Puasa Membentuk Karakter Berkualitas

0
340

BincangSyariah.Com –Allah Swt berfirman yang artinya: Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS Al-Mâ‘idah [5]: 8)

Dalam menjalankan perintah ibadah puasa, kita di­tuntut untuk dapat memahami secara benar mak­sud dan tujuan diwajibkannya berpua­sa. Atau, de­ngan kata lain, dalam menjalankan perintah ibadah puasa hen­daknya sikap kita harus selalu diliputi oleh pemahaman atau kesadaran akan tujuan perintah ibadah puasa (sense of objec­tive). Yang demikian itu agar ibadah puasa dapat men­­capai sasarannya, sesuai dengan yang direncanakan.

Sebagaimana kita ketahui bersama, hakikat tujuan di­pe­rin­tah­kannya ibadah berpuasa adalah seperti yang ditulis­kan dalam kitab suci Al-Quran yang berbunyi, Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana di­wa­jib­kan atas orang-orang sebe­lum kamu agar kamu bertak­wa (QS Al-Baqarah [2]: 183).

Dari pemahaman ayat Al-Quran tersebut, dapat dengan jelas kita tangkap bahwa puasa dimaksudkan sebagai in­stru­men atau alat untuk mencapai derajat ketakwaan. Jadi, jangan sampai orang kemudian menjalankan perintah pua­sa hanya sampai pada tingkat atas batas instrumen itu.

Oleh karenanya, dalam hal ini kiranya amat penting di­­sing­gung bahwa kata “takwa” mengandung pengertian ta­­kut, melindungi (protection), memelihara, menjaga (guard­ing). Adapun takwa dalam pengertian yang lebih mewakili ada­lah gambaran sikap dan kesadaran akan kehadiran Tu­han (God-consiousness) dan bahwa Tuhan ada di mana-mana (om­ni­present), Maha Mengetahui, (omniscient) dan Mahakua­sa. Dengan sendirinya, makna takwa identik dengan istilah yang populer di kalangan kita, yakni pengawasan diri secara me­lekat.

Adapun ayat-ayat lain dalam Al-Quran yang memerin­tah­kan kita selalu mendekatkan diri kepada Allah Swt. seba­gai simbol kedeka­tan adalah seperti yang berbunyi, Dia ber­sama kamu di mana saja kamu berada (QS Al-Hadîd [57]: 4).

Berkaitan dengan amalan ibadah puasa, sering dikutip oleh para mubaligh kita sebuah hadis qudsi yang berbunyi, Se­sungguhnya puasa itu milik-Ku (Allah), maka Akulah yang akan memberikan balasannya.

Dari hadis qudsi tersebut dapat dipahami bahwa se­sung­guh­nya amalan ibadah puasa itu mengandung nilai-nilai misterius dan hanya Allah Swt. sajalah yang tahu apa­kah seseorang berpuasa atau tidak, atau bagaimana kualitas puasanya. Kemudian dapat ditarik kesimpulan bahwa iba­dah puasa sungguh berbeda dengan ibadah-ibadah lain ka­rena ibadah-ibadah lain, itu bersifat kasatmata, seperti hal­nya ibadah shalat, zakat, atau ibadah haji. Bahkan, ibadah haji selalu disertai acara atau upacara mengantarkan dan menjemput, dan bahkan di desa hampir semua penduduk ikut serta.

Namun begitu, sebenarnya, implikasi menjalankan iba­dah puasa pada akhirnya juga akan dapat dilihat dengan ma­­ta apabila ibadah tersebut dijalankan dengan penuh peng­­hayatan yang tulus dan ikhlas. Puasa berimplikasi ver­tikal, sebuah ritual yang bersifat sangat pribadi, seperti yang dika­ta­­kan dalam hadis qudsi tadi, sehingga hanya seorang ham­ba dengan Tu­hannya yang mengetahui apakah ia be­nar-be­nar menjalankan puasa atau hanya sekadar ikut-ikut­an atau bahkan hanya main-main, pura-pura berpuasa di depan publik. Ibadah puasa pun berimplikasi horizontal, yak­ni mem­­­­­­­­berikan dorongan atau motivasi kepada se­se­orang agar mampu mencerminkan sikap-sikap sebagai pri­ba­di yang men­­­jalankan perintah berpuasa.

