Puasa Ramadan adalah Momentum Pengendalian Diri

0
195

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (Allah). (QS Thâ Hâ [20]: 14)

 

BincangSyariah.com – Ibadah shalat merupakan salah satu perwujudan sikap syukur dan dalam bentuk yang paling sederhana dan populer adalah mengu­capkan hamdalah. Ibadah shalat, pada satu sisi, merupakan perwu­judan tingkah laku ber­islam dan pada sisi lain sekaligus menjadi tanda-tanda yang meng­indikasikan bahwa seseorang telah beriman. Bagai­ma­na orang berislam dan beriman kalau dia tidak men­ja­lankan atau menunaikan ibadah shalat?

Dengan begitu, shalat juga dapat dijadikan indikator gam­bar­an batin seseorang sebagaimana pepatah bahasa Arab, “al-zhâhir-u yadull-u ’l-bâthin.” Artinya, yang lahiriah meng­indikasikan yang batin.

Seperti pernah disinggung sebelumnya, iman sebagai hal yang bersifat batin harus diejawan­tahkan dalam tingkah laku atau budi luhur, akhlak karimah. Itulah sebabnya dite­mu­kan adanya kolerasi positif antara iman dan budi luhur. Ciri orang beriman ialah harus berbudi luhur, seperti halnya ber­islam, yang kemudian diwujudkan dalam kesediaan menjalankan shalat. Dalam sebuah hadis dikatakan “Orang Islam adalah orang yang tetangganya selamat dari lisannya.” Dan, “Orang beriman adalah orang yang saudaranya selamat dari tangan dan lisannya.”

Dalam penjelasan yang lebih detail lagi, iman memiliki cabang atau bagian yang banyak sekali, di antaranya yang pa­ling sederhana adalah mengambil atau menyingkirkan duri di ja­lan sehingga orang lain dapat terhindar dari bahaya. Bahkan dalam sebuah hadis Nabi yang sangat masyhur di­se­butkan bahwa memberikan senyum juga merupakan tan­da-tanda orang beriman.

Kembali pada masalah shalat, ternyata ibadah shalat da­pat memberikan implikasi positif dalam kehidupan sese­orang. Shalat ini disimbolisasikan dengan takbir yang meng­gambarkan berlang­sungnya hubungan pribadi antara se­orang individu dengan Allah Swt. yang merupakan dimensi vertikal. Kemudian, shalat harus ditutup atau diakhiri de­ngan mengucapkan salam, yang berarti melakukan hubung­an dengan manusia, atau menjadi cermin dimensi horizon­tal. Dari situ dapat dilihat bahwa ibadah shalat yang memiliki dua dimensi. Dimensi ganda tersebut tidak akan tercapai tu­ju­an dan maksudnya bila keduanya tidak terlaksana dengan baik.

Baca Juga :  Hukum Mengikuti Pemilihan Umum

Ibadah shalat yang baik, dalam arti akan dapat mem­beri­kan efek ruhaniah kepada pelakunya, adalah shalat yang memiliki kekhusyukan. Kualitas atau kondisi khusyuk sendiri merupakan gam­baran sikap batin yang sangat sulit dikontrol atau dikendalikan. Itulah sebabnya, kemudian khu­syuk tidak termasuk dalam pembahasan fiqih untuk men­jadi syarat dan rukun sah shalat.

Meski mencapai derajat khusyuk itu merupakan hal yang sulit, tidak berarti bahwa dalam menjalankan shalat orang terus hanya mengejar batas sahnya shalat dalam pan­dang­an fiqih. Kita diwajibkan berupaya (bermujahadah) untuk dapat mencapai derajat tersebut karena di situlah ter­sembunyi pesan-pesan shalat.

Shalat yang khusyuk adalah shalat yang mampu meng­hadir­kan kesadaran adanya komunikasi yang sungguh-sung­guh antara hamba dan Allah Swt. Di sini ditemukan hakikat shalat sebagai medium atau sarana untuk selalu ingat kepa­da Allah Swt. Dan inilah yang dimaksudkan dengan dimensi fungsional shalat, seba­gaimana dalam Al-Quran disebutkan, Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (Allah) (QS Thâ Hâ [20]: 14).

Shalat tidak hanya dibatasi oleh wujud tingkah laku la­hir­iah, yang berupa gerakan dalam shalat semata, tapi sha­lat harus memberikan efek kepada kesadaran ruhani se­ba­gai konsekuensi sete­lah melaku­kan komunikasi dan dialog de­ngan Tuhan, sebagai perwu­jud­an dimensi vertikal sebagaimana dalam sebuah hadis Rasulullah Saw. dinyatakan, “Sesungguhnya Allah tidak melihat jasad kalian, te­tapi Allah akan melihat hati-hati kalian.”

Dalam amalan ibadah shalat ditemukan adanya tahap-tahap yang antara lain adalah tahap la­hiri­ah yang diwujudkan dalam ben­tuk gerakan, seperti mengge­rak­kan anggota badan dan mem­baca bacaan shalat. Kemudian, di­­­lan­jutkan dengan tahap komu­ni­kasi antara hamba dengan Allah Swt., yang berwujud me­ma­hami bacaan shalat yang diba­ca. Setelah itu, dilanjutkan de­ngan tahap spiritual, yang efek atau pengaruhnya tidak dapat di­li­hat oleh mata, namun dapat di­ra­sa­kan dalam batin atau jiwa, se­perti munculnya hati yang te­nang, hati yang mantap, tidak mu­dah diombang-ambingkan oleh dorongan yang dapat men­jerumuskan ke kejatuhan moral atau spiritual.

