Puasa Ramadan Meningkatkan Nilai Kebersamaan

0
95

Maka apakah mereka tidak memperha­tikan unta, bagaimana dia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan? (QS Al-Ghâsyiyah [88]: 17-20)

 

BincangSyariah.Com- Perintah ibadah puasa pada bulan Ramadlan dengan menggunakan sistem kalender atau penanggalan Is­lam memiliki makna tersendiri. Sistem penanggalan Islam yang berdasarkan peredaran bulan (qamar), kemudian dinamakan penanggalan Qamariyyah, lebih cepat kurang-le­bih sepuluh hari daripada penanggalan Masehi yang ber­da­­sar­kan peredaran matahari (syams), kemudian dinamakan penanggalan Syamsiyyah.

Oleh karena peredaran bulan lebih cepat, dengan sen­diri­nya bulan Ramadlan lebih cepat pula sehingga bulan Ra­madlan jatuh dalam bulan Masehi yang berbeda setiap tahun. Dengan demikian, ibadah puasa dapat terjadi pada musim yang berbeda-beda pula karena perubahan musim sesuai dengan kalender Masehi. Sebagai ilustrasi adalah pe­rayaan Natal yang selalu jatuh pada bulan Desember, saat mu­­sim dingin (winter) berlangsung. Oleh karena itu, Muslim yang tinggal di Eropa—yang memiliki empat musim—akan men­jalankan ibadah puasa pada musim yang berbeda-beda.

Kita tidak bisa membayangkan bila ibadah puasa harus terjadi pada musim dingin bagi suatu kaum dan bagi kaum yang lain pada musim panas secara terus-menerus. Barang­kali kita akan melihat ketidakadilan dalam menjalankan iba­dah puasa. Akan tetapi, inilah ajaran dan sunnatullah dalam penciptaan keserasian dan keadilan.

Ibadah puasa dan Idul Fitri juga dikaitkan dengan an­jur­an melihat bulan, sebagaimana difirmankan dalam Al-Quran, … Maka barang siapa di antara kamu menyaksikan bu­lan baru, hendaklah (mulai) berpuasa … (QS Al-Baqarah [2]: 185). Yang demikian itu juga kemudian diterangkan dalam hadis Rasulullah Saw. yang ber­bunyi, “Apabila kamu menyak­si­kannya (bulan), maka berpuasalah, dan apabila kamu melihat­nya berbukalah (hari raya Idul Fitri), dan kamu dalam keadaan men­dung, maka hendaknya kamu menghitung bilangannya.”

Dengan demikian, sejalan dengan hadis Nabi Saw., kita di­a­njurkan untuk menghitung dengan melengkapi bilangan jika kondisi alam, atau cuaca, tidak memungkinkan. Hal ini pun termuat dalam lanjutan ayat yang memerintahkan un­tuk merayakan hari raya Idul Fitri yang berbunyi, Supaya ka­mu mencukupkan bilangan dan mengagungkan Allah karena petunjuk-Nya kepadamu. Semoga kamu bersyukur … (QS Al-Baqarah [2]: 185).

Dari situ juga dapat direnungkan bahwa agama Islam sesung­guhnya mengajarkan harmony with nature atau men­ja­lin keserasian hidup dengan alam kepada para pemeluk­nya. Alam dalam agama Islam difungsikan sebagai tanda-tanda atau ayat-ayat Tuhan (signs of God) yang harus dipikir­kan dan direnungkan. Perintah dan anjuran tentang hal ini banyak kita temukan dalam Al-Quran, seperti salah satu con­­tohnya, Maka apakah mereka tidak memperha­tikan unta, bagaimana dia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggi­kan? Dan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan? (QS Al-Ghâsyiyah [88]: 17-20).

Baca Juga :  Ini Larangan Memaki Hewan dalam Islam

Di sisi lain, memikirkan dan merenungkan (tadabbur) juga menurut ajaran Islam sebagai amalan ibadah yang ting­gi nilainya, seperti yang dianjurkan Al-Quran, (yaitu) orang-orang yang men­gingat Allah sambil berdiri atau duduk atau da­lam keadaan berbar­ing dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiada­lah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari api neraka” (QS âli ‘Imrân [3]: 191).

Namun pada sisi lain, orang beriman dilarang memikir­kan Zat atau Substansi Allah Swt. karena manusia dengan kekuatan akal atau intelektualitasnya tidak akan mampu mencapai dan menemukan Zat dan Substansi Allah Swt. Ini ditegas­kan dalam hadis Rasulullah Saw. yang berbunyi, “Pikirkanlah cip­taan Allah dan janganlah kamu memikirkan Zat Pencipta karena sesungguhnya kamu tidak akan mampu men­capainya.”

