Puasa Sebagai Kesalehan sosial

0
251

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka, kecelakaanlah bagi orang-orang yang mendirikan shalat …. (QS Al-Mâ‘ûn [107]: 1-4)

 

 

BincangSyariah.com –Indikasi orang bertakwa, sebuah pribadi yang menjadi tar­get pengalaman ibadah puasa, adalah mempercayai ke­­gaib­an, mendirikan shalat, dan mengeluarkan atau mem­­­berikan sebagian hartanya, sebagaimana dinyatakan da­lam Surah Al-Baqarah, kitab Al-Quran tidak ada keraguan pada­nya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat, dan me­nafkahkan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepada me­reka … (QS Al-Baqarah [2]: 2-4).

Dari ayat tersebut, tampak jelas betapa keimanan ke­pa­da yang gaib, mendirikan shalat, dan membayar zakat ada­lah ibadah yang memiliki kesatuan yang kuat, integrated, yang tidak bisa dilepaskan begitu saja antara yang satu de­ngan yang lain. Dengan kata lain, inti pesan-pesan ajaran Islam memberikan perhatian yang serius terhadap masalah kemanusiaan atau sosial.

Dengan menganjurkan orang Islam mengeluarkan za­kat, baik mal atau harta kekayaan maupun zakat fitrah pa­da bulan puasa, berarti agama Islam menganjurkan orang ber­iman giat bekerja dan berupaya menjadi orang yang ka­ya, karena memberikan sebagian rezeki merupakan satu per­wujudan dan pembuktian keimanan yang batiniah, tak tampak. Hal senada juga dianjurkan dalam sebuah hadis Nabi Saw. yang berbunyi,“Tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah.” Hadis ini mengisyaratkan bahwa memberi lebih mulia, terhormat, daripada menerima. Dan, pada sisi lain, secara bersamaan, juga memberikan pemahaman bah­wa meminta-minta adalah pekerjaan yang tidak terhormat.

Berkaitan dengan anjuran berinfak, orang Islam dian­jur­kan berinfak dalam kondisi apa pun sehingga sepertinya tidak ada alasan bagi orang yang mengaku Muslim untuk ti­dak berinfak. Dalam hal berinfak, seseorang tidak perlu me­nunggu-nunggu sampai ia memiliki rezeki yang banyak, karena pada hakikatn­ya memberi adalah perwujudan ke­iman­­an yang tidak dikaitkan dengan jumlah, sebagaimana dalam Al-Quran digambarkan bahwa ciri orang yang bertak­wa adalah akan selalu berinfak dalam kondisi apa pun, Yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit (QS âli ‘Imrân [3]: 134).

Baca Juga :  Menemukan Uang di Jalan, Apakah Wajib Diumumkan?

Kecuali dalam kondisi tidak berpunya, orang beriman juga masih diperintahkan untuk berinfak. Mereka yang be­nar-benar dalam kesempitan pun dianjurkan dapat mena­han diri dari sikap mudah meminta-minta. Inilah gambaran pribadi takwa, yakni sebuah priba­di yang harus memiliki si­­kap prawira (‘afîf). Sikap prawira adalah sikap yang meng­asum­si­kan bahwa tindakan meminta-minta hanya akan me­rendahkan harga dirinya, seperti dalam sebuah hadis Nabi Saw. dinyatakan, “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, dan mulailah (berinfak) kepada orang yang dekat, dan sebaik-baik sedekah adalah kepada orang yang benar-benar membu­tuhkan, dan barang siapa bersikap prawira, maka Allah lebih menyukai, dan barang siapa tidak membutuhkan, itu lebih baik.”

Dari situ juga dapat dilihat bahwa ajaran Islam berada pa­da posisi tengah yang mengikat antara dimensi vertikal, yang berwu­jud ritual dan bersifat pribadi serta dimensi hori­zon­tal, yang berwujud amal saleh atau kerja kemanusiaan se­bagai kesatuan tunggal. Kesatuan dua dimensi itu diiba­rat­kan sebuah mata uang, yang satu sama lain memiliki hu­bung­an tak terpisahkan.

Contoh ajaran yang berdimensi horizontal tapi juga me­rupa­kan efek ikutan dimensi vertikal adalah berzakat, yang ide dasarnya adalah komitmen sosial dan perbaikan sosial. Di sisi lain, berza­kat adalah amalan ibadah yang bermuara pada perbaikan sosial sebagai wujud dan realisasi atau pem­buktian keimanan yang bersi­fat personal atau pribadi. De­ngan begitu, singkatnya, agama Islam melarang orang yang ha­nya mengutamakan dimensi ri­tual dan kesale­han formal (formal piety) dan melalaikan dimensi ke­manusiaan.

Munculnya anggapan yang me­mandang akhlak sebagai urus­­­­­­­an pribadi adalah sebuah ke­ke­liruan. Adalah sinyalemen Al-Qur­an yang bernada mengutuk orang yang tidak melakukan ker­ja sosial sebagai orang-orang yang men­dustakan agama, Tahu­kah kamu (orang) yang mendusta­kan agama? Itulah orang yang meng­­­hardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka, kecelakaan­lah bagi orang-orang yang mendiri­kan shalat … (QS Al-Mâ‘ûn [107]: 1-4).