Baca Juga :  Apakah Orang yang Setengah Gila Tetap Wajib Shalat ?

Itulah sebabnya, tidak jarang dialami oleh beberapa orang, shalat juga mampu menjadi momen yang efektif un­tuk mendapatkan jalan keluar, alternatif dari kebuntuan (dead lock) permasalahan sehari-hari. Ini karena shalat yang khusyuk selalu diiringi dan diliputi oleh kesadaran akan kehadiran Allah Swt., sebagai tempat bergantung dan kem­bali karena meyakini bahwa Allah Swt. Maha segala-gala­nya, Maha Mengetahui, omniscient, Mahahadir atau ada, om­ni­present, dan Mahakuasa, omnipotent.

Yang demikian itu sebenarnya berkaitan. Seperti halnya ibadah puasa yang bertujuan mencapai derajat atau kualitas takwa dalam arti rabbâniyyah, maka ibadah shalat dimaksud­kan untuk mendapatkan perkenan atau rida Allah Swt. Dengan ibadah shalat juga kemudian akan lahir budi luhur, yang juga menegaskan adanya kolerasi positif sebagaimana ibadah puasa.

Selain shalat, ciri lain orang beriman adalah sikap men­jauhi perkataan yang tidak bermanfaat, seperti yang dikata­kan dalam Al-Quran, Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna (QS Al-Mu’minûn [23]: 3).

Sikap suka menghindari perkataan yang tidak berguna (lahwu atau fusq [easy going], tidak mau ambil peduli) perlu dijauhi karena orang beriman selalu hidup dengan sikap pe­nuh tang­gung jawab. Mereka tidak akan menyia-nyiakan hidup karena, dengan penuh kesadaran, hidup merupakan dimensi accountability, penuh pertanggungjawaban.

Barangkali perlu disebutkan, sejalan dengan pandang­an Islam, musik dan permainan catur oleh sebagian ulama di­anggap sebagai kegiatan membuang-buang waktu atau pekerjaan sia-sia sehingga hukumnya haram. Meski demi­kian, perlu juga diingat bahwa di antara kaum sufi, ada yang menciptakan musik sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Sikap tidak peduli juga kelak akan menjadi persoalan yang membedakan atau menjadi ciri antara yang tinggal di surga dan yang tinggal di neraka, sebagaimana dalam Al-Quran diilustrasikan sebuah dialog antara mereka yang ber­bunyi, Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (ne­raka)? (QS Al-Muddatstsir [74]: 42). Karena mereka tidak me­miliki kesadaran akan Tuhan dan menghiasi gaya hidupnya dengan berfoya-foya.

Baca Juga :  Ini Alasan Agar Kita Tidak Berprasangka Buruk

Dari masalah antara batin dan lahiriah, vertikal dan ho­rizontal, kemudian muncul ajakan dari Al-Quran agar orang masuk Islam secara total (kâffah), seperti dikatakan, … masuklah ke dalam Islam secara sempurna … (QS Al-Ba­qarah [2]: 208). Orang tidak bisa mengambil Islam sebagian-sebagian, tidak totalitas karena ajaran Islam tidak hanya ter­­­­­­­batas pada masalah-masalah batin, cara pikir, tapi Islam memiliki dimensi kemanusiaan total.

Berkenaan dengan masalah batin, perlu diketahui bah­wa batin dalam Islam juga memiliki nilai tersendiri sehingga berburuk sangka terhadap seseorang pun dalam Islam tidak dibenarkan, seperti dalam Al-Quran diklaim bahwa, Sesung­guh­nya orang beriman adalah bersaudara. Karena itu, damai­kan­lah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat (QS Al-Hujurât [49]: 10). Dan di tempat lain juga diingatkan, Hai orang-orang beriman, ja­nganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik daripada me­reka (yang mengolok-olok) … (QS Al-Hujurât [49]: 11).

Dari pemahaman ayat tersebut, dapat disimpulkan bah­wa dalam ajaran Islam, orang beriman dianjurkan dapat me­ngendalikan diri sehingga tidak mudah mengambil ke­simpulan bahwa seseorang jahat sebelum terbukti ia berbuat jahat. Pada bulan puasa yang menga­jarkan kita memper­ba­nyak perenungan, melakukan refleksi, ihtisâb, self exama­n­ati­on, dan memperbanyak shalat, khususnya shalat-u ’l-lail, yang lebih populer tarawih, orang beriman akan lebih mu­dah lagi menghayati substansi ajaran Islam. Dan bulan puasa juga adalah momen yang sangat tepat untuk belajar mening­kat­k­an kadar atau kualitas shalat sehingga shalat tidak ha­nya berhenti sebagai masalah pribadi atau hanya memen­ting­kan dimensi vertikal, namun juga berimplikasi pada ajar­an-ajaran moral dan kemanusiaan secara umum.[]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here