Puasa mengajarkan seseorang untuk selalu bersikap tu­lus dan jujur. Jujur kepada diri sendiri dan kepada orang lain. Kejujuran adalah dimensi moral dan akhlak yang sa­ngat penting. Dan kejujuran merupakan modal utama da­lam menjalani segala aktivitas kehidupan. Adapun kebalikan kejujuran adalah berdusta atau berbohong. Berbohong ada­lah, seper­ti yang diilustrasikan Rasulullah Saw. sikap tak ber­moral dan berakhlak. Itulah sebabnya, dalam kehidupan sehari-hari, orang yang tidak jujur dikatakan sebagai orang yang tidak bermor­al dan berakhlak.

Baca Juga :  Tafsir: Islam sebagai Agama Hanif

Sebuah hadis Rasulullah yang sering kita dengar meng­ingatkan bahwa sesungguhnya bohong atau dusta adalah ti­tik tolak atau pangkal seluruh perbuatan dosa, seperti da­lam sebuah hadis dikatakan, “Pangkal segala dosa adalah dus­ta.”

Berkenaan dengan problem dusta ini, ada gambaran kari­katu­ral. Diceritakan bahwa ada seorang Arab Badui da­tang menghadap kepada Rasulullah dan ingin memeluk Is­lam. Ia mengungkapkan segala perilakunya dengan penuh ke­­jujuran dan keterbukaan. Dikatakan kepada Rasulullah Saw. bahwa dirinya sulit meninggalkan perbuatan tercela atau tidak bermoral dan berakhlak, seperti mencuri, main pe­rempuan, dan tidak segan-segan membunuh. Orang Ba­dui tadi berharap, Rasulullah Saw. mem­beri nasihat yang pan­­­­jang lebar atau banyak agar dapat membim­bingnya ke jalan yang benar. Akan tetapi, di luar dugaannya, ternyata Ra­sulullah Saw. hanya berpesan sederhana, sangat pendek, yakni beliau hanya meminta ia tidak berdusta. Orang Badui tadi, setelah menghadap Rasulullah kemudian kembali, ber­pikiran bahwa alangkah ringannya perintah dan persyarat­an Rasulullah Saw. ini: dua patah kata saja, “… jangan ber­dus­ta.”

Namun anehnya, setelah itu, setiap kali akan melaku­kan perbuatan dosa, ia selalu teringat permintaan Rasulul­lah yang singkat, jangan berdusta. Di dalam hatinya selalu ter­betik, kalau saya berbuat dosa, kemudian bertemu Ra­sulul­lah dan beliau bertan­ya tentang perbuatan saya, bagai­mana saya harus menjawab? Pada­hal, beliau meminta saya agar tidak berdusta. Meski begitu, setelah melakukan usaha yang keras, akhirnya orang Badui tadi berhasil mencapai ke­iman­an dengan meninggalkan dusta.

Ternyata, hakikat keimanan jauh dari itu. Seseorang yang melakukan dosa yang diakibatkan oleh dusta, sebagai­mana dikatakan bahwa pangkal dosa adalah dusta, oleh pa­ra ulama salaf dikatakan sama saja dengan kafir. Hal yang demikian paralel dengan sebuah hadis yang sangat populer di kalangan salaf, yang menyatakan bahwa seseorang yang beriman, tidaklah beriman ketika ia melaku­kan kejahatan, baik mencuri, berzina, maupun mabuk-mabukan dan seba­­gai­nya. Ini karena, saat melakukan kejahatan, dengan sen­dir­i­nya ia kufur, yakni menutup kesadaran dirinya bahwa Allah Swt. ada dan selalu mengawasi dan mengetahui segala perbua­tan kita.

Dengan begitu, secara otomatis, siapa saja yang melaku­kan dosa dan kemudian mati pada saat sedang melakukan dosa, ia akan mati dalam keadaan kafir. Orang mencuri, ke­­mudian meninggal, dapat dikatakan kafir. Orang yang me­lakukan korupsi kemudian mati, maka ia kafir, dan sete­rus­nya.

Kafir artinya pengingkaran atau tidak mengakui bahwa Tuhan itu ada, bahwa Tuhan Maha Mengetahui dan Mende­ngar. Dengan ber­buat dosa, meski orang beriman, ia dikata­kan kafir karena saat melakukan dosa tersebut dengan sen­diri­nya, ia berkeyakinan bahwa Tuhan tidak melihatnya. Tu­han tidak mendengar. Berkaitan dengan kasus tersebut kita terus dianjurkan oleh Rasulullah Saw. agar selalu berdoa ke­pada Allah Swt. sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Fâtihah, yang berbunyi, Ya Allah, tunjukkanlah kami jalan yang lurus (QS Al-Fâtihah [1]: 6).

