Puasa Ramadan Menjaga Diri dari Sifat Tamak

0
228

Bermegah-megah telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur ….(QS Al-Takâtsur [102]: 1-2)

 

 

BincangSyariah.Com -Pembahasan berkenaan dengan konsep harta menurut Islam, dalam kaitannya dengan perintah ibadah pua­sa, adalah sangat tepat. Karena dapat ditelusuri bah­wa perintah mendapatkan harta secara benar masih ber­kait­an erat dengan masa­lah puasa, yakni masih merupakan ke­lanjutan ayat yang memerintah­kan berpuasa.

Perlu kiranya diungkapkan di sini, sejak zaman Rasu­lul­lah Saw., memang sudah muncul sekelompok sahabat yang memilih cara hidup menjauhi kehidupan duniawi. Me­reka memilih hidup sebagai zâhid, atau orang yang mening­galkan kenikmatan duniawi, seperti yang dicontohkan oleh sahabat Abdurahman bin Auf—beliau adalah mantan orang ka­ya Makkah sebe­lum masuk Islam—yang memilih tinggal di suatu tempat terpencil untuk dapat menjauhi kemewah­an kehidupan duniawi. Perlu diingat pula, banyak dari ka­lang­an sahabat Rasulullah Saw. yang lain, seperti halnya Uts­man dan Abu Bakar, sebagai contoh orang-orang kaya—ba­rangkali mereka identik dengan idiom sekarang, yaitu seba­gai kelompok konglomerat. Dan oleh Rasulullah Saw., nyata­nya, mereka tidak dilarang memiliki harta yang banyak atau menjadi orang kaya.

Fakta yang demikian kiranya dapat diasumsikan bahwa dalam ajaran Islam harta dipandang sebagai hal positif. Is­lam bukan agama yang memandang harta sebagai hal yang harus dijauhi, atau, lebih jauh lagi mengajarkan kepada para pengikutnya gaya hidup asketik, zuhud, seperti agama-aga­ma lain.

Dalam sebuah riwayat yang sangat terkenal juga dise­but­kan bahwa orang yang mati terbunuh karena alasan mem­­bela hartanya, seperti perampokan, dimasukkan ke da­lam golongan syahîd. Dan melindungi harta, hifzh-u ’l-mâl, ju­ga merupakan salah satu pilar, fondamen lima pilar Is­lam—yang lain adalah agama (hifzh-u ’l-dîn), kehormatan (hifzh-u ’l-ardl), jiwa (hifzh-u ’l-nafs), dan keturunan (hifzh-u ’l-nasb).

Contoh yang sangat sederhana yang menegaskan pan­dangan posi­tif agama Islam atas harta diilustrasikan dalam Al-Quran berupa larangan memasuki rumah orang lain, se­ba­gai­mana disebutkan, Hai orang-orang beriman, janganlah ka­mu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghunin­ya, dan yang demi­kian itu adalah lebih baik bagimu agar kamu (selalu) ingat (QS Al-Nûr [24]: 27).

Baca Juga :  Pandangan Islam tentang "Hair Extension"

Yang demikian itu, memberikan kepada kita sebuah pe­mahaman bahwa rumah merupakan simbolisasi aset, ke­pemilikan pribadi yang memiliki privasi yang harus dihor­mati dan tidak boleh dilanggar. Barang siapa ingin mema­suki rumah orang lain, dianjurkan meminta izin terlebih da­hulu kepada pemiliknya.

Memiliki harta dalam konsep Islam memang tidak ada la­rang­an, sebanyak apa pun, asalkan harta tersebut diper­oleh dengan cara-cara yang benar. Dan, tentunya, perspektif yang demikian harus dapat dibedakan dengan semangat me­nimbun harta dengan cara-cara yang tidak dibenarkan, bah­kan sampai menjadi budak harta, seman­gat kapitalis.

Adapun cara-cara yang tidak dibenarkan dalam mem­per­oleh harta, yang disinggung dalam ayat yang masih ke­lanjutan perintah berpuasa, adalah melakukan penyuapan, bribery, kolusi lewat mafia hukum sebagai alat legalisasi, se­bagaimana difirman­kan, Dan janganlah sebagian kamu mema­kan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu menge­tahui (QS Al-Baqarah [2]: 188).

Sedangkan praktik menimbun harta sehingga mem­bu­at dirinya menjadi budak harta dan melalaikan Allah Swt., bahkan sampai pada batasan ang­­­­gap­an dan keyakinan bahwa hartanya dapat melanggengkan dan mengabadikan hidupnya ada­lah hal yang benar-benar di­kutuk Al-Quran, Bermegah-me­gah telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur … (QS Al-Takâtsur [102]: 1-2).

Di sisi lain, juga perlu diingat bahwa Al-Quran pun mengan­jur­kan agar tidak menjauhkan diri dari harta karena sesungguhnya harta, kehidupan dunia, dan se­gala isinya adalah karunia Allah Swt. yang sengaja dengan nyata-nyata diperuntukkan demi ke­pen­­ting­an dan kelangsungan hi­dup manusia itu sendiri, sebagai­mana dinyatakan dalam Al-Qur­an, Katakanlah, “Siapa yang meng­ha­ramkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan untuk ham­ba-hamba-Nya. Dan siapa pula yang (mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah, “Semua itu (di­se­dia­kan) bagi orang-orang yang ber­iman dalam kehidupan dunia …” (QS Al-A‘râf [7]: 36).

