Spirit Puasa pada Pembangunan Etika Sosial

0
433

Allah Swt berfirman, yang artinya:

Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. (QS Yûsuf [12]: 87)

Ibadah puasa—sebagaimana yang diperintahkan dalam kitab suci Al-Quran, dimaksudkan sebagai latihan pe­ngen­dalian jiwa agar dapat mencapai derajat ketakwaan yang lebih tinggi. Takwa sebagai kondisi kejiwaan, meng­ha­yati kehadiran Tuhan dalam setiap aktivitas hidup—seba­gai­­mana kita ketahui—sudah pasti tidak dapat dijustifikasi atau dihukumi karena sifatnya yang ruhaniah. Juga pada ting­katan tertentu, dengan tanpa disadari, takwa telah meng­ajar­kan kesabaran kepada kita.

Takwa dalam pengertiannya yang lebih luas adalah pe­ngenda­lian diri, yang juga sebenarnya berarti kemampuan menunda kese­nangan yang bersifat kekinian atau sesaat de­mi mendapatkan keba­hagiaan yang sesungguhnya, yakni kebahagiaan ruhaniah. Dengan begitu, takwa juga dapat di­­­­­pahami sebagai sikap berpengharapan terhadap masa de­pan, yakni dengan mengendalikan diri menunda kesenang­an duniawi demi kesenangan akhirat yang lebih abadi. Dalam dimensi absolut, takwa adalah seperti yang pernah di­singgung dalam pembahasan sebelumnya, yakni kemam­pu­an melepaskan diri dari tawanan dirinya, dari belenggu ke­­kinian dan kesekarangan, captive of here and now, yang da­­­­pat memperdaya manusia untuk memahami hakikat ke­diriannya. Ilustrasi takwa dalam artian yang sesungguhnya adalah mirip dengan yang dilakukan oleh orang-orang yang berpikiran modern atau mempersiapkan masa depan de­ngan jalan menabung.

Menabung dalam arti tradisional mungkin hanya be­rupa tin­dakan menyimpan barang atau uang di bawah ban­tal atau tempat tidur. Sikap demikian itu, meski dalam ben­tuk yang masih tradi­sional, tetap merupakan sebuah wujud dari upaya mengendalikan diri demi masa depan. Untuk ke­­­­pentingan masa depan, dengan sendirinya, ia harus mam­pu menunda kesenangan masa kini. Dalam masyarakat mo­dern, ilustrasi sikap berorientasi kepada masa depan diwu­jud­­­kan dengan menabung di bank-bank yang di dalamnya di­­­perkenalkan sistem bunga. Dengan demikian, dapat disim­pul­kan bahwa sikap menunda kesenangan untuk masa yang akan datang adalah sebuah contoh dari sikap produktif. De­ngan begitu, dimensi takwa juga merupakan latihan sikap pro­duktif.

Berkenaan dengan anjuran memperhatikan masa de­pan, Islam telah mengajarkan kepada orang beriman agar dalam hidup tidak terjebak oleh hal-hal yang bersifat semen­tara, kekinian. Seba­liknya, Islam menekankan adanya keba­ha­gia­an yang bersifat sempur­na, yakni masa depan dan pa­da batasan yang paling ekstrem adalah akhirat. Sebagai­mana dalam sebuah hadis Nabi yang sangat terkenal dikata­kan, “Jagalah lima sebelum datangnya lima. Jagalah hidupmu se­belum matimu, jagalah sehatmu sebelum sakitmu, jagalah wak­tu senggangmu sebelum sempitmu, jagalah masa mudamu se­belum masa tuamu, dan jagalah kayamu sebelum miskinmu.”

Pandangan hidup yang benar, sebagaimana dinyatakan sen­diri oleh Al-Quran, adalah takwa yang harus terus diupa­ya­kan agar menjadi gerakan moral sosial (social morality), se­hingga takwa yang pada mulanya hanyalah menjadi urus­an pribadi, berubah menjadi persoalan masyarakat atau tang­­­­­gung jawab sosial. Seperti kita ketahui dan kita bicara­kan sebelumnya, akhlak—sebagai perwujudan takwa—me­ru­pakan pijakan atau fondasi bagi berdiri dan tegaknya sua­tu bangsa. Dan yang demikian itu sudah dibuktikan, tidak saja berkenaan dengan umat Islam, tapi juga umat-umat yang lain, seperti yang terjadi dengan bangsa Romawi, Yuna­ni, India dan sebagainya yang pernah mencapai kejayaan dan memimpin peradaban dunia karena berpegang pada ak­h­lak. Dan mereka mengalami kejatuhan karena meng­abai­kan akhlak.

Dengan demikian, sekali lagi perlu diingat, masalah atau prob­lem akhlak adalah universal, ber­laku kepada siapa saja, tanpa me­­­man­dang Muslim dan bukan Mus­lim. Dan ini telah menjadi sun­natul­lah. Hadis yang menje­las­kan tentang perlunya melesta­ri­kan akhlak atau moral yang tinggi adalah sebagaimana yang sering dikutip oleh ulama besar Bu­ya Hamka, yang berbunyi, “Se­sung­guhnya tegakn­ya suatu umat atau bangsa adalah kalau mereka me­megang tinggi akhlak, dan jika akhlak ditinggalkan, umat pun akan hancur.”