Anjuran dan perintah untuk mengkaji, meneliti, dan mem­pela­jari alam semesta dalam hal ini akan lebih tepat sebagai anjuran melakukan research. Dalam Al-Quran dite­mu­kan anjuran agar orang beriman memperhatikan dan mem­pelajari semut (al-naml), nyamuk (ba‘ûdlah), lebah (al-nahl)—binatang-binatang tersebut menurut.

Perlu diketahui bahwa sesungguhnya Allah Swt. tidak pernah sekali-kali malu membuat pemisalan-pemisalan atau metafora dengan menggunakan mereka untuk mengajar­kan eksistensi dan kebesaran-Nya kepada manusia. Dalam Al-Quran disebutkan, Sesungguhnya Allah tidak segan-segan mem­buat perumpamaan berupa nyamuk atau lebih rendah dari­pada itu. Adapun orang-orang beriman, maka mereka yakin bah­wa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka ... (QS Al-Baqarah [2]: 26).

Dengan merenungkan alam semesta, orang beriman akan bertambah keislaman dan keimanannya. Karena sesuai dengan grand design Tuhan, alam semesta telah dijadikan tan­da-tanda kebesaran Tuhan yang harus direnungkan oleh orang beriman. Perenungan ini agar dapat meningkatkan ke­sadaran diri bahwa alam raya yang besar dan tidak memi­liki akal pikiran, atau bahkan hingga benda-benda mati pun, semua mau dan rela mengikuti, patuh, tunduk—beris­lam—kepada Allah Swt. Lalu, bagaimana dengan dirinya yang di­beri akal pikiran dan tuntunan agama, masihkah ia akan berpa­ling dari dan mengingkari keber­adaan dan kebesaran-Nya?

Hal itu diilustrasikan dalam Al-Quran, Sesungguhnya kami te­lah mengemukakan amanat kepa­da langit, bumi, dan gunung-gu­nung, maka semuanya enggan un­tuk memikul amanat itu dan mere­ka khawatir akan mengkhianati­nya, dan dipikullah amanat itu oleh ma­nusia … (QS Al-Ahzâb [33]: 72).

Baca Juga :  Asal Usul Syair Tombo Hati, Ternyata dari Kitab Kuning

Begitu pula dengan ajaran Islam yang lain, seperti pada saat menjalankan ibadah haji, yakni tepatnya saat melakukan thawâf, berputar mengelilingi bangunan Ka‘bah. Pada saat ibadah haji, la­ut­an manusia mengelilingi Ka‘­bah sebagai sumbu atau poros­nya. Aktivitas ini menyerupai be­nar aktivitas yang dilakukan alam raya ini.

Gerakan thawâf ini merupa­kan paralelisme dengan gerakan tata surya kita, yakni bulan dan pla­net-planet lain yang sedang mela­kukan revolusi menge­lilingi matahari, sebagai sumbu. Matahari dengan susunan planet-planetnya bersama-sama bintang-bintang di alam ja­gat raya ini mengitari sebuah poros. Galaksi kita—dinama­kan Galaksi Susu, Milky-Way—dan jutaan galaksi yang ada di jagat raya itu yang tidak diketahui persis jumlahnya, mela­ku­kan aktivi­tas yang sama.

Perlu juga diketahui bahwa gerakan thawâf adalah de­ngan cara meletakkan atau memposisikan bangunan Ka‘bah sebagai sumbu pada sisi kiri. Yang demikian sama dengan gerakan alam semesta, bahkan termasuk makhluk hidup yang terkecil pun, yakni sel-sel yang mengitari inti sel.

Kita belum atau, barangkali, tidak pernah membayang­kan kalau saja ajaran Islam tentang thawâf, umpamanya, di­ganti dengan meletakkan Ka‘bah pada sisi kanan, ternya­ta orang akan pingsan atau pusing. Itu tentu saja terjadi karena gerak tersebut tidak sesuai dengan fitrah, nature atau sunnatullah. Lagi-lagi, agama Islam adalah agama fi­trah.

Penciptaan segala sesuatu dengan keserasian adalah yang kemudian dipandang sebagai something natural, sesuatu yang alami. Dan, sesuatu yang alami adalah ajaran fitrah yang dalam Islam adalah kesucian. Manusia dalam konsep Islam dikaruniai potensi bawaan untuk selalu mencintai yang natural, yang alami, yang suci, sesuai dengan dorongan fitrahnya. Dalam Al-Quran disebutkan, Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah): (tetaplah atas) fi­trah Allah yang menciptakan manusia menurut fitrah itu. Ti­dak ada perubahan pada fitrah Allah … (QS Al-Rûm [30]: 30).

