Puasa Menurut Syekh Abdul Qadir al-Jilani

1
409

BincangSyariah.Com – Puasa menurut Syekh Abdul Qadir al-Jilani, pada kitab karangannya sendiri yaitu Sirr al-Asrar, bukan hanya untuk menahan diri dari makan, minum, dan bersetubuh serta apa saja yang mampu membatalkan puasa, akan tetapi puasa juga diartikan sebagai mekanisme menjaga anggota tubuh secara zahir maupun batin.

Syekh Abdul Qadir mengacu pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah pada kitab Sunan Ibnu Majah, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ رَافِعٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَ العَطش

Amr ibn rafi’ menceritakan kepada kami, dari Abdullah ibn al-Mubarak, dari Usamah ibn Zaid, dari Sa’id al-Maqburiy, dari Abi Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: banyak orang-orang yang melakukan puasa tetapi tidak mendapatkan nilai dari puasanya rasa  lapar dan dahaga. (HR. Ibnu Majah).

Dari hadis tersebut, dapat diambil, bahwa puasa secara lahiriah bukan hanya untuk menahan lapar dan haus, akan tetapi juga menahan dan menjaga dari sifat batiniyyah seperti tidak melakukan pekerjaan yang dilarang oleh Allah SWT.

Jika keduanya mampu diterapkan pada perbuatan ibadah puasa Ramadhan, baik dari segi lahiriah dan batiniyah, maka efek puasa pasca Ramadhan akan terasa terus menerus sehingg menjadi pribadi yang lebih baik. Menurut Syekh Abdul Qadir ibadah bukan hanya tentang tata cara pelaksanaannya saja atau yang menyebabkan ibadah menjadi batal serta menjauhi larangan, namun ibadah dapat juga makhluk Allah yang mampu berada mencapai maqam (tingkat) kedekatan terhadap Allah. Dengan begitu tidak ada lagi ibadah yang dianggap sebagai kewajiban yang membebankan, akan tetapi merupakan kenikmatan.

Baca Juga :  Empat Syarat Boleh Rujuk Setelah Cerai

Sebab, jika perbuatan batiniyah tidak diterapkan dalam puasa, akan dikwatirkan perbuatan puasa secara lahiriyah sewaktu-waktu dapat terjadi pembatalan. Karena menurut Syekh Abul Qadir, berpuasa secara lahiriah dan batiniah dapat menjaga penyakit hati, seperti halnya riya’, sombong, iri dengki, putus asa dan lain sebagainya.

Selama ini Syekh Abdul Qadir memang dikenal sebagai ulama yang mempunyai dimensi berfikir yang mendalam terkait ibadah, sehingga mampu mengantarkan manusia menuju interaksi kedekatan dengan Allah SWT melalui perantara kenikmatan ibadah yang dilakukannya.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here