Baca Juga :  Belajar Persatuan dari Sepakbola Indonesia

Dan lebih jauh lagi, yang tam­­paknya lebih unik, adalah meng­­apa orang yang telah men­dirikan shalat masih dikutuk pu­la? Ternyata, karena ia melupa­kan pesan, ajaran, dan makna yang terkandung dalam ajar­an shalat. Sekali lagi, yang dimaksudkan dengan mela­laikan shalat di sini bukanlah orang yang lalai karena pekerjaan, lu­pa, tertidur, atau lain hal karena alasan yang demikian itu justru dimaafkan. Dengan demikian, ajaran Islam benar-benar bisa dikatakan sebagai ajaran antikesa­leh­an formal. Bagaimana bisa seseorang yang sudah menja­lan­kan shalat masih dikutuk.

Hal yang demikian itu, secara tegas, menggambarkan be­tapa ajaran Islam sangat memperhatikan dan meman­dang penting amalan sosial (social-works), dan nilainya sama dengan ibadah-ibadah yang berdimensi personal. Seperti yang diisyaratkan dalam Al-Quran, salah satu bentuk sikap tidak peduli terhadap masalah-masalah yang berdimen­si kemanusiaan adalah sikap tidak memperhatikan kehidupan anak yatim, Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin (QS Al-Mâ‘ûn [107]: 2-3).

Keyatiman, sebagaimana diilustrasikan, adalah masalah yang—pada saat Al-Quran diturunkan—sangat berat. Kehi­dup­an anak yatim, baik secara sosial maupun ekonomi, pada saat itu benar-benar membelenggu. Bahkan sampai saat ini pun, keyatiman merupakan kondisi yang dirasakan sangat berat.

Begitu pula dengan masalah kemiskinan. Sampai seka­rang pun kemiskinan menjadi masalah besar dan sulit yang menuntut penyelesaian. Apalagi sekarang ini kita sering men­­dengar istilah atau ungkapan “kemiskinan struktural”.

Ilustrasi lain yang menegaskan pentingnya amal sosial adalah ajaran shalat. Shalat sebagai sebuah komunikasi an­tara hamba dengan Allah Swt. Dimulai dengan takbir (meng­agungkan nama Tuhan) kemudian diakhiri dengan meng­ucap salam ke kanan dan ke kiri. Salam itu ditujukan kepada manusia, bahkan kepada seluruh alam.

Salam yang mengakhiri ibadah shalat mengandung ajaran ber­buat amal saleh kepada manusia dan lingkungan, sesuai dengan pesan-pesan dalam shalat sejak takbir. Oleh karena itu, orang yang tidak mau melengkapi ibadahnya dengan amal sosial, dengan sendirinya amal ibadahnya akan sia-sia atau tak bermakna, seba­gaimana analogi orang yang me­lakukan shalat kemudian tidak menu­tup shalatnya de­ngan mengucapkan salam.

Baca Juga :  Spirit Puasa pada Pembangunan Etika Sosial

Kerja sosial yang merupakan perwujudan kepedulian, komitmen sosial, atau tanggung jawab sosial, tidak boleh di­laku­kan semaun­ya atau sambil lalu. Kerja sosial tersebut harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab, seperti di­ingat­kan dalam Al-Quran bahwa hendaknya berinfak atau bersedekah dilakukan dengan penuh kesa­daran. Amalan itu dimaksudkan sebagai kesadaran akan kedeka­tan de­ngan Tuhan, atau wujud pembuktian keimanan kepada ke­gaiban.

Orang beriman tidak dibenarkan melakukan amal saleh atau kerja sosial seenaknya saja. Dalam Al-Quran, orang ber­iman diingatkan agar tidak berinfak atau bersedekah suatu barang atau sejumlah uang yang ia sendiri sebenarnya malu menerimanya, seperti dinyatakan, Hai orang-orang beriman, nafkah­kanlah (di jalan Allah) sebagian dari usahamu yang baik-baik dan sebagian dari yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah memilih yang buruk-buruk lalu kamu naf­kah­kan darinya, padahal kamu sendiri tidak mau … (QS Al-Ba­qarah [2]: 267).

Yang demikian itu karena, sesungguhnya, efek amal saleh yang dilakukan seseorang kembali kepada diri sendiri. Pada sisi lain, ajaran yang demikian itu juga mengindikasi­kan ajaran Islam tentang hakikat pengertian kemanusiaan yang bernilai uni­versal. Itu sebabnya, dalam Al-Quran di­an­jur­kan agar umat Islam mau melakukan gerakan atau upa­­ya pemerdekaan kemanusiaan, yang diwujudkan dalam bentuk memerdekakan budak, ‘itqû raqabah.

Substansi ajaran Islam tersebut sekali lagi dalam kondisi sekarang ini lebih populer diistilahkan dengan melakukan tu­gas pembebasan kemanusiaan dari belenggu kemiskinan struktural, yakni seseorang menjadi miskin tanpa kesadaran karena diciptakan oleh sebuah sistem.

Bulan puasa yang melatih kita secara ruhani, mening­kat­kan ketakwaan, kesadaran akan kehadiran Allah Swt. tan­pa disadari telah pula menumbuhkan rasa empati atau kondisi psikologis ikut merasakan kesusahan yang dirasakan oleh orang lain dengan berpua­sa, menahan lapar dan da­haga.

Ibadah puasa juga mengajak kita agar mau peduli de­ngan penderitaan dan kesusahan yang dipikul oleh orang lain dan itu sejalan dengan ajakan dan anjuran untuk mem­perbanyak beramal saleh, kerja sosial, serta melakukan per­baik­an sosial selama bulan puasa.[]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here