Baca Juga :  Ini Tiga Orang yang Dijauhi Rasulullah di Hari Kiamat

Kejujuran, sebagaimana digambarkan oleh Rasu­lullah Saw., adalah perwujudan sikap takwa dan akhlak karimah atau budi luhur. Rasulullah sendiri, sebagai contoh dan tela­dan orang beriman, dengan kejujurannya dinyatakan seba­gai priba­di yang bermoral dan berakhlak tinggi, noble para­gon, seperti yang diakui oleh Al-Quran, Dan sesungguhnya ka­mu benar-benar berbudi pekerti yang agung (QS Al-Qalam [68]: 4).

Dalam kehidupan sehari-hari, kejujuran Rasulullah Saw. tidak saja diakui oleh orang-orang beriman, tetapi juga oleh mu­suh-musuh beliau, yakni kalangan orang-orang kafir Qu­raisy khususnya. Dan inilah, barangkali, alasan Rasulullah Saw. ketika hijrah ke kota Madinah, justru beliau yang paling akhir. Ini bukan saja alasan yang sangat logis bahwa Rasulul­lah sebagai seorang nakhoda harus meninggalkan kapal pa­ling akhir, melainkan juga karena kenyataan bahwa pada sa­at itu Rasulullah dipercaya tidak saja oleh orang yang su­dah masuk Islam, tetapi juga oleh orang-orang kafir Quraisy. Atau dalam istilah populer sekarang, sa­at itu Rasulullah juga pada po­sisi sebagai seorang bankir yang teper­caya. Dengan sendirinya, ba­­nyak tugas yang harus disele­sai­kan sebelum berhijrah, antara lain Rasulullah Saw. harus meng­urus barang-barang orang Islam yang sudah berhijrah terlebih da­hulu, dan juga mengurus benda-benda titipan milik orang-orang kafir Quraisy.

Takwa, di samping meng­ajar­kan kepada kita keharusan memiliki ketulusan dan kejujur­an, di sisi lain juga mengandung im­plikasi moral atau akhlak kari­mah, budi pekerti yang luhur, se­ba­gai wujud dimensi kemanusia­an. Dalam sebuah kitab hadis yang masyhur di kalangan orang salaf, yakni kitab Bulughul Ma­ram, dikatakan bahwa sesung­guh­nya yang banyak membuat orang bisa masuk surga adalah takwa dan budi pekerti yang luhur. Hal ini sebagaimana di­sab­da­kan, “Yang banyak memasukkan orang ke dalam surga adalah takwa dan budi pekerti luhur.”

Keimanan dan ketakwaan memang menjadi urusan yang sangat pribadi dari dimensi vertikal sebuah ritual, na­mun keimanan dan ketakwaan yang benar juga akan memi­liki implikasi sosial. Dan, perintah ibadah puasa yang bertu­ju­an sebagai sarana untuk mengan­tarkan manusia ke dera­jat takwa, dalam arti sesungguhnya, juga tidak bisa dipisah­kan begitu saja dari dimensi konsekuensialnya yang berupa amal saleh, atau dalam istilah kontemporer dinamakan kerja sosial.

Diriwayatkan dalam sebuah hadis yang amat terkenal berkaitan dengan amalan ibadah puasa memiliki implikasi sosial, “Banyak orang menjalankan ibadah puasa tetapi tidak men­dapatkan sesuatu dari puasanya melainkan lapar dan da­haga.”

Dengan demikian, ibadah puasa tidak dimaksudkan sebagai ritual pribadi semata, dalam wujud menahan diri dari makan, minum, dan seks, tetapi juga menjadi pelatihan pe­ngenda­lian diri yang memiliki konsekuensial sangat penting, yakni memunculkan kondisi psikologis berupa ke­sadaran diri yang berwu­jud komitmen sosial. Rasa empati, yakni kondisi psikologis ikut merasakan yang dirasakan oleh orang lain.

Dalam Al-Quran juga ada teguran kepada orang yang men­jalan­kan amalan yang berdimensi vertikal tapi tidak di­imbangi oleh dimensi horizontal. Mereka itu dalam idiom Al-Quran disebut sebagai orang yang mendustakan agama, se­perti yang berbunyi, Tahukah kamu (orang) yang mendusta­kan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan ti­dak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka cela­ka­lah orang yang shalat, yakni orang yang lalai dari shalatnya (QS Al-Mâ‘ûn [107]: 1-5).

Baca Juga :  Benarkah Tidak Membasuh Air Seni dengan Bersih Merupakan Penyebab Siksa Kubur?