Muara ibadah puasa yang akan dicapai setelah melalui tiga fase puasa adalah kesucian atau fitri. Sementara ketiga fa­se tersebut adalah fase sepuluh hari pertama yang merupa­kan simboli­sasi fase lahiriah (rahmah); sepuluh hari kedua, sim­bolisasi nafsiah (maghfirah); serta sepuluh hari terakhir, simbolisasi ruhaniah (‘itqun min al-nâr).

Ajaran tersebut memiliki kaitan erat dengan ajaran ber­maaf-maafan, yang dalam tradisi bangsa kita diistilahkan de­ngan halâl bi al-halâl. Praktiknya adalah permintaan maaf kepada orangtua dan kerabat. Kerinduan untuk pulang kam­pung, atau lebih populer dengan istilah tradisi mudik, esensi­nya adalah anjuran untuk meminta maaf kepada orangtua.

Baca Juga :  Mengapa Allah Bersumpah dengan Huruf Nun dalam Al-Qur'an?

Kalau mau direnungkan, sesungguhnya hal itu merupa­kan gera­kan alamiah (natural). Secara alamiah manusia akan merindukan orang-orang yang dekat dengan mereka, khu­sus­nya orangtua, kemudian kerabat. Kerinduan ini sebagai hal yang back to basic dan puncaknya adalah kerinduan ke­pada Allah Swt.

Kerinduan kepada Allah Swt. di antaranya ditandai oleh munculnya kesadaran diri tentang asal-usul dirinya sebagai penca­paian tahap dimensi ruhaniah atau spiritual. Itulah se­babnya, setelah meminta ampunan dari Allah Swt. dan ma­af kepada sesama, mereka berziarah kubur, yang bertu­ju­an mendoakan ruh atau arwah mereka yang sudah meng­ha­dap Allah Swt.

Menyinggung kasus praktik ziarah kubur, perlu diingat bahwa pada zaman Rasulullah Saw., praktik mengunjungi atau berziarah kubur pernah dilarang atau diharamkan. La­rang­an tersebut juga menyentuh masalah membangun ku­bur­an atau makam-makam. Agar makam-makam orang Islam tidak dibangun bermegah-megahan. Namun yang iro­nis, justru kuburan orang Islam adalah kuburan yang paling mewah. Ambil saja contoh kuburan yang dibangun oleh Shaikh Jihan, yakni Taj Mahal di India yang sampai sekarang ini masih dipeli­hara, dan bahkan dinyatakan sebagai salah satu dari tujuh keajai­ban dunia.

Namun selanjutnya, praktik ziarah kubur diperboleh­kan. Hal tersebut diasumsikan setelah orang beriman sudah mapan secara tauhid, dan Rasulullah Saw. melihat arti pen­ting dan manfaat ziarah kubur—ziyârah dalam bahasa Arab artinya wisata. Adapun perintah atau anjuran agar orang ber­iman melakukan ziarah kubur dinyatakan dalam sebuah sabda Rasulullah yang berbunyi, “Kami melarang kamu seka­lian mengunjungi kuburan, tapi sekarang kunjungilah.

Ternyata, ada manfaat besar di balik praktik ziarah ku­bur, seperti mendoakan arwah yang sudah berpulang meng­hadap Allah Swt. terlebih dahulu. Akan tetapi, yang lebih pen­­ting lagi adalah bahwa praktik ziarah tersebut sesung­guh­nya dapat mengingatkan dan membangkitkan kesadar­an diri bahwa kita semua akan kembali. Dan ini sesuai sekali dengan ajaran Islam berkenaan dengan konsep kembali ke­pada Asal, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innâ li ’l-Lâh-i wa innâ ilaihi râji‘ûn” (QS Al-Baqarah [2]: 156).

Sedangkan kaitan dengan hari raya Idul Fitri, sesung­guh­nya inilah substansi dan tujuan pelaksanaan ibadah pua­sa, yakni agar orang beriman dapat menyandarkan diri kepa­da Allah Swt. Dengan kata lain, inilah yang dimaksud dengan ajaran tawakal dalam segala urusan kepada Allah Swt. Ini adalah efek dari perwujudan kesadaran mendalam akan ke­hadiran Tuhan dalam hidup, yang juga identik dengan hakikat makna takwa itu sendiri sebagai titik kulminasi ke­rinduan manusia yang bersifat alamiah.[]

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here