Baca Juga :  Memaknai Peristiwa Nuzulul Quran

Hal tersebut, dengan sendirinya, juga mengimplikasi­kan bahwa harta dalam Islam mengandung ajaran kesucian karena di dalamnya ada nilai tanggung jawab, yaitu harta di­pandang sebagai amanah pemberian Allah Swt.

Dalam Islam, pemilikan harta (ownership) adalah sebatas sebagai mustakhlaf ‘alaih, yakni bahwa pemilikan harta da­lam Islam tidak mutlak atau absolut sehingga orang dapat menggunakan hartanya seenaknya saja seperti yang terjadi di negara-negara Barat, kapitalis liberal. Di Barat, orang sah-sah saja membakar atau memberikan hartanya kepada siapa saja yang ia mau, bahkan ada yang mewariskan hartanya un­tuk anjing kesayangannya.

Dalam Islam, pemberian hibah pun diatur oleh agama. Juga masalah warisan. Seseorang tidak boleh mewariskan har­ta yang dimilikinya semaunya karena hal itu sudah diatur oleh ajaran agama Islam, ada hukum waris. Itulah sebabnya, orang yang memili­ki harta, dengan sendirinya memiliki seb­uah konsekuensi atau tanggung jawab. Tanggung jawab atas bagaimana ia menggunakan har­tanya. Dengan kata lain, dalam Islam ada tuntutan moral dan etika dalam masalah har­ta, sebagaimana tercantum dalam Al-Quran, Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia me­ning­gi­kan sebagian kamu beberapa derajat atas yang lain untuk meng­­­uji­mu tentang pemberian-Nya kepadamu … (QS Al-An‘âm [6]: 165). Atau seperti yang ditegaskan pada akhir atau penu­tup Surah Al-Takâtsur, yakni Kemudian kamu pasti akan dita­nyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-me­gah­kan) (QS Al-Takâtsur [102]: 8).

Ibadah puasa berkaitan erat sekali dengan masalah ke­pemili­kan harta. Itu terbukti bahwa masalah tanggung ja­wab berdimensi intrinsik sama, yakni mengendalikan diri dari dorongan hawa nafsu tamak pada harta benda atau ma­teri sebagai tema sentral.

Ibadah puasa sebagai latihan ruhani melatih kita untuk dapat menahan dan mengendalikan diri dari kejatuhan la­hiriah, moral, etis, dan spiritual. Dan yang demikian itu akan berhasil, di antaranya, jika mampu mengendalikan diri dari go­daan-godaan harta atau materi. Di sisi lain, dalam Islam, harta juga dipandang sebagai medium uji coba keimanan dan ketakwaan orang beriman, sebagaimana dinyatakan da­­lam Al-Quran, Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anak­­mu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesung­guhnya di sisi Allah­lah pahala yang besar (QS Al-Anfâl [8]: 28).

Baca Juga :  Keistimewaan Nuzul al-Quran

Manusia, di samping oleh harta, akan mudah tergoda pula oleh anak-anak mereka sebagaimana yang diisyaratkan Al-Quran. Ini benar. Menurut sebuah penelitian, sesuai feno­me­na sosial, manusia sangat mencintai anaknya, kemudian kecintaan itu diwujudkan dengan pemberian atau peme­nuh­an materi atau harta kepadanya. Dari situ, diasumsikan bahwa anak merupakan contoh fenomena semangat filan­tro­pis, yakni mencintai sesama manusia yang prinsipal. Filan­tropis ini diwujudkan lewat pemberian. Dan yang demikian itu tidak dilarang dalam Islam asalkan tidak keluar dari ram­bu-ram­bunya.

Mempergunakan harta untuk kepentingan pendidikan anak dalam Islam—karena anak sebagai objek filantropis yang pertama dan ini sangat universal—sangat dianjurkan. Hal itu dimaksudkan agar anak-anak dapat tumbuh sebagai pri­ba­di yang berbudi luhur dan menjadi anak-anak yang sa­­leh. Harta dan anak dalam Islam memiliki kedudukan yang se­derajat sebagai tanggung jawab, amanat—karena di akhi­rat nanti kita akan dimintai pertanggungjawaban atas ama­nat yang dipikulkan dan dipercayakan kepada kita. Artinya, dalam Islam, baik harta maupun anak memiliki di­mensi accoun­tabil­ity, harus mampu dipertangungjawabkan.

Dengan demikian dapat disimpulkan, sejalan dengan kon­sep Islam, seseorang bebas dan merdeka membelanja­kan atau memperguna­kan hartanya. Akan tetapi di sisi lain, ia juga harus menyadari bahwa kelak di akhirat, ia harus mampu mempertanggungjawabkannya. Singkatnya, harta da­lam Islam harus mampu melahirkan efek-efek positif, apa­lagi pada bulan puasa—saat lebih banyak bersedekah, berin­fak, dan beramal yang bertujuan meningkatkan kadar dan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. sangat dia­njurkan.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here