Kita barangkali justru dibuat heran atau bahkan ter­ke­jut dengan pernyataan Al-Quran tentang orang yang sudah mendirikan shalat, tapi justru masih dinyatakan sebagai orang yang mendusta­kan agama. Ini ternyata berkaitan erat dengan pemahaman substan­si dalam mendirikan shalat. Ia mendirikan shalat hanya sebagai ritual pribadi dan tidak di­iri­ngi oleh dimensi konsekuensialnya, yakni amal saleh.

Adapun amal saleh yang dimaksudkan dalam ayat tadi disimbo­lisasikan dengan keyatiman dan kemiskinan. Untuk sekarang ini, orang yang menjalankan shalat tapi masih di­ku­tuk oleh Al-Quran adalah yang tidak menjalankan dan meng­indahkan pesan-pesan kema­nusiaan yang terdapat da­lam shalat (yaitu pekerjaan-pekerjaan sosial, social works). Ternyata, dalam Islam orang tidak cukup hanya menjaga ke­salehan pribadi dengan menjalankan perintah agama te­tapi kosong dan hampa dari dimensi konsekuensialnya tadi. Dan contoh dimensi konsekuensial perintah ibadah puasa adalah seperti yang dinyatakan oleh kitab suci Al-Quran sen­diri, yakni menyantuni dan menolong orang yang berada da­lam kesusahan (dzâ matrabah [homeless]), orang yang berkalang tanah. Dan ini banyak sekali.

Kemiskinan yang ada sekarang menuntut dilakukan­nya amal saleh yang berupa upaya atau langkah-langkah mem­bantu mereka melepaskan diri dari belenggu kemiskin­an struktural. Pengertian struktural adalah sebuah peng­gam­bar­an kemiskinan yang orang miskin tidak dapat lagi me­lepaskan dirinya dari lingkaran struk­tur yang menjadikan ia miskin.

Dari situ kemudian dapat ditarik kesimpulan bahwa un­tuk dapat hidup sukses sejalan dengan perspektif Al-Quran, ada empat faktor yang ditawarkan oleh Al-Quran seperti yang terkandung dalam Surah Al-‘Ashr. Faktor pertama ada­lah mengajarkan bahwa agar berhasil dalam menjalani kehi­dup­an ini, seseorang harus dapat menghormati waktu. Meng­hormati waktu berarti mengatur dan mengelola serta me­man­faatkan waktu untuk beribadah dalam penger­tian yang luas sebaik-baiknya. Kedua, harus beriman secara be­nar. Ketiga, se­seorang harus mampu melakukan amal saleh atau kerja sosial karena hampir keseluruhan ibadah dalam Islam selalu dibar­engi dimensi konsekuensial. Dan yang ke­empat, sese­orang harus mengikuti sebuah mekanisme sosial yang ada, berupa kontrol so­sial, yang di sini disebut sikap wa­tawâ ’l-shawb-i ’l-haqq-i wata­wâ ’l-shawb-i ’l-shabr-i atau sa­ling meng­ingat­kan dalam kebenaran dan kesabaran.

Adanya kontrol sosial yang berwujud tanggung jawab untuk saling mengingatkan dimaksudkan dalam rangka men­capai derajat ketakwaan yang lebih tinggi. Kontrol sosial sering berupa kritik, teguran, dan saran, dan tentunya bu­kanlah kritik atau teguran yang dilatarbelakangi oleh kepen­ting­an pribadi (vested-interest), melainkan dalam rangka men­­cari kebenaran.

Seperti kita ketahui bersama, manusia itu sering sekali menjadi tawanan dirinya karena ketidakmampuan dia me­le­paskan atau menyelamatkan diri dari dorongan hawa naf­su (vested-interest). Pada posisi yang demikian itu, dia tidak lagi mampu melepaskan diri dari kungkungan kepentingan dan posisi dirinya. Kalau sudah menjadi tawanan kepenting­an dan posisi dirinya, seseorang akan sulit dan tidak mampu lagi membedakan yang benar dan yang salah. Kondisi yang merugikan diri itu kemudian sering diistilahkan sebagai became a captive of here and now. Dan, inilah hakikat perintah berpuasa. Diharapkan, berpuasa secara benar akan dapat mem­­be­baskan manusia dari tawanan diri dan keki­niannya itu.[]

 

Dikutip dari buku 30 SAJIAN RUHANI RENUNGAN DI BULAN RAMADLAN
Karya Dr. Nurcholish Madjid



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here