. Akhirnya, orang ter­se­but di akhirat terkejut, merasa beramal banyak di du­nia, tetapi ternyata ia tidak memiliki simpanan atau deposito amal.

Hal yang demikian juga sama dengan amal orang mu­nafik atau orang yang sikap lahiriahnya berbeda dengan ha­ti­nya. Ia mengira telah melakukan banyak kebajikan di dunia, namun, tanpa disadari, akibat dari amalan yang tidak didasari oleh keimanan dan ketak­waan, amal perbuatannya menjadi fatamorgana. Ini sebagaimana difirmankan dalam Al-Quran yang berbunyi, Dan orang-orang kafir itu, amal-amal me­reka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disang­ka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatangi air itu, dia tidak mendapati sesuatu apa pun … (QS Al-Nûr [24]: 39).

Baca Juga :  Hukum Doa Bersama

Puasa, yang ajaran pokoknya mengendalikan diri dan pelatihan ruhaniah agar tidak mudah digelincirkan oleh do­rongan hawa nafsu, merupakan ibadah yang amat penting efeknya dalam menjalani kehi­dupan ini. Sesungguhnya, orang yang dikendalikan oleh hawa nafsu digambarkan seba­gai orang yang dibiarkan (yada‘u dari wada‘a). Ia dibiarkan ber­buat apa saja, yang tanpa disadari, sebenarnya justru se­­dang dipurukkan ke kehancuran. Ketika seseorang sudah tidak bisa lagi mengontrol hawa nafsunya, sebenarnya orang itu sedang, diacuhkan saja oleh Allah Swt. (al-istidrâj). Ini fa­tal, tapi orang tidak menyadarinya. Di sinilah ibadah puasa memainkan perannya.

Berkenaan dengan kasus ketidakmampuan mengen­dali­kan hawa nafsu yang berakibat fatal, sejarah telah mem­bukti­kan dengan banyak contoh atau fakta, sebagaimana digambarkan oleh sejarahwan terkenal Gibbon dalam karya­nya, The Dicline and the Fall of Roman Empire. Dikisahkan, kejatuhan kerajaan Romawi yang besar itu telah ditandai dengan munculnya gejala ketidakmampuan menguasai ha­wa nafsu. Setiap pejabat berbuat untuk mencapai dan me­me­nuhi kepentingan dan keuntungan dirinya saja. Mereka mengabaikan aturan atau hukum—perlu diingat, bangsa Ro­mawi terkenal sebagai bangsa dengan produk hukum dalam sejarah peradaban dan kebudayaan dunia. Setelah mereka sudah tidak lagi menaati hukum yang mereka buat, karena meng­ikuti hawa nafsunya, pada akhirnya semua dibuktikan dengan kehancuran.

Kejadian ini universal dan menjadi sunnatullah, artinya tanpa memandang apakah ia orang atau bangsa yang kafir atau Islam. Dalam sejarah umat Islam sendiri, pada masa di­nasti Abasiyyah, kota Bagdad, Irak, merupakan kota me­tro­polis dan menjadi pusat peradaban dunia. Ini sebelum ke­datangan tentara Hulagu atau pasu­kan Mongol yang ter­ke­nal amat kejam. Namun akhirnya, sedikit demi sedikit ma­sya­rakat sana dirasuki penyakit ketidakmampuan me­ngen­­­dalikan hawa nafsu. Para penguasa dan pejabat dinasti Abasiyyah rata-rata hanya mementingkan diri dan berlomba-lomba memenuhi tuntutan hawa nafsunya dengan berfoya-foya. Hingga akhirnya, mereka dibinasakan dengan tragis dan nista bersamaan datangnya serangan pasukan Mongol yang ganas. Mereka dibunuh dan kotanya diratakan. Perpus­ta­kaan-perpustakaan yang kaya akan literatur dan buku-bu­­­ku dibakar. Dan menurut catatan, sebagian buku tersebut dibuang, dicemplungkan ke sungai-sungai di Bagdad, se­hing­ga air sungai menjadi hitam karena tinta.

Baca Juga :  Menderita Maag Kronis, Bolehkah Tidak Berpuasa?

Perlu direnungkan di sini, untuk dapat menjalani ke­hi­dup­an ini dengan selamat, setidaknya beberapa amalan se­pan­jang bulan puasa sangatlah membantu, khususnya da­lam mengontrol dan mengen­dalikan dorongan hawa nafsu dan sikap buruk lain. Amalan tersebut berupa amalan zikir, yakni mengingat Allah Swt., meminta perlin­dungan-Nya agar tidak mudah terperosok dan jatuh ke dalam penguasa­an hawa nafsu yang mengakibatkan kehancuran.

Kemudian, zikir itu dilanjutkan dengan syukur, yakni si­kap jiwa yang lapang dan selalu merasa bahagia dengan pem­­ber­ian, rezeki, dan karunia Allah Swt. Dalam Al-Quran digambarkan bahwa sesungguhnya karunia Allah Swt. amat banyak jumlahnya dan berharga sekali, namun kita tidak mam­pu mensyukuri, kemudian tidak dapat merasakan ke­ba­ha­giaan atas limpahan karunia dan rahmat Allah Swt. Dan sesungguhnya, hanya dengan mensyukuri nikmat-Nya kita akan dapat merasakan tambahan kebahagiaan atas nik­mat-nikmat dan karunia-karunia tersebut, seperti yang di­ingat­­kan Allah Swt. dalam Al-Quran, Dan jika kamu menghi­tung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penya­yang (QS Al-Nahl [16]: 18).

Biasanya, kebanyakan orang akan merasakan betapa ber­artinya sesuatu setelah sesuatu itu hilang. Begitu pula de­­ngan nikmat karunia Allah Swt. yang banyak jumlahnya sering dilupakan dan baru terasa berarti setelah tidak dimi­liki, seperti nikmat sehat, kekayaan, jabatan, umur, dan te­naga.

Sikap melupakan nikmat, tidak memanfaatkan sebaik-baiknya sesuai dengan ajaran agama, tentunya tidak boleh terjadi pada orang yang beriman karena orang yang sudah ke­­­hilangan sesuatu tidak akan dapat lagi mengulanginya, seperti dalam pepatah berba­hasa Arab yang sangat terkenal, “Faqîdusy sya’i lâ yuthlab” (sesuatu yang telah hilang tidak akan dimiliki lagi).

Berpuasa secara baik ditambah sikap-sikap dan amalan-amalan, zikir, selalu ingat Allah Swt. dan syukur atas segala lim­pahan rahmat-Nya tersebut, harus dilakukan secara kon­sis­ten dan terus-menerus, baik dalam susah maupun mudah, serta tidak hanya sepan­jang bulan puasa.[]

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here