Puasa Ramadan Sebagai Sarana Pencerahan Ruhani

0
345

BincangSyariah.Com – Ada sebuah riwayat yang mengisahkan bahwa sebelum Nabi Saw. akan dinaikkan untuk Isra Mikraj, beliau di belah dulu dadanya untuk dioperasi. Membersihkan isi dada dan isi perut diisi dengan hikmah dan iman.

Telah menceritakan kepada kami Anas bin Maalik, dari Malik bin Sha’sha’ahra, ia berkata, Nabi saw. bersabda: “Ketika aku berada di sisi Baitullah antara tidur dan sadar”. Lalu Beliau menyebutkan, yaitu: “Ada seorang laki-laki diantara dua laki-laki yang datang kepadaku membawa baskom terbuat dari emas yang dipenuhi dengan hikmah dan iman, lalu orang itu membelah badanku dari atas dada hingga bawah perut, lalu dia mencuci perutku dengan air zamzam kemudian mengisinya dengan hikmah dan iman…[HR. Bukhari]

Operasi pembersihan pada diri Nabi Saw. itu bersifat maknawi dan pembelajaran bagi ummatnya. Sebagaimana diketahui bahwa Nabi saw. sendiri mempunyai sifat Ma’sum yaitu terjaga dari dosa dan maksiat. Maksumnya bersifat Qobliyah yaitu sebelum diangkat menjadi Nabi dan Maksum Bakdiyyah sesudah diangkat menjadi Nabi Saw.

Dosa itu hasil perbuatan yang bertentangan dengan perintah Allah dan bentuknya  tidak berwujud zahir atau benda, dia ada tapi tidak bisa dilihat dengan mata biasa. Jadi dosa-dosa yang telah kita perbuat tidak bisa dihapus dan dibersihkan serta dicuci dengan air.

Jadi hadist di atas yang mengisahkan Nabi Saw. dioperasi dan dibelah dadanya dan dibersihkan itu sebagai pembelajaran kepada ummatnya dan mempunyai makna bahwa jika kita ingin Mi’roj Ruhani, maka kita harus membersihkan dosa-dosa yang ada di hati dan jiwa

Begitu juga kita harus membersihkan dan menjaga perut kita dari barang yang haram dan syubhat dengan cara mengisi dengan iman, banyak bertaubat dan memperbanyak ibadah serta dzikir kepada Allah.

Baca Juga :  Ini Cara Niat Puasa Rajab

Sebagaimana Bulan Ramadhan ini adalah sebagai sarana untuk “mengoperasi” diri kita sendiri dari segala kotoran dosa dan noda dalam jiwa dan perut. Kita tidak bisa Mi’roj Ruhani sebelum jiwa kita bersih.

Kemudian dengan memperbanyak sholat malam bulan romadhan, tadarus al- Qura’an, mengeluarkan sodaqoh, menjaga adab-adab puasa. Serta selalu hati kita fokusnya kepada Allah, maka kita akan mendapatkan pencerahan ruhani, itulah yang disebut dengan Lailatul Qadar.

Dari Abu Hurairah ra, (bahwasanya) Rasulullah saw. bersabda.

قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

“Semua amalan bani Adam untuknya kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya, puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah : ‘Aku sedang berpuasa.

Demi dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesunguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada bau misk.

Orang yang puasa mempunyai dua kegembiraan, jika berbuka mereka gembira, jika bertemu Rabbnya mereka gembira karena puasa yang dilakukannya” [Bukhari – Muslim]

Untuk itu marilah kita menjaga puasa kita dengan puasa lahir dan bathin dan dengan memperbanyak dzikir kepada Allah. Janganlah merusak puasa kita dengan hal-hal merugikan jiwa kita.

Semoga dengan bulan Ramadhan semua makhluk diberi cahaya oleh Allah….

Baca Juga :  Logo HUT RI Dianggap Salib, Bukti Masyarakat Indonesia Latah Simbol Agama

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here