Takwa dengan budi pekerti yang tinggi sebagai perwujudan­nya harus terus dilestarikan se­hing­ga lambat-laun menjadi eti­ka sosial, social ethic. Berkenaan dengan pentingnya peran akhlak dalam masyarakat dapat terlihat me­lalui praktik yang terjadi di ne­­­g­ara-negara yang tergolong ne­gara industri baru di Asia Timur. Di negara-negara tersebut, akhlak menjadi etika sosial ka­re­na mampu mempertahankan semangat Konfusiannya. Dan, berkenaan dengan kegigihan memperta­hankan keting­gian moral, Amerika Serikat—sebuah negara yang terkenal dengan masyarakatnya yang sekular dan sangat longgar de­ngan ikatan moral, dengan budaya permisifnya—ternyata sa­­ngat kuat dalam mempertahan­kan moral, khususnya ber­­kenaan dalam memilih pemimpin mereka.

Sebagai contoh adalah kasus yang menimpa mantan Pre­­­si­den Ronald Reagan. Ronald Reagan mengalami kesulit­an politik karena terbongkar skandalnya—dari kata scanda­lous yang berarti perbua­tan yang membuat aib atau malu—yak­ni membuat katebelece, surat sakti bagi anaknya untuk masuk perguruan tinggi. Padahal, surat sakti yang ditulis itu hanya di atas kertas tak berkop. Juga yang menimpa Pre­si­den Bill Clinton berkenaan dengan skandal keuangan yang dilakukan bersama istrinya saat menjadi gubernur di Arkan­sas. Dan, tentunya, yang sangat populer dan menghebohkan ada­­­lah kasus yang menimpa Garry Hart, seorang calon pre­siden Amerika yang reputasinya jatuh total hanya karena diri­nya mempunyai wanita simpanan bernama Donna Rice, seorang foto model terkenal.

Berkaitan dengan kasus tersebut, barangkali, cukup me­­­narik untuk diketahui jawaban yang diberikan oleh se­orang ibu yang sudah tua saat diwawancarai harian Wa­shing­t­on Post menanggapi kasus skandal wanita yang menim­pa Garry Hart. Dia mengatakan, “Bagi kita, mungkin memi­li­ki wanita simpanan dan berbohong tidak menjadi problem. Akan tetapi, bila seorang pemimpin berbohong, tentu saja rak­­­­­­yat akan menjadi korban.”

Dari kasus-kasus yang sangat sepele yang terjadi di se­buah negara sekular, yang terkenal dengan longgarnya ikat­an moral, justru mereka telah membuat standar moral yang sa­ngat ketat untuk seorang pemimpin. Ini sungguh luar bia­sa. Moral yang tinggi sangat penting dan ini dapat dicapai dengan melatih diri lewat latihan secara kontinu dengan me­­ngen­dalikan hawa nafsunya, seba­gaimana yang diajarkan oleh Islam selama bulan puasa. Moral harus ditegakkan se­hingga moral benar-benar menjadi kekuatan hidup. Jangan sampai hal-hal yang tidak benar karena political culture, atau po­litik kebudayaan yang sudah kuat dan memasyarakat, ke­mudian dipandang benar.

Dalam kasus ini, diperlukan kehadiran orang-orang un­tuk menjadi pelopor gerakan moral (path finder atau al-sâbiq-ûn al-awwal-ûn), yakni orang-orang yang terus menganjurkan dan memberikan contoh berkenaan dengan moral atau akh­lak mulia. Mereka ini adalah orang-orang yang mampu men­tran­sen­denkan dirinya, atau mampu menarik dirinya dari je­bak­an. Meski jumlah mereka sedikit, dan terkadang kalah, perlu diyakini bahwa orang yang memperjuang­kan tegak­nya moral atau akhlak itu menang secara moral.

Menghadapi era globalisasi, yang lebih dikenal dengan era global-village, atau desa buana, arti penting moral sebagai landasan yang universal perlu disebarluaskan dan dimasyara­kat­kan. Perspektif atau pemahaman globalisasi yang ada sekarang ini sebe­narnya lebih tepat dikatakan sebagai gerak­an Amerikanisasi, yang konotasinya, sesungguhnya, lebih ba­nyak pada hal-hal yang bersi­fat lahiriah atau material.

Globalisasi dalam perspektif Islam, pada sisi lain, justru ditekankan pada arti penting universalisme nilai-nilai tran­sen­den seperti moral, kebenaran, keadilan, dan kejujuran. Un­tuk itu, kita, umat Islam, harus menyiapkan dan mena­nam­kan moral atau akhlak yang tinggi kepada generasi mu­da serta memberikan harapan-harapan positif sejalan de­ngan pengertian takwa di atas. Era globalisasi, yang dikata­kan di dalamnya terjadi persaingan yang sangat ketat, tidak boleh menjadikan generasi muda pesimis karena moral atau akhlak juga merupakan hal yang lebih penting. Selain itu, per­lu pula dikembangkan cara berpikir mereka yang benar bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya adalah kebahagia­an ruhaniah atau kondisi batin (state of mind).

Sikap berputus asa atau putus harapan—seperti yang di­kata­­kan dalam kitab suci Al-Quran, … dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum kafir (QS Yûsuf [12]: 87)—menjadi ciri orang kafir yang tidak mempercayai ke­besaran dan kekuasaan Allah Swt. Perlu ditanamkan sikap berpengharapan mela­lui bersyukur. Bersyukur mengan­dung pengertian berprasangka positif terhadap Allah Swt. bah­wa Allah pasti dapat melakukan apa saja yang Dia ke­hendaki. Dan, dengan sikap syukur tersebut, sebe­narnya jus­tru kita sedang mendapatkan tambahan rahmat, seperti dikatakan dalam Al-Quran, Dan ingatlah tatkala Tuhanmu me­­­­mak­lum­kan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah­kan (nikmat) kepadamu, dan jika kamu meng­ingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS Ibrâhîm [14]: 7).[]

100%

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here